Showing posts with label PANDANGAN ISLAM CARI JODOH DUNIA MAYA. Show all posts
Showing posts with label PANDANGAN ISLAM CARI JODOH DUNIA MAYA. Show all posts

Saturday, July 7, 2018

Maraknya Zina Di Hari Valentine

Hari valentine bagi pemuda-pemudi barat tidak lepas dari hubungan seks, baik pra nikah maupun pasca nikah. Padahal hubungan seks pra-nikah adalah perbuatan zina yang sangat menjijikan dan merupakan dosa besar.

Hari Valentine dan Zina

Tahukah anda bahwa hari Valentine bagi sebagian pemuda-pemudi barat adalah hari yang spesial sehingga mereka berharap bisa melakukan hubungan seks pertama kali di hari itu? Bahkan hari valentine bagi mereka tidak lepas dari pembicaraan mengenai hubungan seks. Dengan mudah anda bisa membaca “rahasia umum” ini dari bahasa-bahasa menjijikkan mereka di social media seputar hari valentine. Bahkan statistia.com merilis bahwa 32% responden mereka yang merupakan warga Amerika berusia 18 tahun ke atas, menyatakan berniat untuk melakukan hubungan seks di hari Valentine1. Masih dari situs statistia.com, bahwa 16% responden yang berstatus lajang, berniat untuk melakukan hubungan seksual dan 59% responden yang berstatus berpacaran juga demikian2. Angka-angka ini menunjukkan betapa hari Valentine tidak lepas dari budaya zina. Allahul musta’an!

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Munajjid menyebutkan:

عيد الحب عيد روماني جاهلي ، استمر الاحتفال به حتى بعد دخول الرومان في النصرانية ، وارتبط العيد بالقس المعروف باسم فالنتاين الذي حكم عليه بالإعدام في 14 فبراير عام 270 ميلادي ، ولا زال هذا العيد يحتفل به الكفار ، ويشيعون فيه الفاحشة والمنكر

“Hari Valentine adalah hari raya bangsa Romawi jahiliah. Hari tersebut terus berlangsung hingga masuknya bangsa Romawi ke dalam agama Nashrani. Hari ini dikaitkan dengan seorang pastur yang bernama Valentine yang dihukum mati pada tanggal 14 Februari 270M. Hingga kini hari tersebut masih dirayakan orang-orang kafir dan mereka sebarkan perbuatan fahisyah (zina) serta berbagai kemungkaran di dalamnya”

Nahasnya, budaya zina ini mulai ditiru oleh pemuda-pemudi Islam. Awalnya mereka sekedar meniru perayaan hari Valentine saja dengan mengadakan perayaan-perayaan, membagi hadiah dan semacamnya. Namun lambat laun mereka juga meniru budaya zina di hari Valentine.

Besarnya dosa zina

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al Isra: 32).

Tingkat fatalitas zina dalam ayat ini bisa kita ketahui dari beberapa poin:

Penggunaan kata “jangan dekati” ini menunjukkan kerasnya larangan berzina karena mencakup juga semua hal-hal yang bisa menjerumuskan kepada zina. Maka semua hal yang bisa menjerumuskan kepada zina itu terlarang.
Zina disebut sebagai fahisyah yaitu dosa yang sangat buruk karena dipandang buruk oleh syariat, oleh akal dan oleh fitrah yang lurus. Karena dengan melakukan zina maka ia telah melanggar hak Allah, melanggar hak wanita dan suaminya, merusak rumah tangga, mengacaukan nasab dan kerusakan yang lainnya
Zina disebut sebagai “jalan yang buruk”, yaitu maknanya dosa yang besar.
(Taisir Karimirrahman, Syaikh As Sa’di).

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, beliau berkata:

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الذَّنْبِ عِنْدَ اللَّهِ أَكْبَرُ قَالَ أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ أَنْ تُزَانِيَ بِحَلِيلَةِ جَارِكَ

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ditanya: “dosa apa yang paling besar di sisi Allah?” Beliau menjawab: “engkau menjadikan tandingan bagi Allah (baca: berbuat syirik) padahal Ia yang menciptakanmu”. Ibnu Mas’ud bertanya: “lalu apa lagi?”. Beliau menjawab: “Engkau membunuh anakmu karena takut ia makan bersamamu”. Ibnu Mas’ud bertanya: “lalu apa lagi? Beliau menjawab: “engkau berzina dengan istri tetanggamu“” (HR. Al Bukhari no. 4483).

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

لا يزني الزاني حين يزني وهو مؤمن

“Pezina tidak dikatakan mukmin ketika ia berzina” (HR. Bukhari no. 2475, Muslim no.57).

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata:

الإيمان نزه فمن زنا فارقه الإيمان ، فمن لام نفسه وراجع راجعه الإيمان

“Iman itu suci. Orang yang berzina, iman meninggalkannya. Jika ia menyesal dan bertaubat, imannya kembali” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Syu’abul Iman, di-shahihkan Al Albani dalam Takhrij Al Iman, 16).

Pelaku zina, hukumannya dicambuk atau dirajam

Karena sangat keji dan buruknya perbuatan zina, hukuman bagi pelaku zina pun sangat mengerikan dan menyakitkan. Agar manusia menjauh sejauh-jauhnya dari perbuatan ini. Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an Al Karim:

الزَّانِيَة وَالزَّانِي فاجلدوا كل وَاحِد مِنْهُمَا مائَة جلدَة وَلَا تأخذكم بهما رأفة فِي دين الله إِن كُنْتُم تؤمنون بِاللَّه وَالْيَوْم الآخر وليشهد عذابهما طَائِفَة من الْمُؤمنِينَ

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka cambuklah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali cambukan, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman” (QS. An Nur: 2).

Hukuman yang disebutkan ayat ini adalah bagi pezina yang belum menikah dan belum pernah menikah. Adapun bagi muhshan, orang yang sudah pernah menikah walaupun sekali, jika berzina maka hukumannya adalah dirajam sampai mati. Imam Adz Dzahabi Asy Syafi’i mengatakan:

قَالَ الْعلمَاء هَذَا عَذَاب الزَّانِيَة وَالزَّانِي فِي الدُّنْيَا إِذا كَانَا عزبين غير متزوجين فَإِن كَانَا متزوجين أَو قد تزوجا وَلَو مرة فِي الْعُمر فَإِنَّهُمَا يرجمان بِالْحِجَارَةِ إِلَى أَن يموتا

“Para ulama mengatakan ini (cambukan) adalah hukuman bagi pezina laki-laki maupun pezina perempuan di dunia. Namun jika mereka berdua masing-masing sudah menikah, atau pernah menikah walaupun hanya sekali, maka hukumannya adalah dirajam sampai mati” (Al Kabair, 50).

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu beliau berkata,

أن رجلاً من أسلمَ، جاء النبيَّ صلى الله عليه وسلم فاعترف بالزنا، فأعرض عنه النبيُّ صلى الله عليه وسلم حتى شَهِدَ على نفسِه أربعَ مراتٍ، قال له النبيُّ صلى الله عليه وسلم:أبك جنونٌ؟ قال: لا، قال: آحصَنتَ؟. قال: نعم، فأمرَ به فرُجِمَ بالمصلى، فلما أذلقته الحجارةُ فرَّ، فأُدرِك فرُجِمَ حتى مات. فقال له النبيُّ صلى الله عليه وسلم خيرًا، وصلى عليه

“Ada seorang lelaki, yang sudah masuk Islam, datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengakui dirinya berbuat zina. Nabi berpaling darinya hingga lelaki tersebut mengaku sampai 4 kali. Kemudian beliau bertanya: ‘Apakah engkau gila?’. Ia menjawab: ‘Tidak’. Kemudian beliau bertanya lagi: ‘Apakah engkau pernah menikah?’. Ia menjawab: ‘Ya’. Kemudian beliau memerintah agar lelaki tersebut dirajam di lapangan. Ketika batu dilemparkan kepadanya, ia pun lari. Ia dikejar dan terus dirajam hingga mati. Kemudian Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengatakan hal yang baik tentangnya. Kemudian menshalatinya” (HR. Bukhari no. 6820).

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

لا يحل دم امرئ مسلم ، يشهد أن لا إله إلا الله وأني رسول الله ، إلا بإحدى ثلاث : النفس بالنفس ، والثيب الزاني ، والمفارق لدينه التارك للجماعة

“Seorang muslim yang bersyahadat tidak halal dibunuh, kecuali tiga jenis orang: ‘Pembunuh, orang yang sudah menikah lalu berzina, dan orang yang keluar dari Islam‘” (HR. Bukhari no. 6378, Muslim no. 1676)

Demikianlah ngerinya dosa zina, maka hukumannya pun berat dan ngeri. Namun pezina yang ditegakkan dihukuman atasnya, itu menjadi penghapus dosa zinanya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوقِبَ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ

“Barangsiapa yang melakukan salah satu dari itu (syirik, mencuri, berzina, membunuh anak) maka hukuman yang ditegakkan atasnya di dunia adalah kafarah (penghapus dosa) baginya” (HR. Al Bukhari no. 18).

Dan ditegakkannya hukuman demikian bagi pezina, merupakan perlindungan bagi keamanan dan kehormatan umat manusia. Syaikh Shalih Al Fauzan menjelaskan:

تطبيق الحدود فيها حماية؛ حمايةٌ للنفس، وحماية للعِرض، وحماية للمال، وحماية للأمن، أمن الجميع. وفيها حماية للمسلمين والضرورات الخمس التي هى: حفظ الدين، حفظ النفس، حفظ العِرض، حفظ المال،هذه هى الضرورات الخمس. وكل واحدة لها عقوبةً محددة، حتى يأمنَّ الناس على دمائهم وعلى أعراضِهم وعلى أموالهم، وكل حدود الله رحمة

“Penerapan hudud merupakan upaya perlindungan. Yaitu perlindungan bagi jiwa, kehormatan, harta serta sebagai penjagaan stabilitas keamanan masyarakat. Dan dalam penerapan hudud juga terdapat perlindungan bagi kaum Muslimin dalam dharuriyatul khams (lima perkara urgen), yaitu: penjagaan agama, penjagaan jiwa (nyawa), penjagaan kehormatan, penjagaan akal, dan penjagaan harta. Inilah dharuriyatul khams. Pelanggaran terhadap setiap poin ini terdapat hukuman tertentu. Sehingga terciptalah keamanan bagi darah manusia, kehormatan mereka, dan harta mereka. Setiap hudud yang Allah tetapkan itu merupakan rahmat”

Tentu saja yang berwenang menegakkan hukum ini adalah ulil amri atau orang yang mewakili ulil amri, bukan setiap orang.

Merebaknya zina merupakan sebab Allah timpakan bencana kepada suatu kaum

Allah Ta’ala berfirman:

كُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu krikil, dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur (halilintar), dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri” (Qs. Al-Ankabut: 40).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ما ظهرتِ الفاحشةُ في قومٍ قطُّ يعملُ بها فيهم علانيةً ؛ إلا ظهر فيهم الطاعونُ والأوجاعُ التي لم تكن في أسلافِهم

“Tidaklah merebak perbuatan fahisyah di suatu kaum secara yang dilakukan terang-terangan, kecuali akan menyebar di kaum tersebut penyakit tha’un, dan berbagai penyakit yang belum pernah menimpa orang-orang sebelum mereka” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 3/1225, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib no. 2187).

Dari Ummu Salamah radhiallahu’anha, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

إذا ظهرت المعاصي في أمتي، عَمَّهم بعذاب من عنده” . فقلت: يا رسول الله، أما فيهم أناس صالحون؟ قال: “بلى”، قالت: فكيف يصنع أولئك؟ قال: “يصيبهم ما أصاب الناس، ثم يصيرون إلى مغفرة من الله ورضوان“

“Jika maksiat telah menyebar diantara umatku, Allah akan menurunkan adzab secara umum”. Ummu Salamah bertanya: Wahai Rasulullah, bukankah di antara mereka ada orang shalih? Rasulullah menjawab: Ya. Ummu Salamah berkata: Mengapa mereka terkena juga? Rasulullah menjawab: Mereka terkena musibah yang sama sebagaimana yang lain, namun kelak mereka mendapatkan ampunan Allah dan ridha-Nya” (HR. Ahmad no.27355. Al Haitsami berkata: “Hadits ini ada 2 jalur riwayat, salah jalurnya diriwayatkan oleh para perawi yang shahih”, Majma Az Zawaid, 7/217).

Merebaknya zina merupakan tanda akhir zaman

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إن من أشراط الساعة : أن يرفع العلم ويثبت الجهل ، ويشرب الخمر ، ويظهر الزنا

“Tanda-tanda datangnya kiamat diantaranya: Ilmu agama mulai hilang, dan kebodohan terhadap agama merajalela, banyak orang minum khamr, dan banyak orang yang berzina terang-terangan” (HR. Bukhari no.80).

Tolak dan jauhi budaya Valentine

Telah jelas bagi kita bahwa perayaan Valentine bukan berasal dari Islam, bahkan berasal dari kaum kuffar. Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

من تشبه بقوم فهو منهم

“Orang yang menyerupai suatu kaum, ia bagian dari kaum tersebut” (HR. Abu Daud, 4031, di hasankan oleh Ibnu Hajar di Fathul Bari, 10/282, di shahihkan oleh Ahmad Syakir di ‘Umdatut Tafsir, 1/152).

Umar bin Khathab radhiallahu’anhu juga mengatakan:

اجْتَنِبُوا أَعْدَاءَ اللَّهِ فِي عِيدِهِمْ

“Jauhi perayaan hari-hari raya musuh-musuh Allah” (HR. Bukhari dalam At Tarikh Al Kabir no. 1804, dengan sanad hasan).

Ditambah lagi dengan kerusakan yang ada pada peringatan ini, yaitu budaya zina, semakin menambah lagi alasan untuk menolak dan menjauhi peringatan ini bagi seorang Muslim yang takut kepada Allah.

Syaikh Abdullah bin Jibrin mengatakan:

ما يترتب على ذلك من المفاسد والمحاذير كاللهو واللعب والغناء والزمر والأشر والبطر والسفور والتبرج واختلاط الرجال بالنساء أو بروز النساء أمام غير المحارم ونحو ذلك من المحرمات، أو ما هو وسيلة إلى الفواحش ومقدماتها، ولا يبرر ذلك ما يعلل به من التسلية والترفيه وما يزعمونه من التحفظ فإن ذلك غير صحيح، فعلى من نصح نفسه أن يبتعد عن الآثام ووسائلها

“Perayaan (hari valentine) ini mengandung berbagai kerusakan dan hal-hal yang dilarang syari’at, seperti perbuatan yang sia-sia, permainan yang sia-sia, nyanyian, musik, kesombongan, terbukanya aurat wanita, tabarruj (menampakkan keindahan wanita) di depan lelaki non mahram, campur baur antara laki-laki wanita, keluarnya wanita dari rumahnya tanpa mahramnya, dan perkara-perkara haram lainnya. Atau perayaan seperti ini juga menjadi sarana terjadinya zina dan hal-hal yang mendekati zina. Hal tersebut tidak dibenarkan hanya dengan alasan mencari hiburan dan selingan, serta pengakuan mereka bahwa mereka dapat menjaga diri mereka. Ini tidak dibenarkan. Maka siapa yang sayang terhadap dirinya, hendaknya dia menjauhi perbuatan dosa dan sarana-sarananya”

Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah dan taufik kepada kaum Muslimin kepada jalan yang lurus. Wallahu waliyyu dzalika wal qaadiru ‘alaihi.(al-Inaya/Mls)

Tuesday, July 3, 2018

10 Terapi Mabuk Cinta

Kata orang, cinta itu buta. Virus hati yang mengatasnamakan cinta ternyata telah menelan banyak korban. Sering kita dengar seorang remaja yang nekat bunuh diri karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Bahtera rumah tangga bisa hancur jika ada cinta terlarang di dalamnya. Ada pula cinta yang membinasakan dan sekaligus memalukan, yaitu mencintai kepada sesama jenis.

Cinta kepada orang lain yang didominasi karena syahwat disebut al ‘isyq. Jika hawa nafsu menuruti cinta ini akan terjerat dalam mabuk cinta. Ini adalahpenyakit. Jika tidak dibentengi oleh aturan syariat yang benar, cinta ini bisa menjadi mabuk cinta yang terlarang.  Mabuk cinta bisa menjangkiti siapa saja. Tidak hanya pemuda, bahkan mereka yang sudah berkeluarga. Berikut 10 terapi bagi orang sedang dimabuk cinta.

(1). Menikah

Jika memungkinkan bagi orang yang sedang mabuk cinta untuk meraih cinta pujaan hatinya dengan ketentuan syariat, maka inilah terapi yang paling utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

“ Wahaii sekalian pemuda, barangsiapa yang sudah mampu untuk menikah maka hendaklah dia segera menikah. Barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa karena puasa dapat menahan dirinya dari ketergelinciran perbuatan zina. ” (H.R Bukhari dan Muslim)

Hadits ini memberikan dua solusi, yaitu solusi utama dan solusi alternatif. Solusi petama adalah menikah. Jika ini bisa dilakukan, maka inilah yang terbaik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَمْ أَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ

Saya belum pernah melihat (solusi) untuk dua orang yang saling jatuh cinta selain menikah (HR. Ibnu Majah, shahih).

Adapun bagi yang belum mampu menikah, maka ada solusi alternatif yaitu berpuasa untuk meredam gejolak syahwatnya.

(2). Meninggalkan Si Dia

Jika tidak memungkinkan untuk menikahi orang yang dicintai, solusinya adalah meninggalkan pujaan hatinya sejauh-jauhnya. Menjauh dari kota tempat tinggal si dia adalah di antara obat mabuk asmara, sebagaimana sebuah perkataan :

البعيد عن العين بعيد عن القلب

“Sesuatu yang jauh dari pandangan mata, akan jauh pula di hati”.

Maka hendaknya orang yang sedang mabuk cinta pergi ke daerah lain dan meninggalkan kota tempat tinggal orang yang dia cintai. Orang yang dia cintai memiliki peran penting, maka hendaknya dia menjauh darinya sehingga dia tidak lagi mendengar kabar berita si dia, tidak melihatnya , serta tidak mendengar ucapannya. Dengan demikian sedikit demi sedikit dia bisa melupakannya dan hilanglah penderitaann mabuk cinta yang dialaminya.

(3). Membayangkan Kejelekan Pujaan Hati

Dalam pandangan orang yang sedang mabuk cinta, pujaan hatinya seolah-olah tidak punya aib sama sekali. Yang tampak darinya hanya kebaikan, tanpa cela dan cacat sedikitpun. Maka termasuk obat bagi hawa nafsu yang sedang mabuk cinta adalah dengan membayangkan kejelekan yang ada pada orang yang dia cintai. Ibnu Mas’ud radhiyalllahu ‘anhu pernah berkata :

إذا أعجبت أحدكم امرأة فليذكر مناتنها

” Jika kalian kagum terhadap seorang wanita, maka ingatlah hal-hal buruk yang ada padanya “

(4). Meninggalkan Keharaman

Cinta buta yang dialami orang yang mabuk asmara ternyata sebagiannya merupakan cinta yang terlarang. Seperti mencintai wanita yang merupakan istri orang lain. Cinta seperti ini jelas merupakan perbuatan haram dan harus ditinggalkan.

Demikian pula termasuk cinta terlarang adalah mencintai sesama jenis. Ini merupakan perbuatan haram sebagaimana Allah melaknat dan membinasakan kaum Luth :

فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ

“ lalu Kami butakan mata mereka “ (Al Qomar : 37)

فَلَمَّا جَاء أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ مَّنضُودٍ

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. “ ( Huud : 82)

فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِينَ

“Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. “ (Al Hijr : 73)

Inilah ancaman berat dan mengerikan bagi pecinta sesama jenis. Cinta yang terlarang dan merupakan keharaman yang harus ditinggalkan.

(6). Memperhatikan Akibat Buruk dari Penyakit ‘Isyq

Penyakit ‘isyq bisa mengakibatkan bahaya besar yang merusak. Mabuk cinta akan menjadikan manusia bodoh, lupa diri, dan akan mengurangi akal dan kebijaksanaannya. Mabuk cinta juga menyebabkan kegundahan, kekhawatiran, ketakutan akan perpisahan, rasa kesempitan di dunia, dan juga ancaman di akhirat.

Jika pada diri seseorang ada penyakit yang akan menyebabkan kebinasaan, maka dia pasti akan menempuh berbagai cara  mengobatinya. Demikian pula penyakit ‘isyq, ini merupakan penyakit hati yang membinasakan sehingga harus segera diobati apabila seseorang sudah terjangkiti penyakit ini.

(7). Banyak Berdoa

Bagi seorang mukmin, doa adalah senjata ampuh, obat untuk segala macam penyakit, dan solusi untuk beragam persoalan. Allah Ta’ala berfirman :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku “ (Al Baqarah : 182)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengajarkan doa :

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى

“ Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelekan pada pendengaranku, kejelakan pada penglihatanku, kejelekan pada lisanku, kejelekan pada hatiku, serta kejelakan pada mani atau kemaluanku .“ (HR. Tirmidzi, hasan)

Doa lain yang Nabi ajarkan :

اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

“ Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina.” (HR. Muslim)

(8). Bersabar

Untuk mengobati penyakit ‘isyq memang membutuhkan kesabaran ekstra. Kesabaran hasil akhirnya adalah sesuatu yang terpuji. Pertolongan bagi seorang hamba akan senantiasa menyertai kesabarannya. Berat dan pahitnya sabar di dunia saat ini lebih baik daripada beratnya menanggung siksaan di neraka jahannam nanti.

(9). Bersungguh-Sungguh  

Dibutuhkan kesungguhan hati dalam mengobati penyakit ini. Dengan niat yang benar dan usaha yang penuh dengan kesungguhan, niscaya Allah akan beri jalan kemudahan. Allah Ta’ala berfirman :

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Dan orang-orang yang berjihad bersunggguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami “ (Al Ankabut :69)

(10)  Berkonsultasi dengan Orang Yang Selamat dari Penyakit  ‘Isyq

Hendaknya orang yang sedang terjangkit penyakit ‘isyq berkonsultasi dengan orang yang pernah mengalami mabuk cinta dan selamat darinya. Meminta solusi dan nasihat darinya akan membantu untuk mengobati penyakit ini.

Demikianlah di antara kiat agar selamat dari bahaya mabuk cinta. Wallahu a’lam. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad.(Al-inaya/Msl)

Thursday, May 10, 2018

Salah Kaprah Memahami Barokah

Kata berkah (barokah) menjadi tema yang sering di dengar, sering diucapkan, da banyak muncul dalam ungkapan pengharapan manusia yang beriman , selama ini berokah sering diidentikkan sebagai karunia dan pemberian melimpah terkait standar kebahagiaan yang cendrung bersifat materil. Seperti bertambahnya rezeki,kekayaan,jabatan ,kesehatan, dan lain sebagainya. Tapi benarkah esensi barokah tersempit dalam pengertian seperti itu.?
Dalam bahasa arab kata “ Barokah “ البركة)) memiliki beberapa makna, diantaranya, atstsubut (tetap) dan al-luzum (terus melekat), (Mu’jam Maqaayisil Lughah, Ibnu Faris, 4/352

Dalam bahasa arab dikatakan "إتركو فى الحرب" berarti mereka teguh dan tetap berda di medan pertempuran ( Al-Mufrodhat Fi Gharibil Qur’an, Ar-Raghib Al-Ashfahani, 44. ) makanya ada yang mengatakan, telaga atau atau sumur dinamakan barokah karena menetapnya air di dalamnya. (Ash shihaah, Al-Jauhari,4/1574-1575)


Secara istilah barokah memiliki beberapa pengertian , di   antaranya sebagai berikut:
Pertama : tetap dan langgengnya kebaikan, makna ini ssesuai dengan difinisi pertama secra bahasa yaitu tetap dan melekat seperti firman Alloh SWT.:

لفتحنا عليهم بركات من السماء
“…Pastilah kami akan melimpahkan kepad mereka berokah dari langit dan bumi …” (QS. Al-A’rof :96)
Ar-Raghib Al-Asfahani mengatakan dalam ayat ini al-Barokah adalah tetapnya kebaikan ilahi pada sesuatu. Dinamakan demikian karena melekatnya kebaikan di dalamnya dan layaknya air yang selalu ada di dalam sumur. Jadi, sesuatu yang diberkahi adalah sesuatu yang di dalamnya terdapat kebaikan “ (Al-Mufradaat :44)

Kedua : banyak dan bertambahnya kebaikan ini sesuai dengan difinisi kedua secara bahasa, yaitu berkembang dan bertambah. Imam Al-Qurtubi berkata ketika menafsirkan Firman Allah SWT.

إن أول بيت وضع للناس للذي ببكة مبارك
“sesungguhnya rumah yang mula-mula di bangun untuk tempat beribadah manusia adalah Baitullah yang terletak di Bakkah (Makkah) yang diberkahi.” Al-Quran . A-Imron : 96)

Alloh menjadikan Makkah sebagai tempat yang diberkahi karena berlipat gandanya pahala amal perbuatan yang dilakukan di dalamnya. Jadi, barokah pada ayat ini berarti banyaknya kebaikan “(Tafsir Al-Qurthubi.4/139)

Dari sini para ulamak mendifinisikan barokah dengan bertambhnya manfaat dan kebaikan dalam setiap hal yang kita lakukan waktu demi waktu. Ada jugak yagn menafsirkan barokah sebagai kebaikan berlimpah yang diberikan oleh Allah SWT kepada siapa saja yang dikehendakinya, barokah jugak dapat di artikan sebagai kepekaaan untuk selalu bersikap baik dan benar sedangkan menurut imam  Ibnu Qoyyim al-auziah baokah adalah semakin dekatnya kita kepada Allah SWT.


Dalam Kitab Riyadussholihin dijelaskan bahwa barokah adalah “sesuatu yang dapat menambah kebaikan kepada sesame, pengertian ini sangat umum dan feksibel tergantung penafsiran kita dan konteks yang dihadapibila dikaitkan dengan ilmu dan guru , maka yang dimaksud adalah bertambahnya ilmu dan doa dari guru dan pengaruh baik dan kebahagiaan yang datang setelah kita belajar, jika dikaitkan dengan harta , maka yang dimaksud barokah ialah harta yang menyebabkanseseorang yang menggunakanmemperoleh ketenangan dan ketentraman jiwa sehingga mampu mendorong berbuat kebaikan kepada sesama.

Habib Lutfi bin Ali bin Hasyim memiliki tamtsil yang sangat menarik tentang barokah. Menurut beliau barokah itu adalha seperti gara, garam adalah bumbu masak yang penggunaannya hanya sedidik dari bumbu yang lain , meski sedikit , bumbu tersebut sangat bermanfaat dan sangat dibutuhkan , sebab, masakan tanpa garam raanya pasti hambar, begitupun hidup kita akan terasa hambar tanpa unsure-unsur barokah.

Artinya barokah adalah sebuah hal yang memebrikan manfaat dan kebaikan kepada diri kita agama kita dan bangsa kita  sedangkan ketenangan , keadamaian, ketentraman , ketabahan, ketegaran dan keberhasilan adalah sesuatu yang selalu menyertai hidup yang barokah, Tapi perlu dicatat kehidupan yagn disertai barokah bukan berarti tampa masalah. Problematika hidup pasti akan selalu ada dan menyertai kehidupan manusia, banyaknya masalah bukan berarti tidak barokah


Coab kita lihat kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabat, masalah-masalah yang mereka hadapi tidaklah kalah banyak atau bahkan jauh lebih banyak dan jauh lebih berat dari pada yang kita hadapi sekarang.
Barokah berfungsi member “ruh” atau esensi paa setiap perbuatan manusia. Karena itu ada dan tidaknya barokah sangat tergantung kepada benar dan tidaknya perilaku kita semakin baik perilaku kita maka semakin banyak barokah dalam diri kita begitupun sebaliknya Artinya barokah merupakan penentu keberhasilan yang nyata atau hakiki dari sebuah pekerjaan .

Inilah yang sering disalah artikan oleh orang yang pragmatis dan matrealistis yang selalu mengukur segala sesuatu dengan materi atu sesuatu yang bersifat fisik saja. Padahal dalam kehidupan ini banyak hal-hal yang bersifat non fisik yang sebenarnya menjadi esensi dari segala sesuatu.kebaikan, kejujuran , kemanfaaatan, ketaatan bahkan pahala adalah buah dari barokahsemakin barokah kehidupan manusia semakin baik pula perilakunya ssemakin jujur ucapannya semakin bermanfaat perbuatannya sehingga semakin mendekatkan dirinya kepada Allah SWT zat yang maha penciptainilah fungsi utama barokah yang sebenarnya.


Barokah itu tidak selalu panjang umur tapi umur pendek jika dahsyat kaulitas ketaatannya jugak barokah seperti Mus’ab bin Umair, tanah barokah tidak selalu subur tanahnya makkah yang tandus pun pancaran barokahnya sangat luar biasa

Ilmu yang barokah bukanlah yang banyak riwayat dan catatan kakinya tetapi sejauh mana ilmu itu di amalkan dan membawa ketaatan kepada Allah SWT.harta yang barokah bukanlah harta yang banyak dan melimpah ttapi sejauh mana harta itu menjadi jalan rizeki bagi yang lain dan semakin banyak orang lain terbantu dengan harta itu.

Sumber dikutip dari : Al-Miftah Magazin




Sunday, April 30, 2017

Mas Kawin Dalam Islam


A. Pendahuluan.
Yang identik saat kita mendengar sesuatu yang berhubungan dengan pernikahan adalah Mahar yang biasa disebut juga dengan mas kawin. Bahkan, dalam suatu daerah pihak perempuan yang meminta mahar kepada calon mempelai laki-laki.
B. Permasalahan.
Bagaimana hukum mahar atau mas kawin dalam Islam? 

C. Penjelasan.
Mahar atau mas kawin yang dalam kitab-kitab fiqih disebut dengan shidaq adalah sesuatu yang wajib sebab nikah atau wat’i (bersetubuh). Dari ta’rif (definisi) shidaq itu sendiri, dapat kita ketahui bahwa hukum mahar atau mas kawin dalam Islam adalah wajib. Disunnahkan menyebutkan mas kawin di dalam akad. Boleh juga tidak menyebutkan mas kawinnya, tetapi dihukumi makruh, seperti yang diterangkan oleh Imam Al-Maawardiy dan Al-Mutawalliy dan Ulama lain, selain kedua beliau.

Dalam menentukan mahar atau mas kawin, disunnahkan mahar tidak kurang dari sepuluh dirham, agar keluar dari khilaaf (perbedaan pendapat), sehingga disunnahkan, karena Imam Abu Hanifah mewajibkan mahar tidak boleh kurang dari sepuluh dirham.

Mas kawin atau mahar yang sah untuk bisa dijadikan mas kawin yaitu sesuatu yang bisa diperjual belikan, entah itu ganti (uang) atau yang digantikan (barang yang dibeli), berupa barang atau hutang atau berupa manfaat, entah mas kawin itu sedikit atau banyak, yang penting masih mempunyai harga.

Bagi istri boleh menolak ajakan suami untuk bersenang-senang (misal bercumbu, berhubungan intim dan lain sebagainya), bila sang suami belum menyerahkan mahar atau mas kawin yang dalam akad disebutkan bahwa mas kawin atau mahar tersebut dibayar secara haal (kontan). Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Awal perkara (yaitu hutang) yang mana orang mu’min ditanya perkara itu adalah shidaaqnya istri(mas kawin atau maharnya istri)”.

Arti dari hadits tersebut ialah: Perkara yang berupa hutang yang ditanyakan dahulu (kelak)adalah suami yang belum melunasi mas kawin atau mahar yang menjadi hak istrinya.

Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Orang yang mendzholimi istrinya dalam masalah shidaqnya (suami tidak membayar mas kawin atau mahar istrinya), maka ia (suami) akan bertemu Allah Ta’aala besok di hari kiamat, sedangkan ia (dihukumi) orang yang zina.

(Referensi: Mughni Al-Muhtaaj, cetakan Daarulkutuub, Baerut, Lebanon, Juz 3, halaman 269-272)

D. Penutup.
Demikianlah sekilas tentang permasalahan hukum mahar atau mas kawin dalam Islam, semoga bermanfaat. Mohon share dengan memberikan Like, Tweet atau memberikan komentar anda di bawah ini, agar menjadi referensi bagi teman jejaring sosial anda. Terima kasih.

Thursday, April 27, 2017

Siapakah orang yang haram dinikahi dalam Islam

A. Pendahuluan.

Rosulullah bersabda 

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَـرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَـرْجِ. وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.
Salah satu dari Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah menikah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Wahai para pemuda, barang siapa dari kalian mampu Al-Ba ah ( mampu berhubungan suami istri karena mempunyai bekal nikah), maka menikahlah!. Sesungguhnya itu lebih menjaga pandangan mata dan lebih menjaga kepada Farji (kemaluan). Barang siapa tidak mampu, maka bepuasalah. Maka, sesungguhnya puasa tersebut adalah obat baginya.” {HR. Al-Bukhariy: 9/112 dan Imam Muslim: 2/1018}.
Namun, untuk menikah kita juga harus tahu siapa orang yang haram dinikahi menurut Islam, agar kita tidak terjerumus dosa besar.


B. Permasalahan. 
Siapa saja orang yang haram dinikahi menurut Islam? 

C. Keterangan-keterangan.

Perkara-perkara yang mencegah nikah dibagi menjadi dua, yaitu: 

Muabbad (selamanya tidak boleh dinikah) 

Ghairu muabbad (tidak selamanya haram dinikah) 

Muabbad dibagi menjadi dua, yaitu: 
ikhtilaafu Al-jinsi (perbedaan jenis), seperti jin dan manusia. Oleh sebab itu, tidak diperbolehkan manusia menikah dengan jin, karena perbedaan jenis, seperti yang difatwakan oleh Ibnu abdu As-Salaam, yang berbeda pendapat dengan Imam Al-Qomuuliy. Di dalam Hadits Marfu’ diterangkan bahwa kita dicegah untuk menikah dengan bangsa jin. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Aby Ad-Dunyaa. 

Ghairu Ikhtilaaf Al-Jinsi (Bukan perbedaan jenis). 
Al-Muabbad Ghairu ikhtilaaf Al-Jinsi ada tiga sebab, yaitu: sebab Qoraabah (hubungan darah), Radhaa’a (tunggal persusuan) dan Mushaharah (adanya mahram sebab tali pernikahan, seperti suami menjadi mahram dari ibu sang istri).

Berikut adalah orang-orang yang haram untuk di nikah secara muabbad Khaira ikhtilaat Al-Jinsi:

Qoraabah: 
Salah satu yang haram dinikahi adalah Ummahaat (ibu). Maksud dari Ummahaat disini adalah wanita yang melahirkanmu atau wanita yang melahirkan orang tuamu. 
Al-Banaat. Maksud dari Al-Banaat adalah: Anakmu atau anak dari anakmu walaupun bersambung ke bawah (anaknya anaknya anak dan seterusnya) 
Al-Akhawaat (saudara perempuan). Maksudnya adalah: anak dari kedua orang tuamu atau anak dari salah satu kedua orang tuamu. 
Anak dari saudara laki-laki dan anak dari anaknya saudara laki-laki dan terus ke bawah (seperti anaknya anak dari anaknya saudara laki-laki dan seterusnya). 
Anak dari saudara perempuan dan anak dari anaknya saudara perempuan dan terus ke bawah (anak dari anaknya anaknya saudara perempuan dan seterusnya). 
Al-Ammaat. Maksudnya adalah: saudara perempuan dari ayahmu (haqiqotan) atau saudara perempuan dari ayahnya ayahmu (majaz) 
Al-Khaalaat. Maksudnya adalah: saudara perempuan ibumu (haqiqotan) atau saudara perempuan ibunya ibumu (majaz). 
Orang yang haram dinikah sebab Radhaa’a: 
Setiap orang yang menyusuimu 
orang yang menyusui orang yang menyusuimu 
wanita yang melahirkanmu 
orang yang melahirkan orang yang menyusuimu. 
Orang yang haram dinikahi sebab Al-Mushaaharah: 
istri dari anakmu, walaupun sang anak belum berhubungan suami istri dengan istrinya. 
istri dari ayahmu 
Ummahaat dari istrimu, begitu juga anak-anaknya 

Referensi: (Mughni Al-Muhtaaj, cetakan Daarulkutub, Baerut, Lebanon, Juz 3, halaman 214-217)

Monday, April 3, 2017

Hadist Tujuh Golongan yang mendapatkan naungan

Tiada yang meragukan bahawa keadilan dan kejujuran adalah akhlak yang mulia. Oleh sebab itu tidak hairan apabila Rasulullah s.a.w. selalu menganjurkan umatnya untuk menghiasi diri mereka dengan akhlak yang agung ini.

Hadith-hadith Nabi yang terangkum dalam kitab Shahih al-Bukhārī dan Muslim juga menerangkan tentang sifat jujur ini, di samping juga menerangkan sifat negatif yang menjadi lawan daripadanya, iaitu kebiasaan berbohong. Hadith-hadith tersebut berjumlah banyak sangat, di antaranya adalah:

Pemimpin harus bersikap adil
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَّامٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ خُبَيْبِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ إِمَامٌ عَادِلٌ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ فِي خَلَاءٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسْجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إِلَى نَفْسِهَا قَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا صَنَعَتْ يَمِينُهُ
Abu Hurairah r.a: berkata: bersabda nabi saw: ada tujuh macam orang yang bakal bernaung di bawah naungan allah, pada hati tiada naungan kecuali naungan allah:
Imam(pemimpin) yang adil, dan pemuda yang rajin ibadah kepada allah. Dan orang yang hatinya selalu gandrung kepada Masjid. Dan dua orang yang saling kasih sayang karena allah, baik waktu berkumpul atau berpisah. Dan orang laki yang diajak berzina oleh wanita bangsawan nan cantik, maka menolak dengan kata: saya takut kepada Allah. Dan orang yang sedekah dengan sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. Dan orang berdzikir ingat pada allah sendirian hingga mencucurkan air matanya. (Buchary, Muslim)

Penjelasan:
Meski hadist ini menjelaskan tentang tujuh macam karakter orang yang dijamin keselamatannya oleh allah nanti pada hari kiamat, namun yang sangat ditekankan oleh hadis ini adalah karakter orang yang pertama, yaitu pemimpin yang adil. Bukannya kita menyepelekan enam karakter sesudahnya, akan tetapi karakter pemimpin yang adil memang menjadi tonggak bagi kemaslahatan seluruh umat manusia. Tanpa pemimpin yang adil maka kehidupan ini akan terjebak ke dalam jurang penderitaan yang cukup dalam.
Untuk melihat sejauh mana seorang peimimpin itu telah berlaku adil terhadap rakyatnya adalah melalui keputusan-keputuasan dan kebijakan yang dikeluarkannya. Bila seorang pemimpin menerapkan hukum secara sama dan setara kepada semua warganya yang berbuat salah atau melanggar hukum, tanpa tebang pilih, maka pemimpin itu bisa dikatakan telah berbuat adil. Namun sebaliknya, bila pemimpin itu hanya menghukum sebagian orang (rakyat kecil) tapi melindungi sebagian yang lain (elit/konglomerat), padahal mereka sama-ama melanggar hukum, maka pemimpin itu telah berbuat dzalim dan jauh dari perilaku yang adil.
Baca jugak penegrtian hadist 
Diriwayatkan oleh Ibn Mas‘ūd bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:


عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا 

Maksudnya: “Bersikap jujurlah kalian, kerana kejujuran akan mengantarkan kepada kebajikan, dan kebajikan akan mengantarkan ke surga. Di saat seseorang selalu jujur dan menjaga kejujurannya, Allah s.w.t. akan menetapkannya sebagai orang yang jujur. Janganlah kalian berbohong, kerana kebohongan akan mengantarkan kepada perbuatan dosa, dan perbuatan dosa akan mengantar seseorang masuk neraka. Jika seseorang selalu berbohong dan membiasakan diri berbohong, Allah s.w.t. akan menetapkannya sebagai pembohong.”[1] 

2. Sahabat Abū Hurairah r.a. meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ 
Artinya: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga; Jika bicara ia berbohong, jika berjanji ia tidak menepati, dan jika bersumpah ia melanggarnya.”

Jika kita hendak mengkaji kitab al-Bukhārī dan Muslim, kita akan banyak menemukan hadith yang menerangkan keutamaan kejujuran. Namun dalam buku ini kami hanya akan menyebutkan sebahagian sahaja. 

Jujur mempunyai banyak definisi, namun ada satu makna yang sering digunakan dan mudah difahami, yaitu: perkataan yang benar, sesuai dengan realiti yang dilihat oleh orang yang mengatakan meskipun orang lain tidak mengetahuinya. 

Kejujuran dan kebenaran mempunyai derajat yang tinggi di sisi Allah s.w.t.. Sehingga dalam firman-Nya, Allah s.w.t. Mengistilahkan janji yang akan diberikan kepada orang-orang yang melakukan kebajikan dengan istilah “Janji yang benar”. 

Allah s.w.t. berfirman dalam surah al-Ahqāf, 46: 16, yang ertinya: “Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.” 

Dalam Al-Qur’an Allah s.w.t. juga meminta kaum yang beriman untuk bergabung bersama orang-orang yang benar dan jujur, “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (al-Taubah, 9: 119). 

Allah s.w.t. juga memberi pernyataan dengan firman-Nya tentang kebenaran, iaitu dalam surah al-Nisā’, 4: 87, yang ertinya: “Dan siapakah yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah,” juga dalam surah al-An‘ām, 6: 146, Allah berfirman yang ertinya:“Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar.” 

Nabi Muhammad s.a.w. terkenal sebagai peribadi yang jujur baik pada masa Jahiliyyah maupun pada masa Islam. Sebelum wahyu diturunkan dan sebelum Rasul mendakwahkan ajaran Islam, kaum Qiraisy mengenal Beliau sebagai orang yang jujur dan dapat dipercaya. Ketika Hajar Aswad terbawa banjir, Muhammad ikut serta mengembalikannya ke tempat semula. Langkah kedatangan Beliau yang hendak bergabung dengan para pemimpin kaum Quraisy, disambut dengan kata-kata penghormatan: “Orang yang jujur dan dapat dipercaya telah datang.” 

Dalam Al-Qur’an, Rasulullah s.a.w. juga disebut sebagai orang jujur dan benar. Allah s.w.t. berfirman dalam surah al-Ahzāb, 33: 22, yang ertinya: “Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” 

Dalam Al-Qur’an, Allah selalu menegaskan bahwa di hari kiamat nanti Dia akan memberikan pahala kepada orang-orang yang benar dan jujur. Selain itu Dia juga berjanji akan menyiksa orang-orang yang bohong. Allah s.w.t. berfirman dalam surah al-Ahzāb, 33: 24, yang ertinya: “Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu kerana kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 

Di ayat lain Allah berfirman yang ertinya: “Agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka dan Dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih.” (al-Ahzāb, 33: 8). 

Sementara itu Allah telah menyiapkan neraka sebagai tempat kembali bagi orang-orang yang berdusta dan sering melakukan kezaliman. Allah s.w.t. berfirman dalam surah al-Zumar, 39: 32, yang ertinya: “Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya Bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang kafir? 

Jika kita perhatikan kisah-kisah dalam Al-Qur’an, kita akan mendapatkan bahawa orang-orang kafir sering sekali mendustakan nabi Muhammad s.a.w., sehingga Allah memberi khabar kepadanya bahawa umat-umat terdahulu juga sering mendustakan Nabi-nabi mereka. Meskipun ajaran para Nabi sangat jelas dan nyata, namun cemoohan dan tuduhan bahawa mereka adalah pembohong sering mereka dengar. Menghadapi keadaan yang demikian ini, mereka tetap tegar dan sabar. Allah s.w.t. berfirman dalam surah al-Hajj, 22: 42-44, yang ertinya: “Dan jika mereka (orang-orang musyrik) mendustakan kamu, maka sesungguhnya telah mendustakan juga sebelum mereka kaum Nuh, ‘Ad dan Thamud. (42) dan kaum Ibrahim dan kaum Lut, (43) dan penduduk Madyan, dan telah didustakan Musa, lalu Aku tangguhkan (azab-Ku) untuk orang -orang kafir, kemudian Aku azab mereka, maka (lihatlah) bagaimana besarnya kebencian-Ku (kepada mereka itu). (44)” 

Sejak waktu kecil Rasulullah s.a.w. sudah terbiasa dengan sifat jujur ini. Orang-orang yang berkawan dengan Beliau sejak kecil, tidak pernah sekalipun mendengar Rasulullah s.a.w. berbohong, kerananya orang-orang juga tidak ragu atau curiga atas apa yang dikatakan olehnya. 

Namun ketika Risalah Samāwiyyah diturunkan, dan Beliau hendak menyebarkannya, kaum kafir Quraisy mulai tidak mempercayakannya. Pada awal mula dakwahnya, Beliau naik ke bukit Safā dan berseru: “(Wahai kaum Quriasy) pagi sudah menyingsing (kemarilah dan berkumpullah).” Beliau mengucapkan kalimat ini dengan harapan kaum Quraisy berkumpul. Setelah berkumpul, mereka bertanya: “Ada apa Muhammad? Nabi Muhammad melanjutkan pidatonya: “Apa yang akan kalian katakan, apabila saya memberi khabar kepada kalian bahawa musuh akan datang pagi ini atau petang nanti.Apakah kalian mempercayaiku? kaum Quraisy menjawab: Ya. Kami tidak pernah melihat kamu berbohong. Nabi melanjutkan pidatonya: “Ketahuilah, saya ini adalah orang yang mengingatkan kalian supaya tidak mendapatkan siksa yang pedih.” 

Mendengar seruan Rasul ini, Abū Lahab marah, dan berkata: “Celaka kamu wahai Muhammad. Apa hanya untuk tujuan ini kamu mengumpulkan kami?” Dan kemudian Allah s.w.t.. mengancam Abū Lahab dengan menurunkan rangkaian ayat berikut ini:“Binasalah kedua tangan Abū Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. (1) Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. (2) Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. (3)” (al-Lahab, 111: 1-3). 

[1] H.R. al-Bukhārī, Muslim, Abū Dāwud dan al-Tirmidhī.

Demikian semoga bermanfaat diposkan oleh https://al-inaya.blogspot.co.id/

Tuesday, September 20, 2016

PANDANGAN ISLAM CARI JODOH DI DUNIA MAYA.

Sebelumnya kami hanya membaca nasihat seperti ini di dunia maya. Akan tetapi setelah mendengar dan melihat langsung, dan kasusnya tidak hanya satu. kami melihat bukti langsung bagaimana seorang laki-laki dan wanita, yang sudah mengenal agama dengan manhaj yang benar berdasarkan pemahaman sahabat, mereka berdua malah terjerumus dalam hal ini.Padahal kita sudah diajarkan bagaimana cara yang benar mencari jodoh yaitu dengan ta’aruf yang syar’i. Oleh karena itu maka kami coba menangkat tema ini.

Umumnya dilakukan oleh yang kurang imannya mungkin awalnya tidak bermaksud mencari jodoh, akan tetapi lemahnya iman yang membuatnya bermudah-mudah berhubungan dengan hubungan yang tidak halal, padahal mereka sudah mengetahui ilmunya. Inilah fenomena yang sering terjadi belakangan ini, wanita dibalik hijabnya yang tertutup rapat tetapi hijab kehormatannya tidak tertutup dibalik e-mail,inbox FB, dan SMS. Begitu juga dengan laki-laki dengan penisbatan mereka kepada, “as-salafi”, “al-atsari” dengan hiasan-hiasan status dan link berbau syar’i, akan tetapi sikap dan wara’-nya tidak menunjukkan demikian.


Hubungan laki-laki dengan wanita yang berujung cinta adalah kebahagian hati terbesar bagi manusia terutama pemuda, lebih-lebih bagi mereka yang belum pernah mecicipi sama sekali. Maka ketika bisa merasakan pertama kali sebagaimana berbuka puasa, sangat nikmat dan bahagia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

للصائم فرحتان : فرحة عند فطره و فرحة عند لقاء ربه
“Orang yang berpuasa memiliki 2 kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-Nya kelak” (HR. Muslim, no.1151)

Mereka yang sudah paham tentu tidak leluasa melakukannya di dunia nyata, baik karena tidak ada kesempatan ataupun malu jika ketahuan. Akan tetapi kedua hal ini hilang ketika berkecimpung di dunia maya. Mulai dari cara halus dengan menyindir dan tersirat ke arah cinta tak halal sampai dengan cara terang-terangan. Ketika mereka merasakan nikmat perasaan cinta yang berbunga-bungan maka lemahnya iman tidak bisa membendung sebagaimana berbuka puasa. Sehingga terjalinlah cinta yang tidak diperkenankan syariat bahkan sampai ke arah pernikahan


Terkesan shalih dan shalihah di dunia maya
Jangan langsung terburu-buru menilai seseorang alim atau shalih hanya karena melihat aktifitasnya di dunia maya. Sering meng-update status-status agama, menaut link-link agama dan terlihat sangat peduli dengan dakwah. Hal ini belum tentu dan tidak menjadi tolak ukur keshalihan seseorang. Dan apa yang ada di dunia maya adalah teori, bukan praktek langsung. Bisa jadi sesorang sering menulis status agama, menaut link syar’i tetapi malah mereka tidak melaksanakannya dan melanggarnya, apalagi ada beberpa orang yang bisa menjaga image alim di dunia maya, pandai merangkai kata, pandai menjaga diri dan pandai memilih kata-kata yang bisa memukai banyak orang

Tolak ukur kita bisa menilai keshalihan seseorang secara dzahir adalah takwa dan aklaknya yang terkadang langsung bisa kita nilai dan melihatnya di dunia nyata, bukan menilai semata-mata bagaimana teorinya saja di dunia maya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan hadist ini,

فمن اتقى الله و حقق تقواه, و خالق الناس غلى اختلاف طبقاتهم بالخلق الحسن
: فقد جاز لخير كله, لآنه قام بجق الله و حقوق الغباد,
ولآنه كان من المحسنين في عبادة الله, المحسنين إلى عباد الله

“Barangsiapa bertakwa kepada Alloh, merealisasikan ketakwaannya dan berakhlak kepada manusia -sesuai dengan perbedaan tingkatan mereka- dengan akhlak yang baik, maka ia medapatkan kebaikan seluruhnya, karena ia menunaikan hak hak Alloh dan Hamba-Nya. [Bahjatu Qulubil Abror hal 62, cetakan pertama, Darul Kutubil ‘ilmiyah]


Tidak amanah
Ada juga yang ingin nampak alim dan berilmu di dunia maya dengan niat yang tidak ikhlas [Alhamdulillah ini cukup sedikit]. Selain cara-cara di atas seperti update status agama setiap jam, menaut link beberapa kali sehari, membuat note setiap hari [waktunya sangat terbuang di dunia maya]. Ada cara lainnya yaitu tidak melakukan amanat ilmiyah misalnya:

-membuat note hampir tiap hari dengan copas dari tulisan orang lain tetapi tidak mencantumkan sumber sehingga orang menyangka dia yang menulisnya
-membuat note dengan copas dari tulisan lainnya, kemudian mengubah-ubah sedkit atau menambah komentar sedikit kemudian menisbatkan tulisan pada dirinya.

Maka tidak heran ada yang mengaku pernah bertemu dengan seseorang yang di dunia maya terkesan sangat alim dan berilmu. Namun tatkala bertemu di dunia nyata, ternyata ia jauh dari apa yang ia sandiwarakan di dunia maya. Jauh dari ilmu, akhlak dan takwa.


Perlu husnudzan juga
Kita perlu mengedapankan husnudzon juga, karena ada mereka yang memang kerjanya berhubungan dengan dunia internet seperti ahli IT dan berdagang via internet. Jadi mereka sangat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdakwah mengingat sekarang dunia maya sangat digandrungi oleh masyarakat dunia. Sebaiknya kita jangan berburuk sangka kepada mereka dengan mengira sok alim, sokupdate status bahasa arab, sok serba syar’i dan sok suci. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. (QS al-Hujuraat: 12)

Kita juga perlu melihat panutan para ulama dan ustadz, mereka lebih sibuk dan lebih memprioritaskan dengan ilmu dan dakwah di dunia nyata, karena kita hidup di dunia nyata. Ilmu dan dakwah di dunia maya adalah prioritas kemudian setelah ilmu dan dakwah di dunia nyata.

Terperdaya dengan cinta dunia maya
Dan mereka yang tidak kuat imannya, terperdaya sekaligus dengan hubungan tak halal yang mereka lakukan, mereka sudah terperangkap cinta. maka semakin lengkap sudah, mereka melihatnya sebagai sebuah keindahan tiada tara sampai-sampai menutup beberapa kekurangan yang harusnya menjadi pertimbangan paling terdepan yaitu agama dan ahklak. Renungkanlah dan yakinlah hatimu.

Demikian artikel ini kami publish semoga bermanfaat.