Showing posts with label Gambaran Syurga yaqin menurut Al-Quran. Show all posts
Showing posts with label Gambaran Syurga yaqin menurut Al-Quran. Show all posts

Monday, July 23, 2018

Keutamaan Surat Yasin dan Nama Lain Surat Yasin.

Hati Al-Qura’an adalah surat Yasin, tidaklah seseorang membaca Yasin dengan mengharap Ridho Allah dan keselamatan dunia akhirat melainkan pahala sama dengan membaca Al-Qur’an Sepuluh kali

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ لِكُلِّ شَىْءٍ قَلْبًا وَقَلْبُ الْقُرْآنِ يس َمَنْ قَرَأَ يس كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِقِرَاءَتِهَا قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ عَشْرَ مَرَّاتٍ
“Segala sesuatu memiliki hati. hatinya Al-Qur’an adalah surah Yasin. Siapa yang membaca surah Yasin, maka Allah akan mencatat baginya seperti membaca Al-Qur’an sepuluh kali.” (HR. Tirmidzi, no. 2887)

Hadits ini didha’ifkan oleh Imam Tirmidzi, di mana beliau berkata, “Hadits ini gharib, kami tidak mengenalnya kecuali dari hadits Humaid bin ‘Abdirrahman dan di Bashrah tidak mereka ketahui kecuali dari hadits Qatadah dari jalur ini. Harun Abu Muhammad adalah syaikh majhul (tidak dikenal).”

Imam Tirmidzi juga mengatakan bahwa hadits ini ada dari jalur Abu Bakr Ash-Shiddiq. Namun dari sisi sanad hadits ini dha’if. Juga hadits ini terdapat dari Abu Hurairah.

Al-Hafizh Abu Thahir berkomentar bahwa sanad hadits ini dha’if dalam takhrij Jami’ At-Tirmidzi, no. 2887.

Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Adh-Dha’ifah, no. 169, 1:312-314 menyatakan bahwa hadits ini mawdhu’ (lebih parah dari dha’if). Syaikh Al-Albani juga menilai tidak tepatnya pernyataan As-Suyuthi dan Ash-Shabuni yang menshahihkan hadits ini.

Nama lain dari surat yasin

Rasulullah juga bersabda , “sesungguhnya di dalam al-Qur’an ada sebuah surat yang memberi syafaat kepada orang yang membacanya dan diampuni dosa orang yang mendengarnya, itulah surat Yasin yang di dalam taurat dinamakan : المعمة  yang artinya : meliputi bagi yang membacanya kebaikan dunia dan melindungi daripada huru-hara di akhirat, dan dinamakan pula : الدافعة dan القاضية artinya : menolak dari pada orang-orang yang membacanya dari tiap-tiap kejahatan dan ditunaikan baginya segala hajatnya.”

Surat yasin juga bisa dibuat penebus dosa bagi orang yang berlumuran dosa dalam sebuah riwayat dinyatakan bahwa barangsiapa yang membaca yasin pada malam hari maka esok harinya orang tersebut dosanya akan di ampuni sebagaimana hadist berikut :

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ ( يس ) فِي لَيْلَةٍ أَصْبَحَ مَغْفُوْرًا لَهُ
“Barangsiapa yang waktu malamnya membaca surah Yasin, maka dia akan diampuni pada pagi harinya.”

Perlu juga diperhatikan bagi semua pembaca yang budiman bahwa bukan hanya itu fadhilah surat yasin akan tetapi begitu banyak fadhilah yang berkaitan dengan surat yasin ini sehingga sampai akhir hayatpun manusia yang hampir meninggal atau sakaratul maut harus dibacakan surat yasin, jadi para putra  atau putri ibu dan bapak mulai sekarang diwasiatkan kepada anak cucu kita agar ketika meninggal dibacakan surat yasin karena ini penting dan membuat orang yang mau meninggal akan diringankan Allah SWT sebagaimana Rasulullah bersabda yang artinya :

 “Apabila ada seorang yang akan meninggal dunia , kemudian dibacakan Yasin , maka Allah akan memudahkan keluarnya ruh.”

Rasulullah jugak bersabda : Barangsiapa ziarah kubur kemudian ia membaca Yasin, maka Allah meringankan siksa ahli kubur dan bagi yang membacanya mendapatka pahala sama dengan pahala kebajikan ahli kubur “

Rasulullah jugak bersabda : “Barangsiapa membaca Yasin malam jumat maka esoknya Allah akan mengampuni dosanya “ (Keterangan ini di ambil dari Risalah Amaliyah oleh H. M. Qusairi Hamzah)


Saturday, July 7, 2018

‘Arsy adalah Makhluk Allah yang Terbesar, Paling Tinggi dan yang Pertama Kali Allah Ciptakan

Cukup banyak dalil yang menjelaskan bahwa ‘Arsy adalah makhluk ciptaan Allah. Kami bawakan beberapa dalil dari Al-Quran, Sunnah, dan Ijma’ ulama

Dalil dari Al-Quran

Allah adalah Rabb (pencipta) ‘Arsy yang besar. Allah berfirman,

قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيم

“Katakanlah, ”Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?” (Al-Mu’minun: 86).

Allah berfirman,

فَتَعَالَى اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لآإِلَهَ إِلاَّهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيم

“Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya;tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Rabb (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia” (Al-Mu’minun/ 23:116).

Syaikhul Islam menjelaskan maksud Rabb ‘Arsy adalah yang menciptakan, beliau berkata,

‏ ﻭَﻫُﻮَ ﺧَﺎﻟِﻖُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ : ﺍﻟْﻌَﺮْﺵُ ﻭَﻏَﻴْﺮُﻩُ ، ﻭَﺭَﺏُّ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ : ﺍﻟْﻌَﺮْﺵُ ﻭَﻏَﻴْﺮُﻩُ

“Allah adalah Rabb segala sesuatu termasuk ‘Arsy dan yang lainnya. Allah pencipta segala sesuatu termasuk ‘Arsy dan lainnya.”[1]

Demikian juga firman Allah,

ذَالِكُمُ اللهُ رَبُّكُمْ لآَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَىْءٍ فَاعْبُدُوهُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ وَكِيلٌ

“(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Rabb kamu; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu” (Al-An’am: 102).

Kaidahnya adalah segala sesuatu selain Allah adalah makhluk. Syaikh Muhammad At-Tamimi berkata,

وكل ما سوى الله عالم، وأنا واحد من ذلك العالم

“Semua selain Allah adalah ‘alam (makhluk), dan aku salah satu bagian dari ‘alam tersebut.”[2]

Dalil dari As-Sunnah

Terdapat dalil tegas yang menyatakan bahwa Allah menciptakan ‘Arsy.

Abu Raziin Al-Uqailiy bertanya kepada Nabi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَارَسُوْلَ الله أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ خَلْقَهُ ؟ قاَلَ كَانَ فِيْ عَمَاء مَا فَوْقَهُ هَوَاءُ وَ مَا تَحَْهُ هَوَاءُ ثُمَّ خَلَقَ عَرْشَهُ عَلَى اْلمَاءِ

“Wahai Rasulullah dimana dahulu Rabb kita berada sebelum menciptakan makhluk-Nya? Beliau menjawab, ‘Dia berada di ‘amaa, tidak ada di atas dan bawahnya udara, kemudian dia menciptakan Arsy-Nya di atas air.’”[3]

Dalil ijma’ ulama

Muhammad bin ‘Utsman bin Abi Syaibah berkata,

ﺛﻢ ﺗﻮﺍﺗﺮﺕ ﺍﻷﺧﺒﺎﺭ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺧﻠﻖ ﺍﻟﻌﺮﺵ ﻓﺎﺳﺘﻮﻯ ﻋﻠﻴﻪ

“Beritanya mencapai level mutawatir (sangat banyak jalurnya) bahwa Allah Ta’ala menciptakan ‘Arsy kemudian ber-istiwa di atasnya.”[4]

Mulaa Ali Al-Qarii menukilkan dalam syarh Al-Fikhul Al-Akbar,

ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺧﻠﻖ ﺍﻟﻌﺮﺵ ﺇﻇﻬﺎﺭًﺍ ﻟﻘﺪﺭﺗﻪ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan ‘Arsy untuk menampakkan kekuasaan-Nya.”[5]

Ibnu Hazm rahimahullah berkata,

ﺍﺗﻔﻘﻮﺍ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺣﺪﻩ ﻻ ﺷﺮﻳﻚ ﻟﻪ ، ﺧﺎﻟﻖ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﻏﻴﺮﻩ ، ﻭﺃﻧﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻟﻢ ﻳﺰﻝ ﻭﺣﺪﻩ ، ﻭﻻ ﺷﻲﺀ ﻏﻴﺮُﻩ ﻣﻌﻪ ، ﺛﻢ ﺧﻠﻖ ﺍﻷﺷﻴﺎﺀ ﻛﻠَّﻬﺎ ﻛﻤﺎ ﺷﺎﺀ، ﻭﺃﻥ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﻣﺨﻠﻮﻗﺔ، ﻭﺍﻟﻌﺮﺵ ﻣﺨﻠﻮﻕ، ﻭﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﻛﻠﻪ ﻣﺨﻠﻮﻕ “. .

“Ulama telah bersepakat bahwa Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, pencipta segala sesuatu kecuali diri-Nya sendiri. Dia selalu Maha Esa. Tiada sesuatu selain Allah yang membersamai-Nya, kemudian Dia menciptakan segala sesuatu sesuai yang Dia inginkan. Jiwa itu adalah makhluk, ‘arsy itu adalah makhluk, dan ‘alam semuanya adalah makhluk.”[6]

‘Arsy adalah makhluq Allah yang paling tinggi dan Allah berada di atas ‘Arsy.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الله عَلَى عَرْشِهِ وَ إِنَّ عَرْشَهُ عَلَى سَمَوَاتِهِ وَ أَرْضِهِ كَهَكَذَا وَ قَالَ بِأَصَابِعِهِ مِثْلَ اْلقُبَّةِ

“Sesungguhnya Allah di atas ‘Arsy-Nya dan Arsy-Nya di atas langit-langit dan bumi, seperti begini dan beliau memberikan isyarat dengan jari-jemarinya seperti kubah.”[7]

Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَأَلْتُمُ الله فَاسْأَلُوْهُ اْلفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ وَسَطُ اْلجَنَّةِ وَ أَعْلاهَا وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفْجُرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

“Jika kalian meminta, mintalah Al-Firdaus, karena dia syurga yang paling utama dan yang paling tinggi dan diatasnya adalah ‘Arsy Allah, dan darinya terpancar sungai-sungai syurga.”[8]

‘Arsy adalah makhluk pertama yang Allah ciptakan

Terdapat khilaf ulama apa makhluk yang pertama kali Allah ciptakan. Ada tiga pendapat dalam hal ini

1. Al-Qalam (pena menulis takdir)
Ini pendapat Ibnu Jarir At-Thabari dan Ibnul Jauzi

2. Al-Maa’ (air)
Ini pendapat Ibnu Mas’ud dan sebagian salam

3. Al-‘Arsy
Ini pendapat Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim.[9]

Pendapat terkuat -wallahu a’lam- yang pertama kali Allah ciptakan adalah ‘Arsy. Syaikh Al-‘Ustaimin menjelaskan,

ﺃﻭﻝ ﻣﺎ ﺧﻠﻖ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻷﺷﻴﺎﺀ ﺍﻟﻤﻌﻠﻮﻣﺔ ﻟﻨﺎ ﻫﻮ ﺍﻟﻌﺮﺵ ، ﻭﺍﺳﺘﻮﻯ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﻌﺪ ﺧﻠﻖ ﺍﻟﺴﻤﺎﻭﺍﺕ، ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ – ﺗﻌﺎﻟﻰ :- ‏( ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﺧﻠﻖ ﺍﻟﺴﻤﺎﻭﺍﺕ ﻭﺍﻷﺭﺽ ﻓﻲ ﺳﺘﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻭﻛﺎﻥ ﻋﺮﺷﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻟﻴﺒﻠﻮﻛﻢ ﺃﻳﻜﻢ ﺃﺣﺴﻦ ﻋﻤﻼ ‏

“Yang pertama kali Allah ciptakan dari segala sesuatu yang kita ketauhi adalah ‘Arsy, kemudian Allah ber-istiwa di atasnya setelah menciptakan langit dan bumi sebagaimana dalam firman Allah, ‘Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam waktu enam hari. (Sebelumnya) ‘arsy Allah di atas air, untuk menguji kalian siapakah yang paling baik amalnya.”[10]

Demikian semoga bermanfaat (al-inaya/Mls)
[1] Majmu’ Fatawa 18/214
[2] Matan Al-Ushul Ats-Tsalatsah
[3] HR. Tirmidzi, dihasankan oleh At-Tirmidzi dan Adz-Dzahabi
[4] Kitabul ‘Arsy Hal. 51
[5] Syarh Risalah Fikhul Akbar hal 195
[6] Maratib Al-Ijma’, hal. 167
[7] HR Ibnu Abi Ashim dalam As-sunnah 1/252
[8] HR Bukhari
[9] Fatawa Su`al wal Jawab no. 145809, sumber: https://islamqa.info/ar/145809
[10] Majmu’ Fatawa wa Rasa`il 1/62

Hukum Minta Foto Wanita yang Sudah Dikhitbah

Soal:
Saya telah mengkhitbah putri pamanku secara resmi. Masa khitbah di tempat kami berjalan lama, sebagaimana yang anda ketahui. Lalu saya melakukan safar, saya meminta kepadanya setelah saya berangkat safar, supaya mengirimkan fotonya. Ternyata dia benar-benar mengirim fotonya kepadaku. Apakah saya berdosa karena tindakan tersebut? Bila iya apa kafarahnya?

Jawaban Syaikh Bin Baz rahimahullah:

Iya, tidak boleh meminta foto. Dan anda harus bertaubat kepada Allah atas perbuatan ini.

Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang jujur, dengan menyesali perbuatan yang anda lakukan dan bertekad untuk tidak mengulanginya kembali.

Anda harus merobek (atau men-delete) foto itu. Perempuan itu tidak boleh mengirimkan foto kepada anda. Demikian juga anda tidak boleh mengirimkan foto kepadanya. Yang boleh adalah, anda melihatnya secara langsung (nazhar) jika anda telah mengkhitbahnya atau berkeinginan mengkhitbahnya. Tidak mengapa anda melihatnya secara langsung.

Karena Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan hal ini, beliau bersabda,

انظر إليها، ألا تنظر إليها

“Lihatlah dia. Tidakkah anda berkenan melihatnya terlebih dahulu?!”

Maksudnya, melihat wanita yang dikhitbah tidak mengapa, asal tidak berkhalwat (berduaan dengan perempuan), namun harus didampingi  ayah, ibu atau saudara laki-lakinya, tidak boleh khalwat.

Laki-laki yang mengkhitbah boleh melihat wajah, bagian-bagian tubuh yang terlihat atau jari-jemarinya, rambutnya, tidak mengapa.

Namun, tidak boleh dia berkhalwat dengan wanita itu. Tidak juga keluar bersamanya di mobil, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang dengan cewek yang dia khitbah, dia jalan-jalan bersama cewek tunangannya ke kota atau ke taman-taman. Perbuatan ini tidak benar dan bisa menjadi sarana menuju kerusakan.

Yang boleh adalah melihat perempuan tersebut dengan didampingi walinya, seperti ibunya, saudara laki-lakinya atau mahramnya yang lain. Sehingga dia dapat melihat hal-hal yang membuatnya tertarik untuk menikahinya ataupun hal-hal yang membuatnya tidak berminat untuk maju.

Jadi, laki-laki yang mengkhitbah tidak boleh mengambil gambarnya, juga bagi wanita yang dikhitbah tidak boleh meminta foto laki-laki yang mengkhitbahnya. Dua-duanya sama terlarang.

Semoga Allah memberkahi anda..(al-Inaya/Mls)

Friday, July 6, 2018

Fatwa Ulama: Apakah Mengambil Rukhshah Merupakan Kelalaian?

Fatwa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Wal Ifta’

Soal:

Apakah mengambil rukhshah (keringanan) dalam agama merupakan sikap melebihi batas dan merupakan kelalaian ?

Jawab:

Mengambil rukhshah dalam agama jika yang dimaksud adalah rukhshah syar’i yang Allah dan Rasul-Nya ﷺ syariatkan seperti rukhshah bagi musafir yang berpuasa untuk berbuka ketika safarnya, dan mengqashar shalat empat rakaát menjadi 2 rakaát, dan menjamak antara shalat zhuhur dan ashar, serta antara maghrib dan isya di salah satu waktunya, baik jamak taqdim maupun jamak takhir selama safar, dan juga seperti mengusap khuf atau yang lainnya, maka mengambil rukhshah bagi orang yang dalam keadaan tersebut lebih utama.

Dan andai ia tidak mengambil keringanan tersebut, misalnya ia berpuasa selama safar, tidak menqashar shalat dan tidak pula menjamak antara shalat (yang bisa dijamak) satu dengan yang lainnya dan tidak mengusap khuf (alas kaki; semacam sepatu), yaitu ia melepas khuf-nya dan mencuci kedua kakinya maka tidak ada cela baginya dan dan tidak berdosa. Akan tetapi ia telah meninggalkan yang lebih utama dan lebih baik.

Dalilnya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiallahu ánhu bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

إن الله تبارك وتعالى يحب أن تؤتى رخصه كما يكره أن تؤتى معصيته

“Sesungguhnya Allah tabaraka wataála suka ketika rukhshah dari-Nya diambil, sebagaimana Ia membenci tatkala maksiat kepada-Nya dilakukan” (HR. Imam Ahmad, Bazzar dan Thabrani dalam Al Ausath). Dalam riwayat Ibnu Abbas radhiallahu ánhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

إن الله يحب أن تؤتى رخصه كما يحب أن تؤتى عزائمه

“Sesungguhnya Allah mencintai tatkala diambil rukhshah dari-Nya sebagaimana ia mencintai ketika dilaksanakan perintah-perintah-Nya” (HR Thabrani dalam Mujam Al Kabiir dan Al Bazzar, dan perawinya tsiqah).

[ Baca pujian adalah ujian

Adapun jika yang dimaksud mengambil rukhshah dalam agama adalah mengambil yang termudah dan apa-apa yang mencocoki hawa nafsu dari fatwa-fatwa dan perkatan-perkataan ulama, maka yang demikian tidak diperkenankan. Dan wajib bagi setiap manusia untuk berhati-hati dalam agamanya dan semangat dalam melindunginya. Maka janganlah ia mengikuti kecuali shahih dalilnya dari Al Qur’an dan As Sunnah. Dan jika seseorang tidak mengetahui suatu hukum dalam satu perkara maka hendaknya ia bertanya kepada ahli ilmu yang kredibel dalam fatwa dan ilmunya. Dan jangan bertanya kepada banyak ulama tentang satu masalah yang sama, lalu mengikuti yang paling mudah darinya dan yang mencocoki hawa nafsu. Karena hal tersebut menunjukkan peremehan dan kelalaiannya dalam agamanya. Dan sebagian ulama salaf mengatakan:

من تتبع رخص العلماء فقد تزندق

“barangsiapa yang mencari-cari rukhshah-rukhshah dari para ulama, maka sungguh ia telah berbuat zindiq”

Hanya kepada Allah taufik, dan shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi kita Muhammad ﷺ.

Demikian semoga bermanfaat jangan lupa share kalau anda suka artikel ini dan di anggap bermanfaat(al-Inaya/Msl)

Wednesday, July 4, 2018

Fitnah Al-Harj, Fenomena Maraknya Pembunuhan Di Akhir Zaman

Dari Syaqiq, dia mengatakan: suatu ketika saya bersama Abdullah dan Abu Musa rhuma, keduanya berkata: Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ لَأَيَّامًا يَنْزِلُ فِيهَا الْجَهْلُ وَيُرْفَعُ فِيهَا الْعِلْمُ وَيَكْثُرُ فِيهَا الْهَرْجُ وَالْهَرْجُ الْقَتْلُ.

 “Menjelang datangnya hari Kiamat ada hari-hari dimana kebodohan diturunkan, ilmu diangkat, dan banyak terjadi Al-Harj. Al-Harj itu adalah pembunuhan.” Al-Bukhari 7062

***
Di antara fitnah akhir zaman yang wajib diperhatikan oleh setiap muslim adalah fenomena al-harj (pembunuhan). Fitnah tertumpahnya darah seorang muslim ini masuk dalam kategori fitnah yang akan banyak menimpa di akhir zaman. Fitnah al-harj juga berhubungan dengan fenomena umat Islam yang digambarkan seperti hidangan di meja makan yang siap disantap oleh banyak orang.

Fitnah pembunuhan atas kaum muslimin bisa dipicu oleh banyak sebab. Pertama; adanya umat Islam yang bekerja untuk musuh-musuh Islam demi mendapat sekeping dunia, mereka rela menjual darah umat Islam demi mengais rupiah dari musuh musuh Islam. Kedua; disebabkan karena paham batil berupa ideologi takfir yang sembrono, dimana umat Islam di luar kelompoknya atau yang tidak sepaham dengannya langsung dikafirkan, untuk selanjutnya darah mereka dihalalkan. Ketiga; Karena faktor fanatisme golongan dan perebutan kekuasaan atau urusan duniawi semata. Namun, di luar faktor tersebut, fenomena fitnah pembunuhan yang menimpa pada umat Islam lebih banyak disebabkan kebrutalan musuh-musuh Islam. Rasulullah saw menggambarkan merebaknya fenomena al-harj di akhir zaman:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لاَ تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّـى يَأْتِيَ عَلَى النَّاسِ يَوْمٌ لاَ يَدْرِي الْقَاتِلُ فِيمَ قَتَلَ؟ وَلاَ الْمَقْتُولُ فِيمَ قُتِلَ فَقِيلَ: كَيْفَ يَكُونُ ذَلِكَ؟ قَالَ: الْهَرْجُ، الْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ.

‘Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah dunia lenyap hingga datang kepada manusia suatu hari di mana seorang pembunuh tidak tahu kenapa dia membunuh, demikian pula orang yang dibunuh tidak tahu kenapa dia dibunuh,’ beliau ditanya, ‘Bagaimana hal itu (bisa terjadi)?’ Beliau menjawab, ‘Banyaknya pembunuhan, orang yang membunuh dan terbunuh berada di dalam Neraka.’” HR Muslim, no 2908

Mahalnya darah seorang muslim

Jika seorang muslim terbunuh oleh orang kafir karena keimanannya, maka hal itu tergolong dalam mati syahid yang dijanjikan pahala besar. Namun jika pembunuhnya adalah orang muslim lainnya karena bekerja untuk musuh musuh Islam, maka sungguh ia merupakan kebodohan dan kerugian yang sangat besar bagi pelakunya. Rasulullah  Shallallahu alaihi wa sallam mengingatkan adanya ancaman yang berat bagi yang membunuh seorang mukmin atau sekedar terlibat di dalamnya.

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ قَتْلِ مُسْلِمٍ

Lenyapnya dunia lebih ringan di hadapan Allah daripada membunuh seorang Muslim. [HR at-Tirmidzi dan an-Nasâ`i]

Dalam riwayat lain disebutkan dari Abu Darda’, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ ذَنْبٍ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَغْفِرَهُ إِلاَّ مَنْ مَاتَ مُشْرِكًا أَوْ مُؤْمِنٌ قَتَلَ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا.

Semua dosa itu masih mungkin diampuni oleh Allah kecuali dosanya orang yang mati dalam keadaan musyrik atau orang yang membunuh orang mukmin lainnya dengan sengaja. (HR. Abu Dawud 4270)

Ancaman bagi yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja

Karena mahalnya nyawa seorang mukmin, maka membunuhnya secara tidak sengaja pun tetap mendapat hukuman yang berat; dosa kepada Allah harus ditebusnya dengan puasa 2 bulan berturut-turut, kepada keluarga korban harus membayar diyat senilai 100 unta (atau setara 2,5 milyard), dan kelak pada hari kiamat akan Allah pertemukan dengan pihak terbunuh untuk ditegakkan keadilan atasnya. Jika demikian berat hukuman bagi yang membunuh karena tidak sengaja, lalu bagaimana dengan yang membunuh dengan sengaja?

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An Nisa’: 93)

Dalam satu riwayat disebutkan dari Ubadah bin Ash-Shamit bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا فَاعْتَبَطَ بِقَتْلِهِ لَمْ يَقْبَلِ اللَّهُ مِنْهُ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً.

Barangsiapa membunuh seorang muslim lalu dia bergembira dengan pembunuhan tersebut, maka Allah tidak akan menerima taubat dan tebusannya.” (HR. Abu Dawud)

Bukan hanya itu, urusan menumpahkan darah adalah perkara yang pertama kali kelak akan dimintai pertanggungjawaban pada hari berbangkit kelak. Jika seseorang bisa terbebas dari perkara ini, maka ia akan lebih mudah menghadapi hisab lainnya. Namun jika ia terjerat dalam perkara ini, maka ia pun akan sulit selamat dari perkara lainnya.

Karenanya, nabi saw menyebutkan bahwa manusia yang paling bahagia di akhir zaman adalah mereka yang terselamatkan dari beragam fitnah, terutama fitnah pembunuhan terhadap seorang mukmin. Dari Al-Miqdad bin Al-Aswad ra, dia berkata: “Demi Allah, aku mendengar Rasulullah saw telah bersabda: “Orang yang berbahagia adalah orang yang terjauhkan dari fitnah, orang yang berbahagia adalah orang yang terjauhkan dari fitnah, orang yang berbahagia adalah orang yang terjauhkan dari fitnah. Adapun orang yang tertimpa fitnah lalu dia bersabar, maka alangkah baiknya dia.” (HR. Abu Dawud 4263) Wallahu a’lam bish shawab,(al-Inaya/Arr)

Turunnya Nabi Isa Dan Isyarat Runtuhnya Kapitalisme

Saat Nabi Muhammad SAW mendakwahkan keharaman babi dengan ayat-ayat Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah [2]: 178, Al-Maidah [5]: 3, Al-An’am [6]: 145, dan An-Nahl [16]: 115), kaum Yahudi dan Nasrani mengejek dan menentangnya. Namun di akhir zaman setelah Isa alaihis salam (a.s)  turun ke dunia, kaum ahli kitab tersebut tidak akan bisa mengelak lagi. Kejahatan mereka dalam merubah isi kitab suci, menghalalkan yang haram, dan mengharamkan yang halal akan ditelanjangi oleh Isa. Isa as. lah yang akan menunjukkan kebohongan-kebohongan ahlu kitab. Dengan tangannya sendiri, disertai pasukan Islam, Nabi Isa a.s akan membunuh seluruh babi yang ada di muka bumi. Barang haram tersebut tak akan lagi dikonsumsi oleh umat manusia. Makanan dan minuman manusia akan diatur sesuai kriteria yang telah ditetapkan oleh syari’at Islam, yaitu halal dan thayib.

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah bersabda:

 لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَنْزِلَ فِيكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ

“Tidak akan terjadi kiamat sehingga turun kepada kalian Ibnu Maryam sebagai hakim yang adil, ia mematahkan salib, membunuh babi, menghentikan jizyah dan melimpahkan harta sehingga tidak ada seorang pun yang mau menerima pemberian harta.”[1]

Dalam Taurat dan Injil, babi diharamkan atas Bani Israil, yaitu atas Ahlu Kitab, penganut Yahudi dan Nasrani. Namun tangan-tangan jahat pendeta Yahudi dan Nasrani telah merusak Injil dan Taurat, merubah dan menyelewengkan isinya, menghalalkan hal yang haram, dan mengharamkan hal yang halal. Hawa nafsu mereka mendorong mereka untuk memasukkan ajaran-ajaran pemuas nafsu syahwat ke dalam kitab suci para nabi mereka. Sementara itu, para pengikut mereka mayoritas tidak membaca dan memahami kitab sucinya. Mereka mentaati apa saja yang ditentukan dan difatwakan oleh pendeta-pendeta mereka. Penyimpangan yang telah berusia ribuan tahun ini kelak akan diluruskan oleh Isa as.

Mengapa Al-Quran mengharamkan babi?

Hal menarik terkait dengan pengharaman babi yang termuat dalam Al-Quran adalah bahwa babi adalah binatang cukup langka dan jarang ditemukan di negeri Arab. Kaum muslimin di masa nabi saw sangat jarang bertemu babi, bahkan kaum musyrikin Quraisy juga bukan penikmat babi sebagaimana mereka sangat menikmati khomer dan judi. Sehingga larangan qath’i tersebut boleh jadi dianggap tidak relevan. Sederhananya, larangan itu tidak terlalu berdampak secara politik, sosial dan ekonomi sebagaimana larangan pada khamer.

Namun, hikmah dari larangan babi itu barulah kita rasakan di akhir zaman, dimana babi telah menjadi komoditas utama dari sebagian besar kebutuhan manusia. Larangan babi telah menjadi tantangan terberat umat Islam seiring dengan penggunaan babi sebagai bahan baku dalam banyak industri.

Babi adalah binatang yang saat ini menjadi komoditas umum dan merajai pasar. Pertumbuhan babi relatif sangat mudah dan cepat, dengan ransum yang jelek (poor-diet), anak babi tetap dapat tumbuh dengan baik. Pakan babi mudah didapat, bahkan dapat menggunakan limbah rumah tangga. Seluruh tubuh babi telah digunakan untuk kebutuhan industri tanpa ada yang terlewatkan. Daging babi dianggap sebagai sumber protein yang dibutuhkan untuk campuran banyak makanan pokok. Lesitin babi banyak digunakan sebagai bahan pengemulsi adonan roti, coklat, dll. Lemak babi banyak dipakai bakso dan bakmi, sedang pada mie instant dipakai sebagai penyedap. Lemaknya? banyak kue dan roti yang diberi campuran lemak babi dengan dalih sebagai pemberi sensasi lezat.

Yang mengejutkan, Christien Meindertsma, ilmuan muda asal Belanda pengarang dari “Pig 05049” melihat hal yang mencengangkan. Dari seekor babi setelah disembelih, bagian-bagian tubuhnya dibuat menjadi lebih dari 100 produk yang tidak berhubungan dengan daging babi, mulai dari peluru, sabun, makanan hingga jantung buatan. Seluruh organ babi digunakan untuk makanan dan berbagai produk yang kemudian disebar ke seluruh dunia. Christien Meindertsma melakukan penelitian selama 3 tahun untuk mengikuti babi dari mulai dipotong sampai menghasilkan 185 produk yang sebagian besar kini telah mengepung kita Bahkan, seperti yang pernah diungkapkan oleh menteri kesehatan beberapa waktu yang silam, ternyata lebih dari 90% obat farmasi tidak bisa dipisahkan proses produksinya dari babi.

Jika benar data dan info di atas, maka tidak berlebihan bahwa rezim kapitalis dunia global saat ini hakikatnya adalah “rezim babi” yang perputaran roda ekonominya tidak bisa dilepaskan dari binatang haram tersebut. Dalam bahasa lain, tidak adanya bahan baku berbasis babi akan menjadi sebab runtuhnya system produksi yang dibangun oleh kapitalis ini. Sebab, ratusan produk yang menjadi kebutuhan masyarakat dunia itu tidak bisa dipisahkan dari babi

Bilakah era kapitalis dunia akan berakhir?

Salah satu misi besar turunnya Nabi Isa as adalah untuk menghancurkan salib dan membunuh babi. Dengan penjelasan seputar hulu-hilir babi, maka menjadi jelaslah bahwa turunnya nabi Isa as untuk membunuh semua babi tanpa kecuali akan menjadi isyarat hancurnya system produksi kapitalis.

Ya, dibunuhnya (dimusnahkannnya) babi tanpa kecuali, adalah isyarat bahwa bahan pokok yang digunakan untuk sebagian besar industri yang dibutuhkan manusia sudah tidak ada, yang karenanya berhenti pula proses produksi barang tersebut. Sementara, di atas proses produksi itulah kapitalis memutar roda ekomoninya.

Faktor lain yang juga semakin membuat system ini kelak akan berakhir di era Al-Mahdi (yang hidup satu zaman dengan nabi Isa as.) adalah tidak berlakunya mata uang kertas milik kapitalis, berganti dengan mata uang dinar dan dirham sebagaimana dahulu Rasulullah saw memberlakukannya. Wallahu a’lam bish shawab.(al-Inaya/Arr)

[1]. HR. Bukhari: no. 2296.

Friday, June 22, 2018

Benarkah Perjalanan Merupakan Azab.?

Terdapat hadits yang menjelaskan bahwa safar merupakan bagian dari adzab.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ، فَإِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ نَهْمَتَهُ مِنْ سَفَرِهِ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ
“Safar (bepergian) itu bagian dari azab. Seseorang akan terhalang (terganggu) makan, minum, dan tidurnya. Maka, bila seseorang telah menunaikan maksud safarnya, hendaklah ia menyegerakan diri kembali kepada keluarganya.”
Apa maksud dari hadits ini? Maksudnya adalah safar memang ada kesusahan di dalamnya. Kesusahan ini adalah maksudnya adzab. Terlebih di zaman dahulu, safar merupakan keadaan yang sulit. Medan safar yang sulit, melewati gurun yang luas dan panas, gunung dan hutan yang keras dan banyak hewan buas serta lautan yang terkadang sulit ditaklukkan. Di zaman inipun, apabila kita melakukan safar, kita masih merasakan ketidaknyamanan, di jalan kita sulit tidur, tidak merasakan privacy serta tidak merasa nyaman seperti merasa di rumah sendiri.
Satu hal yang penting dari pembahasan safar adalah kesusahan (adzab) dalam safar ini akan memperlihatkan sifat dan akhlak aslinya seseorang. Di saat senang dan gembira, bisa jadi semua orang bisa menunjukkan akhlak yang baik. Akan tetapi di saat-saat sulit, belum tentu bisa menjadi teman yang baik. Bisa jadi di saat-saat sulit ia malah tidak memperdulikan temannya, hanya memperdulikan diri sendiri, bahkan sampai mengorbankan temannya (makan teman).
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi mejelaskan,
ومن كان في السفر آذى هو مظنة الضجر حِسنَ الخلق، كان في الحضر أحسن خلقاً .وقد قيل : إذا أثنى على الرجل معاملوه في الحضر ورفقاؤه في السفر فلا تشكوا في صلاحه .
“Barangsiapa yang ketika bersafar mengalami kesusahan dan keletihan ia tetap berakhlak yang baik, maka ketika tidak bersafar ia akan beraklak lebih baik lagi. Sehingga dikatakan, jika seseorang dipuji muamalahnya ketika tidak bersafar dan dipuji muamalahnya oleh para teman safarnya, maka janganlah engkau meragukan kebaikannya.”
Demikian juga penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Ustaimin bahwa dengan safar kita mengetahui hakikat akhlak seseorang. Beliau berkata,
وسمي سفرا لأنه من الإسفار وهو الخروج والظهور كما يقال أسفر الصبح إذا ظهر وبان وقيل في المعنى سمي السفر سفرا لأنه يسفر عن أخلاق الرجال يعني يبين ويوضح أحوالهم فكم من إنسان لا تعرفه ولا تعرف سيرته إلا إذا سافرت معه وعندئذ تعرف أخلاقه وسيرته وإيثاره
“Diistilahkan safran [سَفْرًا l] karena diambil dari makna al-isfar [الْإِسْفَارُ ] yaitu: keluar dan terang, nyata. Sebagaimana dikatakan dalam ungkapan [أَسْفَرَ الصُّبْحُ] yaitu bersinar atau bercahaya. Secara makna disebut as-safaru–safran karena “membuka perihal akhlak seseorang.” Maksudnya, menjadikan jelas dan nyata keadaannya. Berapa banyak orang yang belum terkuak jati dirinya, bisa terungkap setelah melakukan safar/bepergian bersamanya. Ketika dalam safar itulah engkau mengetahui akhlak, perangai, dan wataknya.”
Inilah yang disebut ulama dengan ungkapan:
السفر يكشف معادن الناس ويظهر أخلاق الرجال
“Safar itu menyingkap sifat asli manusia dan menampakkan akhlak seseorang”
Bisa jadi pada saat safar, aib-aib seseorang akan nampak. Ibnu Qudamah Al-Maqdisi berkata,
وإنما سمى السفر سفراً، أنه يسفر عن الأخلاق . وفى الجملة فالنفس فى الوطن لا تظهر خبائث أخلاقهم لاستئناسها بما يوافق طبعها من المألوفات المعهودة، فإذا حملت وعثاء السفر، وصرفت عن مألوفاتها المعتادة، ولامتحنت بمشاق الغربة، انكشفت غوائلها، ووقع الوقوف على عيوبها
“Disebut as-safaru–safran karena “membuka perihal akhlak seseorang. Pada umumnya, seseorang yang tinggal di daerah asalnya tidak menampakkan kejelekan akhlaknya karena ia terbiasa dengan apa yang sesuai dengan tabiatnya yang biasa ia hadapi. Jika ia melakukan safar, maka tidak biasa lagi dengan keadaan dan kebiasaannya. Ia akan diuji dengan kesusahan safar yang berat dan tersingkaplah kejelekan dan diketahui aib-aibnya.”
Oleh karena itu, ‘Umar bin Khaththab tidak langsung menerima rekomendasi orang lain sebelum mengetahui akhlak dan sifat asli seseorang. Salah satu yang ‘Umar tanyakan adalah ‘apakah sudah pernah bersafar bersamanya atau tidak.’
Dalam suatu riwayat mengenai ‘Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu,
كان عمر رضي الله عنه إذا زكى رجل شخصا عنده قال له هل سافرت معه هل عاملته إن قال نعم قبل ذلك وإن قال لا فقال لا علم لك به
“Umar bin Al-Khatthab radhiallahu ‘anhu jika ada seseorang yang merekomendasikan temannya, beliau bertanya, ‘Apakah engkau pernah melakukan safar bersamanya? Apakah engkau telah bergaul dengannya?’ jika jawabannya iya. maka ‘Umar pun menerimanya. Jika jawabannya belum pernah, maka ‘Umar akan mengatakan, ‘Engkau belum mengetahui hakikat senyatanya tentang orang itu.’
Mari kita introspeksi diri kita, apakah di saat-saat sulit bersama orang lain kita masih menampakkan sifat dan akhlak yang mulia atau tidak?(al-Inaya/Muslim)