Showing posts with label Hari Besar Islam. Show all posts
Showing posts with label Hari Besar Islam. Show all posts

Monday, July 23, 2018

Keutamaan Surat Yasin dan Nama Lain Surat Yasin.

Hati Al-Qura’an adalah surat Yasin, tidaklah seseorang membaca Yasin dengan mengharap Ridho Allah dan keselamatan dunia akhirat melainkan pahala sama dengan membaca Al-Qur’an Sepuluh kali

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ لِكُلِّ شَىْءٍ قَلْبًا وَقَلْبُ الْقُرْآنِ يس َمَنْ قَرَأَ يس كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِقِرَاءَتِهَا قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ عَشْرَ مَرَّاتٍ
“Segala sesuatu memiliki hati. hatinya Al-Qur’an adalah surah Yasin. Siapa yang membaca surah Yasin, maka Allah akan mencatat baginya seperti membaca Al-Qur’an sepuluh kali.” (HR. Tirmidzi, no. 2887)

Hadits ini didha’ifkan oleh Imam Tirmidzi, di mana beliau berkata, “Hadits ini gharib, kami tidak mengenalnya kecuali dari hadits Humaid bin ‘Abdirrahman dan di Bashrah tidak mereka ketahui kecuali dari hadits Qatadah dari jalur ini. Harun Abu Muhammad adalah syaikh majhul (tidak dikenal).”

Imam Tirmidzi juga mengatakan bahwa hadits ini ada dari jalur Abu Bakr Ash-Shiddiq. Namun dari sisi sanad hadits ini dha’if. Juga hadits ini terdapat dari Abu Hurairah.

Al-Hafizh Abu Thahir berkomentar bahwa sanad hadits ini dha’if dalam takhrij Jami’ At-Tirmidzi, no. 2887.

Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Adh-Dha’ifah, no. 169, 1:312-314 menyatakan bahwa hadits ini mawdhu’ (lebih parah dari dha’if). Syaikh Al-Albani juga menilai tidak tepatnya pernyataan As-Suyuthi dan Ash-Shabuni yang menshahihkan hadits ini.

Nama lain dari surat yasin

Rasulullah juga bersabda , “sesungguhnya di dalam al-Qur’an ada sebuah surat yang memberi syafaat kepada orang yang membacanya dan diampuni dosa orang yang mendengarnya, itulah surat Yasin yang di dalam taurat dinamakan : المعمة  yang artinya : meliputi bagi yang membacanya kebaikan dunia dan melindungi daripada huru-hara di akhirat, dan dinamakan pula : الدافعة dan القاضية artinya : menolak dari pada orang-orang yang membacanya dari tiap-tiap kejahatan dan ditunaikan baginya segala hajatnya.”

Surat yasin juga bisa dibuat penebus dosa bagi orang yang berlumuran dosa dalam sebuah riwayat dinyatakan bahwa barangsiapa yang membaca yasin pada malam hari maka esok harinya orang tersebut dosanya akan di ampuni sebagaimana hadist berikut :

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ ( يس ) فِي لَيْلَةٍ أَصْبَحَ مَغْفُوْرًا لَهُ
“Barangsiapa yang waktu malamnya membaca surah Yasin, maka dia akan diampuni pada pagi harinya.”

Perlu juga diperhatikan bagi semua pembaca yang budiman bahwa bukan hanya itu fadhilah surat yasin akan tetapi begitu banyak fadhilah yang berkaitan dengan surat yasin ini sehingga sampai akhir hayatpun manusia yang hampir meninggal atau sakaratul maut harus dibacakan surat yasin, jadi para putra  atau putri ibu dan bapak mulai sekarang diwasiatkan kepada anak cucu kita agar ketika meninggal dibacakan surat yasin karena ini penting dan membuat orang yang mau meninggal akan diringankan Allah SWT sebagaimana Rasulullah bersabda yang artinya :

 “Apabila ada seorang yang akan meninggal dunia , kemudian dibacakan Yasin , maka Allah akan memudahkan keluarnya ruh.”

Rasulullah jugak bersabda : Barangsiapa ziarah kubur kemudian ia membaca Yasin, maka Allah meringankan siksa ahli kubur dan bagi yang membacanya mendapatka pahala sama dengan pahala kebajikan ahli kubur “

Rasulullah jugak bersabda : “Barangsiapa membaca Yasin malam jumat maka esoknya Allah akan mengampuni dosanya “ (Keterangan ini di ambil dari Risalah Amaliyah oleh H. M. Qusairi Hamzah)


Wednesday, July 4, 2018

Turunnya Nabi Isa Dan Isyarat Runtuhnya Kapitalisme

Saat Nabi Muhammad SAW mendakwahkan keharaman babi dengan ayat-ayat Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah [2]: 178, Al-Maidah [5]: 3, Al-An’am [6]: 145, dan An-Nahl [16]: 115), kaum Yahudi dan Nasrani mengejek dan menentangnya. Namun di akhir zaman setelah Isa alaihis salam (a.s)  turun ke dunia, kaum ahli kitab tersebut tidak akan bisa mengelak lagi. Kejahatan mereka dalam merubah isi kitab suci, menghalalkan yang haram, dan mengharamkan yang halal akan ditelanjangi oleh Isa. Isa as. lah yang akan menunjukkan kebohongan-kebohongan ahlu kitab. Dengan tangannya sendiri, disertai pasukan Islam, Nabi Isa a.s akan membunuh seluruh babi yang ada di muka bumi. Barang haram tersebut tak akan lagi dikonsumsi oleh umat manusia. Makanan dan minuman manusia akan diatur sesuai kriteria yang telah ditetapkan oleh syari’at Islam, yaitu halal dan thayib.

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah bersabda:

 لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَنْزِلَ فِيكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ

“Tidak akan terjadi kiamat sehingga turun kepada kalian Ibnu Maryam sebagai hakim yang adil, ia mematahkan salib, membunuh babi, menghentikan jizyah dan melimpahkan harta sehingga tidak ada seorang pun yang mau menerima pemberian harta.”[1]

Dalam Taurat dan Injil, babi diharamkan atas Bani Israil, yaitu atas Ahlu Kitab, penganut Yahudi dan Nasrani. Namun tangan-tangan jahat pendeta Yahudi dan Nasrani telah merusak Injil dan Taurat, merubah dan menyelewengkan isinya, menghalalkan hal yang haram, dan mengharamkan hal yang halal. Hawa nafsu mereka mendorong mereka untuk memasukkan ajaran-ajaran pemuas nafsu syahwat ke dalam kitab suci para nabi mereka. Sementara itu, para pengikut mereka mayoritas tidak membaca dan memahami kitab sucinya. Mereka mentaati apa saja yang ditentukan dan difatwakan oleh pendeta-pendeta mereka. Penyimpangan yang telah berusia ribuan tahun ini kelak akan diluruskan oleh Isa as.

Mengapa Al-Quran mengharamkan babi?

Hal menarik terkait dengan pengharaman babi yang termuat dalam Al-Quran adalah bahwa babi adalah binatang cukup langka dan jarang ditemukan di negeri Arab. Kaum muslimin di masa nabi saw sangat jarang bertemu babi, bahkan kaum musyrikin Quraisy juga bukan penikmat babi sebagaimana mereka sangat menikmati khomer dan judi. Sehingga larangan qath’i tersebut boleh jadi dianggap tidak relevan. Sederhananya, larangan itu tidak terlalu berdampak secara politik, sosial dan ekonomi sebagaimana larangan pada khamer.

Namun, hikmah dari larangan babi itu barulah kita rasakan di akhir zaman, dimana babi telah menjadi komoditas utama dari sebagian besar kebutuhan manusia. Larangan babi telah menjadi tantangan terberat umat Islam seiring dengan penggunaan babi sebagai bahan baku dalam banyak industri.

Babi adalah binatang yang saat ini menjadi komoditas umum dan merajai pasar. Pertumbuhan babi relatif sangat mudah dan cepat, dengan ransum yang jelek (poor-diet), anak babi tetap dapat tumbuh dengan baik. Pakan babi mudah didapat, bahkan dapat menggunakan limbah rumah tangga. Seluruh tubuh babi telah digunakan untuk kebutuhan industri tanpa ada yang terlewatkan. Daging babi dianggap sebagai sumber protein yang dibutuhkan untuk campuran banyak makanan pokok. Lesitin babi banyak digunakan sebagai bahan pengemulsi adonan roti, coklat, dll. Lemak babi banyak dipakai bakso dan bakmi, sedang pada mie instant dipakai sebagai penyedap. Lemaknya? banyak kue dan roti yang diberi campuran lemak babi dengan dalih sebagai pemberi sensasi lezat.

Yang mengejutkan, Christien Meindertsma, ilmuan muda asal Belanda pengarang dari “Pig 05049” melihat hal yang mencengangkan. Dari seekor babi setelah disembelih, bagian-bagian tubuhnya dibuat menjadi lebih dari 100 produk yang tidak berhubungan dengan daging babi, mulai dari peluru, sabun, makanan hingga jantung buatan. Seluruh organ babi digunakan untuk makanan dan berbagai produk yang kemudian disebar ke seluruh dunia. Christien Meindertsma melakukan penelitian selama 3 tahun untuk mengikuti babi dari mulai dipotong sampai menghasilkan 185 produk yang sebagian besar kini telah mengepung kita Bahkan, seperti yang pernah diungkapkan oleh menteri kesehatan beberapa waktu yang silam, ternyata lebih dari 90% obat farmasi tidak bisa dipisahkan proses produksinya dari babi.

Jika benar data dan info di atas, maka tidak berlebihan bahwa rezim kapitalis dunia global saat ini hakikatnya adalah “rezim babi” yang perputaran roda ekonominya tidak bisa dilepaskan dari binatang haram tersebut. Dalam bahasa lain, tidak adanya bahan baku berbasis babi akan menjadi sebab runtuhnya system produksi yang dibangun oleh kapitalis ini. Sebab, ratusan produk yang menjadi kebutuhan masyarakat dunia itu tidak bisa dipisahkan dari babi

Bilakah era kapitalis dunia akan berakhir?

Salah satu misi besar turunnya Nabi Isa as adalah untuk menghancurkan salib dan membunuh babi. Dengan penjelasan seputar hulu-hilir babi, maka menjadi jelaslah bahwa turunnya nabi Isa as untuk membunuh semua babi tanpa kecuali akan menjadi isyarat hancurnya system produksi kapitalis.

Ya, dibunuhnya (dimusnahkannnya) babi tanpa kecuali, adalah isyarat bahwa bahan pokok yang digunakan untuk sebagian besar industri yang dibutuhkan manusia sudah tidak ada, yang karenanya berhenti pula proses produksi barang tersebut. Sementara, di atas proses produksi itulah kapitalis memutar roda ekomoninya.

Faktor lain yang juga semakin membuat system ini kelak akan berakhir di era Al-Mahdi (yang hidup satu zaman dengan nabi Isa as.) adalah tidak berlakunya mata uang kertas milik kapitalis, berganti dengan mata uang dinar dan dirham sebagaimana dahulu Rasulullah saw memberlakukannya. Wallahu a’lam bish shawab.(al-Inaya/Arr)

[1]. HR. Bukhari: no. 2296.

Monday, May 14, 2018

Hari ini adalah harimu yang sebenarnya.

Jika kamu berada di pagi hari, janganlah menunggu sore tiba. Hari inilah yang akan Anda jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukannya, dan juga bukan esok hari yang belum tentu datang. Hari yang saat ini mataharinya menyinari Anda, dan siangnya menyapa Anda inilah hari Anda.

Dalam sebuah hadits dinyatakan :

عَنْ ابْنِ عُمَرْ رضي الله عَنْهُمَا قَالَ : أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ : كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ. وَكاَنَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ : إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ. [رواه البخاري]

Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memegang kedua pundak saya seraya bersabda: "Hiduplah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara", Ibnu Umar berkata: "Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu." (Riwayat Bukhari). 


Umur Anda, mungkin tinggal hari ini. Maka, anggaplah masa hidup Anda hanya hari ini, atau seakan-akan Anda dllahirkan hari ini dan akan mati hari ini juga. Dengan begitu, hidup Anda tak akan tercabik-cabik diantara gumpalan keresahan, kesedihan dan duka masa lalu dengan bayangan masa depan yang penuh ketidakpastian dan acapkali menakutkan.

Pada hari ini pula, sebaiknya Anda mencurahkan seluruh perhatian, kepedulian dan kerja keras. Dan pada hari inilah, Anda harus bertekad mempersembahkan kualitas shalat yang paling khusyu’, bacaan al-Qur’an yang sarat tadabbur, dzikir dengan sepenuh hati, keseimbangan dalam segala hal, keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua yang Allah berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga, serta perbuatan baik terhadap sesama.

Pada hari dimana Anda hidup saat inilah sebaiknya Anda membagi waktu dengan bijak. Jadikanlah setiap menitnya laksana ribuan tahun dan setiap detiknya laksana ratusan bulan. Tanamlah kebaikan sebanyakbanyaknya pada hari itu. Dan, persembahkanlah sesuatu yang paling indah untuk hari itu. Ber-istighfar-lah atas semua dosa, ingatlah selalu kepada-Nya, bersiap-siaplah untuk sebuah perjalanan menuju alam keabadian, dan nikmatilah hari ini dengan segala kesenangan dan kebahagiaan! Terimalah rezeki, isteri, suami, anak-anak, tugas-tugas, rumah, ilmu, dan jabatan Anda hari dengan penuh keridhaan.

tقال يموسى إنى اصطفيتك على الناس برسلتي وبكلمي فخذ ما ءاتيتك وكن من الشكرين

144. Allah berfirman: "Hai Musa, Sesungguhnya aku memilih (melebihkan) kamu dan manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah " (QS. Al-A’raf: 144)

Hiduplah hari ini tanpa kesedihan, kegalauan, kemarahan, kedengkian dan kebencian. Jangan lupa, hendaklah Anda goreskan pada dinding hati Anda satu kalimat (bila perlu Anda tulis pula di atas meja kerja Anda): Harimu adalah hari ini. Yakni, bila hari ini Anda dapat memakan nasi hangat yang harum baunya, maka apakah nasi basi yang telah Anda makan kemarin atau nasi hangat esok hari (yang belum tentu ada) itu akan merugikan Anda?

Jika Anda dapat minum air jernih dan segar hari ini, maka mengapa Anda harus bersedih atas air asin yang Anda minum kemarin, atau mengkhawatirkan air hambar dan panas esok hari yang belum tentu terjadi?

Jika Anda percaya pada diri sendiri, dengan semangat dan tekad yang kuat Anda, maka akan dapat menundukkan diri untuk berpegang pada prinsip: aku hanya akan hidup hari ini. Prinsip inilah yang akan menyibukkan diri Anda setiap detik untuk selalu memperbaiki keadaan, mengembangkan semua potensi, dan mensucikan setiap amalan.

Dan itu, akan membuat Anda berkata dalam hati, “Hanya hari ini aku berkesempatan untuk mengatakan yang baik-baik saja. Tak berucap kotor dan jorok yang menjijikkan, tidak akan pernah mencela, menghardik dan juga membicarakan kejelekan orang lain. Hanya hari ini aku berkesempatan menertibkan rumah dan kantor agar tidak semrawut dan berantakan. Dan karena hanya ini saja aku akan hidup, maka aku akan memperhatikan kebersihan tubuhku, kerapian penampilanku, kebaikan tutur kata dan tindak tandukku.” Karena hanya akan hidup hari ini, maka aku akan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Rabb, mengerjakan shalat sesempurna mungkin, membekali diri dengan shalat-shalat sunah nafilah, berpegang teguh pada al-Qur’an, mengkaji dan mencatat segala yang bermanfaat.

Aku hanya akan hidup hari ini, karenanya aku akan menanam dalam hatiku semua nilai keutamaan dan mencabut darinya pohon-pohon kejahatan berikut ranting-rantingnya yang berduri, baik sifat takabur, ujub, riya’, dan buruk sangka.

Hanya hari ini aku akan dapat menghirup udara kehidupan, maka aku akan berbuat baik kepada orang lain dan mengulurkan tangan kepada siapapun. Aku akan menjenguk mereka yang sakit, mengantarkan jenazah, menunjukkan jalan yang benar bagi yang tersesat, memberi makan orang kelaparan, menolong orang yang sedang kesulitan, membantu yang orang dizalimi, meringankan penderitaan orang yang lemah, mengasihi mereka yang menderita, menghormati orang-orang alim, menyayangi anak kecil, dan berbakti kepada orang tua.

Aku hanya akan hidup hari ini, maka aku akan mengucapkan, “Wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah seperti mataharimu.

Aku tak akan pernah menangisi kepergianmu, dan kamu tidak akan pernah melihatku termenung sedetik pun untuk mengingatmu. Kamu telah meninggalkan kami semua, pergi dan tak pernah kembali lagi.”

“Wahai masa depan, engkau masih dalam kegaiban. Maka, aku tidak akan pernah bermain dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk sebuah dugaan. Aku pun tak bakal memburu sesuatu yang belum tentu ada, karena esok hari mungkin tak ada sesuatu. Esok hari adalah sesuatu yang belum diciptakan dan tidak ada satu pun darinya yang dapat disebutkan.”

“Hari ini milik Anda”, adalah ungkapan yang paling indah dalam “kamus kebahagiaan”. Kamus bagi mereka yang menginginkan kehidupan yang paling indah dan menyenangkan. (Jinfo/Buku Latahzan)


Friday, April 20, 2018

Malam- malam yang dimulyakan

Malam hari selalu diidentikkan dengan tidur dan istirahat. Setelah seharian disibukkan oleh rutinitas, maka malam hari selalu menjadi pembalasan dendam kita untuk istirahat sampai pagi. Namun tahukah kita, bahwa Islam menjadikan beberapa malam justru sebagai waktu-waktu spesial yang penuh keberkahan dan pahala jika kita menjalankan beberapa ibadah di waktu tersebut ? namun sebelumnya anda bisa membaca artikel ceramah agama dan bisa jugak anda membaca artikel yang lain disini
Memang berat rasanya, ketika banyak orang terlelap dalam tidurnya, kemudian kita bangun untuk mengambil air wudhu, lalu sholat atau tilawah (membaca) al-qur’an demi mengharap keridhoan dan pahala dari Allah. Namun, jika kita sudah membiasakan diri bangun di malam-malam spesial tersebut, maka kita tak akan pernah kesulitan lagi dan justru akan sangat merindukan momen-momen berdekatan dengan Allah dalam jarak terdekat di malam-malam penuh keberkahan tersebut. 
Lalu, malam-malam spesial dan penuh keberkahan serta pahala itu bisa kita jumpai di saat apa saja? Berikut ulasannya:
Sepertiga Malam Terakhir
Waktunya adalah sekitar pukul 02.30 sampai 03.30 atau menjelang waktu untuk shalat fajar sebelum adzan subuh berkumandang. Di waktu-waktu ini, kita bisa melakukan berbagai ibadah sunnah seperti shalat malam atau qiyaumullail, memperbanyak istighfar, dan tilawah (membaca) al-qur’an. Pada waktu ini, bisa dikatakan menjadi batas terdekat kita dengan Allah, sehingga do’a-do’a kita pun menjadi lebih banyak kemungkinan untuk dikabulkan oleh Allah. Dalam sebuah hadits disebutkan, 
“ Rasulullaah SAW bersabda, Setiap malam Tuhan kita turun ke dunia tatkala sepertiga malam terakhir, maka Dia berfirman, ‘Siapa yang memohon kepadaKu niscaya Aku kabulkan, siapa yang meminta sesuatu kepadaKu niscaya akan Aku berikan, dan siapa yang memohon ampun kepadaKu niscaya akan Kuampuni.” (HR. Bukhari).
Selain itu, dalam sebuah ayat Al-Qur’an juga disebutkan, “Allah SWT berfirman, Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun”. (QS. Adz Dzariyat: 18). Pada ayat ini, waktu sahur yang dimaksud adalah waktu sepertiga malam, seperti waktu yang biasa kita jadikan untuk makan sahur saat akan berpuasa.
Malam-malam di Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan selalu memiliki keistimewaan tersendiri, dimana selain kita wajib menjalankan puasa Ramadhan sebulan penuh, ternyata juga bulan ini memiliki banyak keistimewaan lain yang akan sangat rugi jika tak kita manfaatkan untuk mengejar pahala-pahala dan keridhoan dari Allah.
Malam-malam di bulan ramadhan
Salah satunya adalah waktu malam-malam di bulan Ramadhan ini. Malam-malam di bulan Ramadhan adalah waktu-waktu spesial yang penuh keberkahan dan limpahan pahala dari Allah jika kita bisa memaksimalkan diri untuk banyak melakukan ibadah di waktu-waktu tersebut. Seperti Qiyaumullail atau sholat malam, baik di saat shalat terawih selepas shalat isya’ atau juga shalat tahajud di sepertiga malam sebelum makan sahur. Dalam sebuah hadits disebutkan,
 “ Rasulullaah SAW bersabda, Barangsiapa shalat lail (malam) pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan perhitungan, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari). Serta waktu sahur pun juga menjadi waktu spesial kita untuk memperbanyak istighfar dan berdo’a yang baik, karena waktu tersebut sangat diijabah oleh Allah. Dalam hadits disebutkan, “Rasulullaah SAW bersabda, Sahurlah engkau sekalian, sesungguhnya dalam sahur itu ada berkah.” (HR. Bukhari).
Sepuluh Malam Terakhir di Bulan Ramadhan
Pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebaiknya kita berlomba-lomba untuk dapat meraih banyak keberkahan dan pahala dari Allah. Di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan ini juga terdapat satu malam yang merupakan malam sangat istimewa, dimana untuk pertama kalinya Al-Qur’an diturunkan oleh Allah melalui perantara malaikat Jibril as. kepada Rasulullaah SAW untuk dijadikan pedoman hidup umat muslim, yaitu malam Lailatul Qadr.
Di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan ini, kita bisa memperbanyak ibadah sunnah, seperti shalat lail (malam), tilawah (membaca) al-qur’an, dan ibadah-ibadah lain, seperti I’tikaf atau berdiam diri di dalam masjid untuk memperbanyak amalan dan ibadah demi mendekatkan diri kepada Allah. Dalam sebuah hadits disampaikan,
 “ Dari Aisyah ra., Adalah Rasulullaah apabila memasuki sepuluh malam terakhir beliau menghidupkan malam seluruhnya (tidak tidur), membangunkan keluarga dan beliau mengencangkan ikat pinggang. “ (HR. Bukhari).
Lailatul Qadr
Malam ini biasa disebut dengan malam seribu bulan, dimana malam ini adalah malam yang sangat istimewa, malam dimana Al-Qur’an pertama kali diturunkan oleh Allah dan menjadi malam kerasulan pula (Rasulullaah SAW diangkat menjadi Rasul terakhir Allah). Lailatul Qadr terdapat di salah satu malam di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, dan memang tak semua umat muslim mampu menjumpainya. Hanya yang benar-benar tulus ikhlas menjalankan ibadah kepada Allah di malam-malam terakhir bulan Ramadhan tersebut, yang konon mampu menjumpainya.
Lailatul Qadr
Ciri dari malam lailatur qadr ini menurut beberapa ulama adalah, suasana langit begitu cerah, tak mendung atau berawan, bintang-bintang terlihat bersinar terang, dan bulan juga nampak terang benderang. Tak ada angin dan tak ada hujan. Wallahu’alam bissahwab. Pada malam ini, kita dianjurkan untuk memperbanyak dzikir, do’a, dan shalat lail (malam).Dalam sebuah hadits disebutkan,
“ Aisyah ra. berkata, Wahai Rasulullah, seandainya aku menjumpai Lailatul Qadr apa yang harus kuucapkan di malam itu?, Beliau menjawab, Ucapkanlah, ‘Ya Allah, Engkau Maha Pengampun suka terhadap ampunan, maka ampunilah aku.” (HR. At-Tirmidzi).
Nah, dari keempat malam tersebut, sudahkah kita memaksimalkannya dengan memperbanyak ibadah kepada Allah dan mendekatkan diri kita padaNya? Semoga bermanfaat. 

Thursday, June 1, 2017

Pidato tentang Haji


Assalamualaikum Wr. Wb.

قال الله تعالى الحج اشهر معلومات فمن فرض فيهن الحج فلا رفث ولا فسوق ولاجدال فى الحج الاية, اما بعد
Yang kami hormati. ......
Yang kami hormati .......
Yang kami Hormati:………

HADIRIN YANG DIROHMATI ALLAH
Pertama- tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang mana Allah SWT telah memberikan nikmat kepada kita semua sehingga kita bisa berkumpul, bermuwajahah, bermuwahalah dalam majlis yang penuh dengan barkah ini

Kedua kalinya marilah kita haturkan shalawat dan salam kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW karena dengan sebab adanya beliau kita dapat mencicipi manisnya iman, islam dan Ihsan
Ketiga kalinya saya taklupa pula banyak mengucapkan terima kasih kepada pembawa acara pada kesempatan ini karena telah memerikan waktu pada diri saya untuk memberikan sedikit Mauidah hasanah atau ceramah agama pada kesempatan ini dengan mengusung thema kesunnahan dalam romadhan.

 Hadirin yang berbahagia
Kita melakukan perjalanan setidaknya karena tiga hal. Pertama perjalanan untuk berdagang atau bekerja. Kedua untuk traveling, berwisata. Ketiga untuk beribadah. Untuk perjalanan pertama dan kedua, sudah barang tentu perjalanan yang dilakukan adalah untuk kepentingan, kebutuhan dan kesenangan kita.

Orang-orang yang berbisnis misalnya, lalu mencoba peruntungannya merantau ke luar daerah adalah karena mencoba berusaha memenuhi hajat hidupnya di tanah lain. Terlebih lagi jika perjalanan itu dalam rangkamelancong, mencari suasana alam yang indah seperti gunung, lautan, air terjun, atau ke tempat-tempat yang dipenuhi dengan seabrek fasilitas hidup yang menyenangkan, adalah tujuannya untuk menyenangkan diri, memenuhi hasrat pribadi. Tapi lain lagi, jika kita berbicara perjalanan yang dilakukan karena Ibadah. Perjalanan itu tidak hanya untuk menentramkan kita, tapi lebih untuk menyenangkan Allah.

Salah satu contoh real perjalanan untuk ibadah adalah haji. Haji di dalam firman Allah dikatakan:

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ ...

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah...” (al-Baqarah)

Kata lillah di dalam penggalan ayat di atas memiliki tiga dimensi. Pertama karena Allah. Mengindikasikan bahwa sumber pelita keinginan melakukan perjalanan haji hanya karena Allah.
Kehadiran Allah adalah api yang menyalakan keinginan untuk berhaji. Tanpa adanya kesadaran tentang Allah yang Segala Maha, maka tidak ada keinginan untuk berhaji. Kedua lillah sebagai dengan Allah. Bahwa setiap rangkaian ibadah di dalam haji, seperti berihram, melempar jumrah, sa’i, thawaf, bertahallul dan ritual ibadah lainnya adalah proses yang selalu mewujudkan Allah.

Dengan bahasa sederhana, jika kita berhaji, maka setiap detik yang kita lakukan untuk berproses dalam rangkaian ibadah haji adalah detik-detik kita membersamai Allah, tidak pernah terlepas dengan kehadiran Allah. Ketiga, lillah karena untuk Allah. Bahwa kita berhaji bukan karena haji itu sendiri.


Berdoa saat Haji / Wikimedia.org 
Kita berhaji bukan hanya karena penunaian akan ibadah haji itu sendiri, sehingga kita merasa puas setelah berhaji. Bahkan yang lebih tidak memenuhi kriteria haji sebagai ibadah, apabila kita berhaji hanya agar kita bisa menyematkan titel haji di deretan nama kita, dan agar ketika pulang, masyarakat sekitar menambahkan panggilan dengan kata “haji”.
Padahal, dengan jelas kata lillah dalam ayat tersebut menetapkan bahwa haji itu untuk Allah, untuk keridhaan Allah, untuk keberkahan Allah, untuk kesenangan Allah dan kecintaan Allah.
Karena haji untuk kesenangan Allah, dengan begitu kita, yang hendak berhaji harus menjawab satu pertanyaan yang paling penting, “haji seperti apakah yang dicintai Allah?”. Dalam satu riwayat dikatakan:

الْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Dan tidak ada ganjaran lain bagi haji mabrur selain surga." (HR. Bukhari, Muslim, Tirmdizi, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad dan Malik)

Dengan jelas hadis ini menunjukkan bahwa surga baru bisa menjadi balasan buat seseorang, apabila hajinya telah mabrur. Dengan kata lain, haji yang diterima Allah yang disenangi oleh Allah sehingga layak bagi Allah memberikan penunai hajinya balasan surga, apabila hajinya telah mambrur di mata-Nya.
Dengan begitu maka kemambruran haji adalah bukti Allah telah mencintai haji seseorang dan menerima perjalanan ibadahnya dengan keridhaan. Sebaliknya, tidak mambrurnya haji seseorang orang membuktikan hajinya gagal membuat Allah menerima perjalanannya sebagai Ibadah.
Tentu tidak ada satu pun dari kita dan umat muslim lainnya yang bisa memastikan apakah haji seseorang bisa dikatakan mabrur ataukah tidak. Sebab perkara diterimanya amal adalah perkara ghaib yang menjadi hak preogratif Allah.

Kita umat manusia hanya bisa berusaha melakukan hal-hal yang telah dipersyarakatkan Allah agar kiranya para calon haji menunaikan syarat-syarat tersebut sembari berdoa agar Allah memabrurkan ibadah hajinya.Untuk itu, jalan mambrur yang bisa ditempuh oleh orang yang mau hajinya diterima Allah adalah mengindahkan segala prasyarat dan ketentuan yang Allah berikan secara baik dan taat.
Keikhlasan dan ittba ar-rasul (mengikuti rasul) adalah syarat pertama yang mutlak dilakukan oleh calon haji. Di dalam kitab taisir al-Allam, keikhlasan di dalam niat seseorang adalah madar al-‘amal, sumber penentu amal menjadi diterima atau tidak. 

Lafal lillah dalam kutipan ayat di atas dan juga penjelasannya kiranya sudah cukup menjadi dalil atas mutlaknya keikhlasan seseorang di dalam berhaji.
Mengikuti Rasul juga menjadi syarat mutlak kemabruran ibadah haji. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasul dengan tegas menyatakan contohlah cara manasik hajiku”. Lafal ini sama dengan perintah Rasul Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat ku Shalat”.
Dengan begitu, dari segi ibadah, maka haji dan shalat tidaklah berbeda. Jika keseluruhan rangkaian ibadah shalat mulai dari takbir hingga salam semuanya harus berpatokan pada praktek Rasul, maka haji pun demikian.
Tidak sah haji seseorang, apabila ia menambah-nambahi atau mengurangi rangkaian ibadah haji di luar dari yang telah dituntunkan oleh Rasulullah. Dengan begitu maka bagi para calon jamaah haji, dituntut untuk belajar fiqh al-Haj (fiqih haji) agar menghindari perbuatan-perbuatan yang bisa membatalakan haji.
Dua hal tersebut adalah syarat mutlak dari segi syariahnya, di mana ketika seseorang tidak melakukan keduanya, maka dengan pasti hajinya batal. Selain dari syarat mutlak dari segi syariatnya, terdapat juga prasyarat yang bisa diketahui dari segi tarbiyahnya (pendidikannya).
Syarat tersebut dapat ditemukan dari hadis Rasullah yang meriwayatkan bahwa ada beberapa Sahabat yang bertanya kepada Rasulullah tentang ke-mambrur-an haji.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ: مَا بِرُّ الْحَجِّ؟، قَالَ: " إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ "

Dari Jabir bin Abdillah, Bahwa Rasulullah ditanya, Apa kemabruran haji? Beliau menjawab “Memberikan makan dan menebarkan salam"

Dalam riwayat lain, Rasulullah menjawab

...طِيبُ الْكَلَامِ وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ

“...perkataan yang baik dan memberikan makanan”

Dua riwayat ini menunjukkan bahwa indikasi kemambruran haji seseorang tidak hanya ditentukan pada ritual hajinya, tetapi juga implikasi dari haji tersebut. Dengan kata lain, kwalitas haji seseorang tidak hanya dapat diukur ketika khusyu-nya seseorang saat melakukan ritual haji, di mana ia sangat menjaga sensitifitas hubungannya dengan Allah, tetapi juga pada seberapa faham dan konsisten dia menerapkan nilai-nilai haji di dalam kehidupannya setelah berhaji.

Sebagaimana yang tergambar jelas dari keterangan di atas, bahwa Rasulullah menyebutkan tiga kebiasaan yang mengindikasikan seseorang telah berhasil melalui tarbiyah haji dan benar-benar membentuk dia menjadi hamba yang telah berhaji kepada Allah.
Pertama adalah baiknya lisan. Ketika berhaji, Allah dengan tegas melarang seseorang untuk berkata jorok dan berbantah-bantahan. Seseorang yang melakukannya ketika berhaji akan mengurangi kesempurnaan hajinya, bahkan bisa membatalkan haji.
Ternyata larangan ini, jika dikaitkan dengan hadis Rasulullah di atas memiliki hubungan yang signifikan. Bahwa larangan Allah tidak berkata jorok dan berbantah-bantahan merupakan pelatihan yang Allah berikan kepada seseorang dalam proses hajinya dengan harapan setelah melaksanankan haji, ia akan menjadi manusia yang baik perkataannya kepada sesama manusia lain,dan tidak senang membuat onar atau memicu konflik.
Kedua, Bertalian dengan indikasi kemambruran pertama, mambrurnya haji seseorang oleh Rasulullah diindikasikan pada senangnya ia menebarkan salam. Dalam al-Qur’an Allah juga melarang orang yang berhaji melakukan maksiat.
Sementara wilayah kemaksiatan itu tidak hanya pada pengingkaraannya pada ketaatan kepada Allah, tetapi juga perbuatan buruknya terhadap makhluk lain. Oleh karenanya larangan ini, kemudian dispesifikasikan oleh Rasulullah dengan tidak bolehnya seorang haji membunuh hewan dan mencabut rumput selama ritual haji.
Menghindari kemaksiatan dan menghindari perkataan yang tidak baik adalah dua pangkal yang membuat seorang yang telah berhaji akan senantiasa menebarkan salam sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah. Kata ifsya as-Salam, oleh K. H. Mustafa Bisyri dikatakan tidak hanya sebatas mengucapkan “assalamu ‘alaikum” saja. Tetapi lebih dalam dari itu.
Perintah menebarkan salam oleh Rasulullah mengharuskan orang muslim menjadi manusia yang gemar menebarkan kebaikan, mencegah teror dan menjamin perlindungan orang-orang disekitarnya dari ancaman tangan dan lisannya. Seseorang yang betul-betul memaknai haji harusnya senantiasa menjaga perkataanya, menghindari konflik dan gemar menebarkan kedamaian.

Indikasi ketiga mambrurnya haji seseorang yang disabdakan oleh Rasulullah diwakili dengan ungkapan “ith’am at-Tha’am”, (memberikan makanan). Ungkapan ini dikatakan sebagai simbol karena memaknainya tidak hanya sebatas tekstualnya belaka, tidak hanya memberikan makanan saja. Akan tetapi dengan ungkapan ini, Rasulullah ingin membetitahukan bahwa mambrurnya haji adalah haji yang bisa membentuk pelakunya menjadi manusia yang peduli terhadap lingkungan sosial dan mau bergerak untuk perubahan yang lebih baik.
Dalam sejarah kemerdekaan indonesia, kita akan menemukan sosok-sosok haji seperti ini pada diri tokoh-tokoh kita seperti K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asy’ari. Kedua tokoh ini memulai titik perjuangannya setelah pulangnya mereka dari perjalanan haji.

Ketika sampai di tanah tercinta Indonesia, mereka langsung memperhatikan lingkungan sekitar, masyarakat pribumi yang terjerat kemiskinan, pemiskinan, kebodohan dan pembodohan.
Nilai-nilai haji yang telah melebur dengan kepribadian mereka kemudian menjadi amal nyata yang hingga kini masih kita rasakan pada dua organisasi Islam terbesar di Indonesia yaitu Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama.

Semoga kelak nantinya kita semua mampu menjalankan Haji sebagai perjalana Ibadah. Perjalanan yang Allah terima dengan kemambruran. Perjalanan yang membentuk pribadi kita menjadi insan yang taat kepada Allah, berlisan baik, penebar kedamaian, dan agen perubahan ke arah yang lebih baik. Wallahu musta’an wallahu ala kulli syain qadir.
Demikian ceramah tentang haji ini kami sampaikan semoga dengan adanya ceramah ini kita dapat mengambil hikmahnya dan semoga kita bisa segera melaksanakan haji bagi yang belum melaksanakan haji, trimakasih kami sampaikan 

Wassalamu alaikum Wr. Wb. 

Sunday, April 30, 2017

Hukum Melayat Orang Meninggal Dunia Dalam Islam


A. Pendahuluan
Sudah tak asing lagi bagi kita ketika ada orang yang meninggal banyak orang-orang yang berbondong-bondong melakukan Ta’ziyah untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan mayit dan juga agar mengurangi beban mereka, sehingga mereka dapat kuat menerima takdir yang telah digariskan oleh Allah Subhaana Wa Ta’aalaa. Namun, banyak yang masih belum tahu hukum dari Ta’ziyah itu sendiri bagaimana.

B. Permasalahan
Bagaimanakah Hukum Melayat Orang Meninggal Dunia Dalam Islam?
C. Pembahasan

Definisi Ta’ziyah

Ta’ziyah atau yang disebut juga melayat dalam bahasa kita, menurut lughat (bahasa) adalah mashdar dari fi’il (kata kerja) ‘aza yang mempunyai arti sabar menghadapi musibah kehilangan (Lihat: Mukhtaru Ash-Shihah: 431).
[baca kisah wali songo 
[baca kisah para sahabat Nabi
[baca tatacara makan dan minum Nabi
Sedangkan menurut bahasa adalah: memberi semangat orang yang tertimpa musibah agar hendaknya bersabar dan menghiburnya agar supaya bisa melupakannya dan meringankan beban kesedihan dan himpitan musibah yang menimpanya. (Kitab Al-Adzkar: 126) 

Hukum Berta’ziyah
Imam Ibnu Qudamah mengatakan bahwa hukum berta’ziyah adalah sunnah (Al-Mughni: 3/480).
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Barang siapa ta’ziyah kepada orang yang tertimpa musibah, maka baginya pahala seperti orang yang didapat orang tersebut”. (HR. At-Tirmidzi, 2: 268. Beliau berkata bahwa hadits ini gharib/perawinya hanya satu. Hadits ini tidak Marfu’ (tidak sampai kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam), kecuali dari jalur Adi bin Ashim). 
[baca kisah wali songo 
[baca kisah para sahabat Nabi
[baca tatacara makan dan minum Nabi
Hukum melayat orang non Muslim atau kafir.
Untuk masalah melayat orang Non muslim, seperti orang kristen, hindu dan agama selain Islam, ulama berbeda pendapat tentang masalah kafir Dzimi (orang kafir yang tidak memerangi orang Islam). Sebagian dari Ulama Hanafiyyah dan Ulama Syafi’iyyah ada yang memperbolehkannya (kitab Al-Majmu’, 5: 304). Sedangkan Imam Ahmad memilih untuk Tawaqquf (tidak berkomentar). (Kitab Al-Mughni, 3:486). 

Adab dalam melayat
Tidak Mencela Mayyit. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Janganlah kalian mencela orang-orang yang telah mati. Sesungguhnya mereka telah mendapatkan apa yang telah mereka lakukan.” [HR. Al-Bukhari, No. 6516] 
Menyegerakan Pengurusan Jenazah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Menyegerakanlah kalian dengan jenazah. Apabila jenazah tersebut orang yang sholih, maka itu bagus, kalian telah mempercepat kebaikan untuknya…” [HR. Al-Bukhari, No. 1315]. 

D. Penutup
Demikianlah sedikit ulasan tentang hukum melayat orang meninggal dunia dalam Islam, semoga bermanfaat. Mohon share dengan memberikan Like, Tweet atau komentar Anda di bawah ini agar menjadi referensi bagi teman jejaring sosial anda. Terima kasih

Tuesday, September 27, 2016

Kumpulan Hari besar Islam singkat

Sebagai umat Islam tentunya kita sudah menjalankan dan memahami tentang hari-hari penting dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menanamkan hal terpuji ini pasti kita tidak akan melewatkan setiap datangnya hari-hari besar Islam tersebut. Dalam pembahasan kali ini, akan menjelaskan secara singkat tentang hari-hari besar Agama Islam dan semoga dapat bermanfaat untuk kita semua. Adapun penjelasannya akan dijelaskan berikut ini.

Baca jugak kumpulan doa dalam al-quran


1.Nuzulul Qur’an
Yaitu peringatan turunnya Al-Qur’an yang berupa firman-firman Allah kepada nabiyullah Muhammad SAW melalui perantara malikat Jibril yang kemudian dihimpun menjadi kitab suci Al-Qur’an. Nuzulul Qur’an diperingati pada tanggal 17 Ramadhan.
2.Lailatul Qodar
Lailatul Qodar ini merupakan 10 malam ganjil terakhir di bulan Ramadhan dan merupakan malam terpenting yang terjadi hanya pada bulan Ramadhan dan tidak ada yang mengetahuinya kapan malam lailatul qodar ini tiba. Lailatul Qodar ini juga merupakan malam yang lebih baik dari seribu bulan dan banyak sekali keistimewaannya. Laitaul Qodar biasanya juga diperingati Nuzulul Qur’an. Dalam Al-Quran dijelaskan tentang keistimewaan malam lailatul qodar di terangkan dalam surat Al-Qodar ayat 1 s/d 5 yang artinya:

1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan[1593].
2. dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu?
3. malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
4. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
5. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.

Baca Juga Do'a Shalat Dhuha lengkap

[1593] Malam kemuliaan dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam Lailatul Qadr Yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya Al Quran.
3.Hari Raya Idul Fitri

Biasa kita sebut dengan lebaran yang diperingati pada tanggal 1 syawal. Hari raya Idul Fitri ini merupakan hari kemenangan bagi Umat Islam yang telah melakukan puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan dimana puasa ini merupakan latihan bagi umat islam untuk menjaga hatinya, lisannya, pikirannya dan seluruh anggota tubuhnya sehingga pada hari kemenangan tersebut, umat manusia kembali dalam fitrahnya atau kembali suci
4.Hari Raya Idul Adha

Merupakan hari raya kurban yang diperingati pada tanggal 10 Dzulhijjah yang biasa kita menyebutnya dengan lebaran haji. Pada hari inilah orang-orang Islam melakukan ibadah hai di Makkah dan diseluruh dunia umat Islam melaksanakan sholat Idul Adha dan setelah itu melakukan penyembelihan kurban yang merupakan hewan ternak seperti onta, sapi, kambing, maupun kerbau. Daging yang telah disembelih kemudian dibagikan sesuai dengan ketentuannya.


5.Tahun Baru Islam

Merupakan peringatan tahun baru Islam atau tahun baru hijriyah yang diperingati pada tanggal 1 Muharram.

6.Maulid Nabi

Merupakan hari peringatan kelahiran Nabiyullah Muhammad SAW yang diperingati pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Hari peringatan maulid nabi ini pertama kali dilakukan oleh Sultan Salahuddin Al-Ayyubi. Dalam peringatannya beliau menceritakan tentang sejarah kelahiran nabi sampai dengan perjuangan Nabi untuk Umatnya yang patut dijadikan contoh atau sebagai suri tauladan yang baik untuk umatnya. Hukum memperingati maulid nabi adalah bid’ah hasanah yang bertujuan untuk meneladani akhlak terpuji dan membesarkan junjungan nabi Agung kita Muhammad SAW.

Baca Juga Doa Lainnya di Sini

 Demikian Artikel ini kami buat semuga bermanfaat amin.
Artikel by: https://al-inaya.blogspot.co.id/