Showing posts with label DOA SHALAT TARAWIH. Show all posts
Showing posts with label DOA SHALAT TARAWIH. Show all posts

Saturday, July 7, 2018

Jika istri bekerja, apakah suami berhak menikmati penghasilan istri?

Tanya:

Jika istri bekerja, apakah suami berhak menikmati penghasilan istri?. Misal, istri baru mendapat insentif dari perusahaan d luar gaji. Kmd suami minta sebagian uang istri utk beli iPad. Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Tanggung jawab terbesar suami yang menjadi hak istri adalah memberikan nafkah.

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan tanggung jawab memberi nafkah istri, diantaranya,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Lelaki adalah pemimpin bagi wanita, disebabkan kelebihan yang Allah berikan kepada sebagian manusia (lelaki) di atas sebagian yang lain (wanita) dan disebabkan mereka memberi nafkan dengan hartanya ….” (Q.S. An-Nisa’:34)

Allah juga berfirman,

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Merupakan kewajiban bapak (orang yang mendapatkan anak) untuk memberikan nafkah kepada istrinya dan memberinya pakaian dengan cara yang wajar ….” (Q.S. Al-Baqarah:233)

Dalam hadis dari Muawiyah bin Haidah radhiyallahu ‘anhu, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

‘Ya Rasulullah, apa hak istri yang menjadi tanggung jawab kami?’

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ أَوْ اكْتَسَبْتَ وَلَا تَضْرِبْ الْوَجْهَ وَلَا تُقَبِّحْ وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْتِ

“Engkau memberinya makan apabila engkau makan, memberinya pakaian apabila engkau berpakaian, janganlah engkau memukul wajah, jangan engkau menjelek-jelekkannya (dengan perkataan atau cacian), dan jangan engkau tinggalkan kecuali di dalam rumah.” (HR. Ahmad 20013, Abu Daud no. 2142, Ibnu Majah 1850, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Nafkah Suami kepada Istri Bernilai Sedekah

Nafkah yang diberikan suami kepada istrinya, merupakan ibadah terbesar suami terhadap keluarganya. Karena memberikan nafkah keluarga merupakan beban kewajiban syariat untuk para suami.

Dari Abu Mas’ud al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَنْفَقَ المُسْلِمُ نَفَقَةً عَلَى أَهْلِهِ، وَهُوَ يَحْتَسِبُهَا، كَانَتْ لَهُ صَدَقَةً

”Apabila seorang muslim memberikan nafkah kepada keluarganya dan dia mengharap pahala darinya maka itu bernilai sedekah.” (HR.Bukhari 5351).

Dalam hadis lain dari Sa’d bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّكَ مَهْمَا أَنْفَقْتَ مِنْ نَفَقَةٍ، فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ، حَتَّى اللُّقْمَةُ الَّتِي تَرْفَعُهَا إِلَى فِي امْرَأَتِكَ

“Semua nafkah yang engkau berikan, itu bernilai sedekah. Hingga suapan yang engkau ulurkan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari 2742 dan Muslim 1628).

Apa Cakupan Nafkah?

Dalam Fatawa Islam ditegaskan,

والنفقة تشمل : الطعام والشراب والملبس والمسكن ، وسائر ما تحتاج إليه الزوجة لإقامة مهجتها ، وقوام بدنها

Nafkah mencakup: makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan segala sarana yang menjadi kebutuhan istri untuk hidup dengan layak. (Fatawa Islam no. 3054).

Harta Istri

Berdasarkan keterangan di atas, kita menyimpulkan bahwa dari setiap penghasilan yang diperoleh suami, di sana ada jatah nafkah istri yang harus ditunaikan.

Ini berbeda dengan harta istri. Allah menegaskan bahwa harta itu murni menjadi miliknya, dan tidak ada seorangpun yang boleh mengambilnya kecuali dengan kerelaan istri. Dalil kesimpulan ini adalah ayat tentang mahar,

وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (QS. An-Nisa: 4)

Fatawa Syabakah Islamiyah menjelaskan tafsir ayat ini,

والآية الكريمة علقت جواز أخذ مال الزوجة على أن يكون بطيب النفس وهو أبلغ من مجرد الإذن، فإن المرأة قد تتلفظ بالهبة والهدية ونحو ذلك بسبب ضغط الزوج عليها مع عدم رضاها بإعطائه، وعلم من هذا أن المعتبر في تحليل مال الزوجة إنما هو أن يكون بطيب النفس

Ayat di atas menjelaskan bahwa suami boleh mengambil harta istri jika disertai kerelaan hati. Dan kerelaan hati itu lebih dari sebatas izin. Karena terkadang ada wanita yang dia menghibahkan atau menghadiahkan hartanya atau semacamnya, disebabkan tekanan suami kepadanya. Sehingga diberikan tanpa kerelaan. Disimpulkan dari sini, bahwa yang menjadi acuan tentang halalnya harta istri adalah adanya kerelaan hati. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 32280)

Jika harta mahar, yang itu asalnya dari suami diberikan kepada istrinya, tidak boleh dinikmati suami kecuali atas kerelaan hati sang istri, maka harta lainnya yang murni dimiliki istri, seperti penghasilan istri atau warisan milik istri dari orang tuanya, tentu tidak boleh dinikmati oleh suaminya kecuali atas kerelaan istri juga.

Dalam Fatwa Islam ditegaskan,

وأما بخصوص راتب الزوجة العاملة : فإنه من حقها ، وليس للزوج أن يأخذ منه شيئاً إلا بطِيب نفسٍ منها

”Khusus masalah gaji istri yang bekerja, semuanya menjadi haknya. Suami tidak boleh mengambil harta itu sedikitpun, kecuali dengan kerelaan hati istrinya.” (Fatwa Islam, no. 126316) .

Allahu a’lam(al-inaya/Ksy)

Thursday, July 5, 2018

Doa Para Nabi

Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Maka Kami kabulkan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami” (Al-Anbiya`: 90).

Dan di antara doa para nabi alaihimush shalatu was salam adalah doa Nabi Ibrahim alaihis salam yang Allah Ta’ala sebutkan dalam surat Ibrahim,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (lagi mengabulkan) doa.”

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku”

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (QS.Ibrahim: 39-41).

 Allah Ta’ala juga menyebutkan doa nabi-Nya, Nuh alaihis salam ketika memohon kepada Allah Ta’ala agar menolongnya dalam menghadapi kaumnya yang mendustakannya dan memusuhinya,

كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ

“Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan, ‘Dia seorang gila dan diusirnya (dengan ancaman dan celaan).”

فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ

“Maka dia mengadu kepada Tuhannya, ‘bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).’”

فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ

“Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah.”

وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ

“Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan.”

وَحَمَلْنَاهُ عَلَىٰ ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ

“Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku,”

تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا جَزَاءً لِمَنْ كَانَ كُفِرَ

“Yang berlayar dengan penglihatan (dan pemeliharaan) Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh).” (QS.Al-Qamar: 9-14).

Di akhir-akhir surat Nuh, Allah Ta’ala juga menyebutkan doa Nabi Nuh alaihis salam yang lainnya,

وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا

“Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.’”(Al-Inaya/Mls)

Dorongan Allah Ta’ala pada Para Hamba agar Berdoa

Karena demikian agungnya ibadah yang satu ini, maka Allah Ta’ala mendorong hamba-hamba-Nya untuk berdoa dalam banyak ayat Alquran Al-Karim, seperti firman Allah Ta’ala,

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-A’raf: 55-56).

هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ۗ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka berdoalah (dan beribadahlah) kepada-Nya dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam” (QS. Ghafir: 65).

Dan Allah Ta’ala–pun mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya bahwa Dia dekat dengan hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya dan menjanjikan akan mengabulkan doa hamba-Nya, Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al-Baqarah: 186).

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

“Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (lain yang berhak disembah)? Amat sedikitlah kamu mengingat(-Nya)” (An-Naml: 62).

Siapakah Mereka yang Paling Banyak Berdoa?

Sebagaimana diketahui bahwa doa adalah ibadah yang agung, sedangkan ulama telah menjelaskan bahwa kesempurnaan seseorang dalam beribadah kepada Allah dipengaruhi oleh seberapa besar pengetahuan seseorang tentang-Nya dan pengamalan sesuatu yang menjadi tuntutan pengetahuan tersebut.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

أكمل الناس عبودية المتعبد بجميع الأسماء والصفات التي يطلع عليها البشر

“Manusia yang paling sempurna peribadahannya adalah orang yang beribadah (dengan melaksanakan tuntutan peribadahan) yang terdapat dalam semua nama dan sifat Allah yang diketahui oleh manusia” (Madarjus Salikin).

Oleh karena itulah, setiapkali pengetahuan seseorang tentang nama, sifat, dan perbuatan Allah semakin tinggi dan hubungannya dengan-Nya semakin dekat, maka ia akan semakin merasa sangat membutuhkan Allah Ta’ala dan semakin memperbanyak doa kepada-Nya semata. Maka pantaslah jika golongan hamba-hamba Allah yang paling sempurna dalam melaksanakan ibadah doa kepada Rabb mereka dalam seluruh keadaan dan urusan mereka adalah para nabi dan rasul-Nya ‘alaihimush shalatu was salam.

Allah Ta’ala telah memuji mereka karena ibadah doa mereka yang sempurna dalam Alquran Al-Karim, dan menyebutkan beberapa doa mereka dalam beberapa keadaan di dalam Kitab-Nya.(al-Inaya/Msl)

Thursday, May 31, 2018

2 macam Doa selamat dunia akhirat lengkap

Dalam setiap hal yang akan kita perbuat tentunya harus diiringi dengan doa kepada zdat yang maha pemberi yaitu allah SWT,doa sebagai senjata yang ampuh bagi umat islam sehingga umat islam tidak boleh lepas dari berdoa untuk keselamatan dirinya dari segala keburukan yang akan terjadi.
2 macam Doa selamat dunia akhirat lengkap 

Doa selamat ini kami tulis untuk berbagi kepada semua pembaca agar tuntunan doa dari Rasulullah ini di amalkan dalam kehidupan sehari hari dan menjadi senjata ampuh untuk kesuksesan kita dunia akhirat.Aminnnn.

اَللهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ سَلاَمَةً فِى الدِّيْنِ وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً عْدَ الْمَوْتِ اَللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِى سَكَرَاتِ الْمَوْتِ وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ
رَبَّنَا لاَتُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْهَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ 

Ya Allah kami memohon kepadaMu keselamatan dalam agama, dan ke sejahteraan/kesegaran pada tubuh dan penambahan ilmu, dan keberkahan rizqi, serta taubat sebelum mati dan rahmat di waktu mati, dan keampunan sesudah mati. Ya Allah, mudahkanlah kami saat pencabutan nyawa, selamat dari api neraka dan mendapat kemaafan ketika amal diperhitungkan, Ya Allah, janganlah Kau goyahkan hati kami setelah Kau beri petunjuk dan berilah kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi



Dan disambung dengan doa selamat ke 2 berikut untuk melengkapi doa yang pertama:

أَلِّلهمَّ أْكتُبِ السَّلَامَةَ وَالصِّحَّةَ وَاْلعَافِيَةَ لَنَا وَلْلمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنَ الْحَاضِرِيْنَ وَاْلغَائِبِيْنَ يَاأَرْحَمَ أْلرَّاحِمِيْنَ,أَلَّلهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ سَلَامَةً فِيْ دِيْنِنَا وَأَهْلِيْنَا وَأَوْلَادِنَا وَأَمْوَاِلنَا وَعَافِيَةً فِيْ أَجْسَادِنَا وَزِيَادَةً فِيْ عِلْمِنَا وَبَرَكَةً فِيْ رِزْقِنَا وَتَوْبَةً قَبْلَ اْلمَوْت وَرَاحَةً عِنْدَاْلمَوتْ وَمَغْفِرَةً بَعْدَاْلمَوتْ أَلَّلُهمَّ إِفْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ اْلخَيْر وَأَبْوَابَ الرَّحْمَةِ وَأَبْوَابَ اْلبَرَكَةِ وَأَبْوَابَ النِّعْمَةِ وَأَبْوَابَ اْلقُوَّةِ وَأَبْوَابَ الصِّحَّةِ وَأَبْوَابَ السَّلَامَةِ وَأَبْوَاَب اْلعَافِيَةِ أَلَّلهُمَّ عَافِنَا مِنْ كُلِّ بَلَاءٍ الدُّنْيَا وَبَلًاءِ اْلاَخِرَةِ وَشَرِّالدُّنْيَا وَشَرِّاْلاَخِرَةِ رَبَّناَ تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمِ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ رَبَّنَا أَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Yang Artinya : Ya Allah Gariskanlah keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan bagi kami dan bagi kaum muslim dan muslimat yang hadir ataupun yang tidak hadir wahai zdat yang maha welas kasih. Ya Allah sesungguhnya kami memohon keselamatan di dalam agama kami, keluarga kami, anak-anak kami harta-harta kami tubuh kami atau fisik kami, dan tambahkanlah ilmu dan keberkahan dalam rizqi kami dan terimalah taubat kami sebelum kami mati lapangkanlah kami dikala kami mati, ampunilah kami setelah kami mati, Ya Allah bukalah bagi kami pintu-pintu kebaikan pintu-pintu rahmat pintu-pintu barakah pintu-pintu nikmat pintu-pintu kekuatan pintu-pintu kesehatan pintu-pintu keselamatan pintu-pintu kesehatan, Ya Allah lindungilah kami dari seluruh penyakit dunia dan akhirat, kejelekan dunia dan kejelekan akhirat, Ya Allah Terimalah doa kami sesungguhnya engkau maha mendengar lagi maha mengetahui terimalah taubat kami sesungguhnya engkau maha menerima taubat lagi welas kasih ,Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan hidup di dunia dan kebaikan hidup di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api neraka.


Itulah Kumpulan Doa-doa Selamat Lengkap 2 persi dalam bahasa arab,dan terjemahannya yang dapat Anda panjatkan disetiap waktu dan/atau minimal setelah sholat. Semoga kita semua diberi kesalaman baik di dunia maupun di akhirat. Amin.(al-Inaya)

Thursday, May 24, 2018

Mintalah Kepada Allah Sampai Perkara Remeh Sekalipun

Berdoalah kepada Allah, meminta segala sesuatu, dari perkara besar sampai perkara kecil-kecil. Allah Ta’ala berfirman:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Ghafir: 60).
Mintalah Kepada Allah Sampai Perkara Remeh Sekalipun
Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman:
يا عبادي ! كلكم جائعٌ إلا من أطعمتُه . فاستطعموني أُطعمكم . يا عبادي ! كلكم عارٍ إلا من كسوتُه . فاستكسوني أكْسُكُم
“Wahai hamba-Ku, kalian semua kelaparan, kecuali orang yang aku berikan makan. Maka mintalah makan kepadaku, niscaya aku akan berikan. Wahai hamba-Ku, kalian semua tidak berpakaian, kecuali yang aku berikan pakaian, Maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya akan aku berikan” (HR. Muslim no. 2577).


Perhatikan, urusan makan dan pakaian, Allah perintahkan kita untuk meminta kepada-Nya. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إِذَا تَمَنَّى أَحَدُكُم فَلْيُكثِر ، فَإِنَّمَا يَسأَلُ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
“Barangsiapa yang mengangankan sesuatu (kepada Allah), maka perbanyaklah angan-angan tersebut. Karena ia sedang meminta kepada Allah Azza wa Jalla” (HR. Ibnu Hibban no. 889, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 437).

Aisyah radhiallahu ta’ala ‘anha juga mengatakan:

سَلُوا اللَّهَ كُلَّ شَيءٍ حَتَّى الشِّسعَ
“Mintalah kepada Allah bahkan meminta tali sendal sekalipun” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 2/42, Al Albani berkata: “mauquf jayyid” dalam Silsilah Adh Dha’ifah no. 1363).

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan:
وكان بعض السلف يسأل الله في صلاته كل حوائجه حتى ملح عجينه وعلف شاته
“Dahulu para salaf meminta kepada Allah dalam shalatnya, semua kebutuhannya sampai-sampai garam untuk adonannya dan tali kekang untuk kambingnya” (Jami’ Al Ulum wal Hikam, 1/225).

Maka perbanyaklah doa kepada Allah, bahkan perkara yang kecil-kecil karena semakin menunjukkan kefaqiran kita di hadapan Allah Ta’ala. Wallahu a’lam.(al-inaya)

Friday, May 11, 2018

Hikmah hikmah Puasa

Hikmah Menjalankan Puasa Ramadhan | Menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim yang telah baligh dan memenuhi syarat baik syrat syah ataupun syarat wajib . Dan barangsiapa tidak menjalankannya , maka hukumnya berdosa . Dan wajib menggantinya di lain waktu serta wajib juga untuk membayar fidyah . Ketentuan – ketentuan ini , sudah kita pelajari di pembahasan sebelumnya . 


Allah swt memerintahkan sesuatu kepada hambanya bukan tanpa alasan , serta setiap yang diperintahkan pasti ada hikmah dan ada manfaatnya di balik itu semua . Begitupun kewajiban berpuasa di bulan ramadhan ada hikmah serta manfaatnya . Hal ini banyak di jelaskan di dalam Al-qur’an dan Hadist . Untuk lebih jelasnya , perhatikan pembahasan di bawah ini . 

Hikmah Menjalankan Puasa Ramadhan 

Puasa ramadhan ,dilakukan bukan hanya bertujuan untuk menahan lapar dn haus , akan tetapi dengan berpuasa ramadhan seseorang yang melakukan harus benar -benar mampu menahan dan mengendalikan hawa nafsunya . Serta harus menjalankan ibadah yang menjadi kewajibannya juga , seperti shalat , zakat , dzikir , membaca al-qur’an , membantu antar sesama dan berbuat baik kepada sesama apapun itu bentuknya . Dan tujuan utama dari melakukan puasa yaitu supaya orang tersebut dapat enjadi seseorang yang bertaqwa . Seperti yang dijelasakan Allah swt dalam QS. Al-Baqarah ayat 183 : 

يا أيها الذين أمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa ruasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.

Dengan demikian , maka hikmah dan manfaat dari menjalankan puasa ramadhan bagi yang menjalankannya adalah: 

1. Melatih diri Untuk menjadi pribadi yang Lebih tabah dan sabar 

Di bulan ramadhan , seperti yang telah di bahas sebelumnya bahwasannya , kita menjalankan puasa bukan sekedar menahan lapar dan haus . Akan tetapi dengan kita melakukan puasa ramadhan maka kita akan dilatih untuk terbiasa dapat menahan amarah , serta tidak berburuk sangka terhadap orang lain . Dan kita juga akan terbiasa untuk bersabar menghadapi sesuatu , tidak mudah untuk terpancing oleh omongan – omongan orang lain tentang diri kita . 

Maka , dengan demikian kita dapat menjadi pribadi yang sabar dan tabah bukan hanya di bulan ramadhan , namun di bulan – bulan selanjutnya . 

2. Tercapainya derajat ketaqwaan seseorang 

Dengan menjalankan ibadah puasa , maka seseorang akan menjalankan kebaikan – kebaikan seperti yang Allah swt perintahkan dan menjauhi semua larangan Allah swt . Dengan demikian , maka dengan menjalankan ibadah puasa maka seseorang mampu menjadi pribadi yang lebih bertaqwa lagi kepada Allah swt . Dan di bulan ramadhan juga , kita sebagai orang muslim yang menjalankan ibadah puasa akan merasa selalu di awasi oleh Allah swt , semangat untuk melakukan hal – hal yang diperintahkan oleh Allah swt serta lebih mendekatkan diri kepada Allah swt . 

Maka dari itu , hikamah dari berpuasa ramadhan adalah menjadikan seseorang bertaqwa kepada Allah swt . 

3. Melatih seseorang menjadi lebih menghargai waktu ( lebih disiplin ) 

Seseorang yang menjalankan puasa , maka hidupnya akan lebih teratur . Sebagai contoh kita yang tidak terbiasa bangun pagi , dengan menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan maka kita akan lebih teratur bangun pagi untuk menjalankan makan sahur . Dan bagi yang makannya tidak teratur dengan puasa makannya akan teratur yaitu ketika sahur dan berbuka puasa . Dengan terbiasanya bangun pagi , maka di bulan – bulan selanjutnya hidupnya akan teratur dan yang pasti tidak malas untuk bangun pagi . 

4. Melatih seseorang menjadi lebih Bersyukur 

Disaat kita menjalankan ibadah puasa , kita hanya makan dua kali di saat berbuka puasa dan waktu sahur . Dengan demikian , maka kita akan lebih merasa bersyukur dengan apa yang kita makan selama ini ketika kita tidak berpuasa . Dengan demikian rasa syukur itu akan muncul pada diri seseorang tersebut . 

5. Menjadikan seseorang Lebih pedulli terhadap sesama 

Sesama muslim adalah saudara . Dan ikatan itu di bulan ramadhan sangat terjalin dengan erat . Hal ini dapat kita lihat dari beberapa contoh diantaranya adalah : 
Memberi makan tajil untuk berbuka , secara cuma – cuma ( berbuka puasa gratis ) 
Shalat berjama’ah 
Saling berbagi ilmu agama 

Dan kebiasaan ini , akan terjalin dan terbiasa di bulan – bulan di luar bulan ramadhan . 

6. Mempererat silaturahmi 

Dengan kita menjalankan ibadah puasa , dan kita setiap malam menjalankan shalat tarawih secara berjama’ah dan mengaji di masjid . Maka dengan adanya kegiatan seperti itu setiap hari dan menjadikan setiap hari bertemu , maka yang awalnya tidak pernah bertemu menjadi bertemu yang biasanya tidak akrab menjadi akrab . Dan kebiasaan ini juga akan berlanjut di bulan – bulan di luar bulan ramadhan . 

7. Semua hal yang dilakukan adalah ibadah 

Semua hal atau perbuatan baik bernilai ibadah . Apalagi di bulan ramadhan , bulan dimana pahala kita dilipatgandakan . Dengan membiasakan diri dbulan ramadhan untuk berbuat baik , maka kita akan terbiasa di hari – hari di bulan di luar bulan ramadhan . 

8. Membiasakan diri untuk berhati – hati dalam berbuat 

Dengan menjalankan ibadah puasa , maka kita akan menghidari hal – hal yang dapat mengurangi pahala puasa kita yaitu dengan menjaga lisan , perbuatan dan hati . Dengan demikian setelah kita membiasakan diri berbuat baik di bulan ramadhan , kita akan terbiasa serta akan berhati – hati dalam bertindak . Karena ingat bahwa Allah swt mengetahui semua hal yang kita kerjakan . 

9. Melatih diri untuk Hidup sederhana 

Ketika kita makan di waktu berbuka , pasti kita akan merasakan betapa nikmatnya berbuka puasa tersebut walaupun berbuka hanya dengan air putih dan sesuap nasi . Dengan merasakan hal itu , pasti kita akan sadar dan kita akan lebih menghargai makanan serta akan melatih diri kita untuk lebih sederhana dalam hidup . Karena sesungguhnya Allah swt tidak menyukai dengan hal yang berlebihan . Dan lebih menyukai hal yang sederhana . 

10. Menunjukkan Keseimbangan Hidup 

Berpuasa , adalah bentuk ibadah seorang hamba kepada Allah swt . Dan sesungguhnya Ibadah adalah kewajiban kita sebagai manusia sebagi seorang hamba Allah swt . Dengan menjalankan puasa di bulan ramadhan , maka kita telah menjalankan kewajiban untuk bekal kelak di akhirat . 

Serta keseimbangan hidup kita yaitu kebutuhan dunia dan akhirat , dengan kata lain dengan berpuasa maka kita telah menjalankan kebutuhan akhirat dan sejenak meninggalkan kebutuhan dunia . Karena kebutuhan dunia jika akan diikuti bakal tidak ada ujungnya atau dengan kata lain kepuasan dari diri manusia tidak ada ujungnya . Namun yang perlu diingat kepentingan dunia dan akhirat harus seimbang . 

11. Setiap ibadah , memiliki tujuan 

Semua hal yang kita lakukan , pasti memiliki tujuan dan maksud . Begitupun dengan ibadah puasa , kita menjalankan ibadah puasa dengan tujuan untuk melatih diri supaya tidak melakukan perbuatan – perbuatan yang dilarang oleh Allah swt . Serta melatih diri untuk lebih bertaqwa kepada Allah swt . 

12. Menjadi pribadi yang lebih baik 

Ketika menjalankan ibadah puasa , kita harus menghindari perbuatan – perbuatan yang dapat mengurangi pahala puasa . Siapa sih yang menginginkan pahala puasa kita berkurang dan hanya mendapat rasa lapar dan haus . Tentu tidak bukan ? Maka kita harus dapat mengontrol emosi , serta perbuatan – perbutan yang buruk . 

Dan seharusnya , walaupun kita telah tidak berada di bulan ramadhan hendaknya kebaikan – kebaikan yang dilakukan di bulan ramadhan tetap berlanjut di bulan selanjutnya . Dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik . 

13. Hikmah puasa dalam bidang kesehatan 

Selain secara syar’i , puasa juga memiliki hikmah di bidang kesehatan . Hikmah atau manfaat yang dapat di dapat di bidang kesehatan antara lain yaitu : 
Mengurangi tekanan darah 
Mengurangi kadar diabetes 
Mengurangi berat badan 
Mengurangi resiko stuk 
Sebagai obat magh 

Namun , walaupun berpuasa dapat bermanfaat dalam kesehatan kita harus mengutamakan hikmah yang paling utama yaitu hikmah secara syar’i atau seperti yang telah dijelaskan nomor 1 sampai dengan 12 . 

Subhanallah . . . .Begitu banyak hikmah dari menjalankan ibadah puasa ramadhan . Jadi , masa iya kita akan menyianyiakan kesempatan emas untuk mendapat pahala serta mendapat tubuh yang sehat . Tentu tidak bukan ? atau adakah yang masih bermalas – malasan untuk tidak mengerjakan puasa ramadhan serta kewajiban yang lain ? Jika masih ada , berarti anda menginginkan menjadi orang yang rugi . 

Semoga dengan penjelasan di atas mengenai hikmah menjalankan puasa ramadhan dan manfaatnya , kita dalam menjalankan ibadah puasa di tahun ini menjadi pribadi yang lebih baik serta menjadi muslim yang berada dalam lindungan Allah swt serta mendapat keberkahan dariNya . Dan semoga dengan penjelasan di atas kita akan lebih semangat lagi dalam menjalankan ibadah puasa . Amin 



Thursday, June 1, 2017

Pidato tentang Haji


Assalamualaikum Wr. Wb.

قال الله تعالى الحج اشهر معلومات فمن فرض فيهن الحج فلا رفث ولا فسوق ولاجدال فى الحج الاية, اما بعد
Yang kami hormati. ......
Yang kami hormati .......
Yang kami Hormati:………

HADIRIN YANG DIROHMATI ALLAH
Pertama- tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang mana Allah SWT telah memberikan nikmat kepada kita semua sehingga kita bisa berkumpul, bermuwajahah, bermuwahalah dalam majlis yang penuh dengan barkah ini

Kedua kalinya marilah kita haturkan shalawat dan salam kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW karena dengan sebab adanya beliau kita dapat mencicipi manisnya iman, islam dan Ihsan
Ketiga kalinya saya taklupa pula banyak mengucapkan terima kasih kepada pembawa acara pada kesempatan ini karena telah memerikan waktu pada diri saya untuk memberikan sedikit Mauidah hasanah atau ceramah agama pada kesempatan ini dengan mengusung thema kesunnahan dalam romadhan.

 Hadirin yang berbahagia
Kita melakukan perjalanan setidaknya karena tiga hal. Pertama perjalanan untuk berdagang atau bekerja. Kedua untuk traveling, berwisata. Ketiga untuk beribadah. Untuk perjalanan pertama dan kedua, sudah barang tentu perjalanan yang dilakukan adalah untuk kepentingan, kebutuhan dan kesenangan kita.

Orang-orang yang berbisnis misalnya, lalu mencoba peruntungannya merantau ke luar daerah adalah karena mencoba berusaha memenuhi hajat hidupnya di tanah lain. Terlebih lagi jika perjalanan itu dalam rangkamelancong, mencari suasana alam yang indah seperti gunung, lautan, air terjun, atau ke tempat-tempat yang dipenuhi dengan seabrek fasilitas hidup yang menyenangkan, adalah tujuannya untuk menyenangkan diri, memenuhi hasrat pribadi. Tapi lain lagi, jika kita berbicara perjalanan yang dilakukan karena Ibadah. Perjalanan itu tidak hanya untuk menentramkan kita, tapi lebih untuk menyenangkan Allah.

Salah satu contoh real perjalanan untuk ibadah adalah haji. Haji di dalam firman Allah dikatakan:

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ ...

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah...” (al-Baqarah)

Kata lillah di dalam penggalan ayat di atas memiliki tiga dimensi. Pertama karena Allah. Mengindikasikan bahwa sumber pelita keinginan melakukan perjalanan haji hanya karena Allah.
Kehadiran Allah adalah api yang menyalakan keinginan untuk berhaji. Tanpa adanya kesadaran tentang Allah yang Segala Maha, maka tidak ada keinginan untuk berhaji. Kedua lillah sebagai dengan Allah. Bahwa setiap rangkaian ibadah di dalam haji, seperti berihram, melempar jumrah, sa’i, thawaf, bertahallul dan ritual ibadah lainnya adalah proses yang selalu mewujudkan Allah.

Dengan bahasa sederhana, jika kita berhaji, maka setiap detik yang kita lakukan untuk berproses dalam rangkaian ibadah haji adalah detik-detik kita membersamai Allah, tidak pernah terlepas dengan kehadiran Allah. Ketiga, lillah karena untuk Allah. Bahwa kita berhaji bukan karena haji itu sendiri.


Berdoa saat Haji / Wikimedia.org 
Kita berhaji bukan hanya karena penunaian akan ibadah haji itu sendiri, sehingga kita merasa puas setelah berhaji. Bahkan yang lebih tidak memenuhi kriteria haji sebagai ibadah, apabila kita berhaji hanya agar kita bisa menyematkan titel haji di deretan nama kita, dan agar ketika pulang, masyarakat sekitar menambahkan panggilan dengan kata “haji”.
Padahal, dengan jelas kata lillah dalam ayat tersebut menetapkan bahwa haji itu untuk Allah, untuk keridhaan Allah, untuk keberkahan Allah, untuk kesenangan Allah dan kecintaan Allah.
Karena haji untuk kesenangan Allah, dengan begitu kita, yang hendak berhaji harus menjawab satu pertanyaan yang paling penting, “haji seperti apakah yang dicintai Allah?”. Dalam satu riwayat dikatakan:

الْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Dan tidak ada ganjaran lain bagi haji mabrur selain surga." (HR. Bukhari, Muslim, Tirmdizi, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad dan Malik)

Dengan jelas hadis ini menunjukkan bahwa surga baru bisa menjadi balasan buat seseorang, apabila hajinya telah mabrur. Dengan kata lain, haji yang diterima Allah yang disenangi oleh Allah sehingga layak bagi Allah memberikan penunai hajinya balasan surga, apabila hajinya telah mambrur di mata-Nya.
Dengan begitu maka kemambruran haji adalah bukti Allah telah mencintai haji seseorang dan menerima perjalanan ibadahnya dengan keridhaan. Sebaliknya, tidak mambrurnya haji seseorang orang membuktikan hajinya gagal membuat Allah menerima perjalanannya sebagai Ibadah.
Tentu tidak ada satu pun dari kita dan umat muslim lainnya yang bisa memastikan apakah haji seseorang bisa dikatakan mabrur ataukah tidak. Sebab perkara diterimanya amal adalah perkara ghaib yang menjadi hak preogratif Allah.

Kita umat manusia hanya bisa berusaha melakukan hal-hal yang telah dipersyarakatkan Allah agar kiranya para calon haji menunaikan syarat-syarat tersebut sembari berdoa agar Allah memabrurkan ibadah hajinya.Untuk itu, jalan mambrur yang bisa ditempuh oleh orang yang mau hajinya diterima Allah adalah mengindahkan segala prasyarat dan ketentuan yang Allah berikan secara baik dan taat.
Keikhlasan dan ittba ar-rasul (mengikuti rasul) adalah syarat pertama yang mutlak dilakukan oleh calon haji. Di dalam kitab taisir al-Allam, keikhlasan di dalam niat seseorang adalah madar al-‘amal, sumber penentu amal menjadi diterima atau tidak. 

Lafal lillah dalam kutipan ayat di atas dan juga penjelasannya kiranya sudah cukup menjadi dalil atas mutlaknya keikhlasan seseorang di dalam berhaji.
Mengikuti Rasul juga menjadi syarat mutlak kemabruran ibadah haji. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasul dengan tegas menyatakan contohlah cara manasik hajiku”. Lafal ini sama dengan perintah Rasul Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat ku Shalat”.
Dengan begitu, dari segi ibadah, maka haji dan shalat tidaklah berbeda. Jika keseluruhan rangkaian ibadah shalat mulai dari takbir hingga salam semuanya harus berpatokan pada praktek Rasul, maka haji pun demikian.
Tidak sah haji seseorang, apabila ia menambah-nambahi atau mengurangi rangkaian ibadah haji di luar dari yang telah dituntunkan oleh Rasulullah. Dengan begitu maka bagi para calon jamaah haji, dituntut untuk belajar fiqh al-Haj (fiqih haji) agar menghindari perbuatan-perbuatan yang bisa membatalakan haji.
Dua hal tersebut adalah syarat mutlak dari segi syariahnya, di mana ketika seseorang tidak melakukan keduanya, maka dengan pasti hajinya batal. Selain dari syarat mutlak dari segi syariatnya, terdapat juga prasyarat yang bisa diketahui dari segi tarbiyahnya (pendidikannya).
Syarat tersebut dapat ditemukan dari hadis Rasullah yang meriwayatkan bahwa ada beberapa Sahabat yang bertanya kepada Rasulullah tentang ke-mambrur-an haji.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ: مَا بِرُّ الْحَجِّ؟، قَالَ: " إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ "

Dari Jabir bin Abdillah, Bahwa Rasulullah ditanya, Apa kemabruran haji? Beliau menjawab “Memberikan makan dan menebarkan salam"

Dalam riwayat lain, Rasulullah menjawab

...طِيبُ الْكَلَامِ وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ

“...perkataan yang baik dan memberikan makanan”

Dua riwayat ini menunjukkan bahwa indikasi kemambruran haji seseorang tidak hanya ditentukan pada ritual hajinya, tetapi juga implikasi dari haji tersebut. Dengan kata lain, kwalitas haji seseorang tidak hanya dapat diukur ketika khusyu-nya seseorang saat melakukan ritual haji, di mana ia sangat menjaga sensitifitas hubungannya dengan Allah, tetapi juga pada seberapa faham dan konsisten dia menerapkan nilai-nilai haji di dalam kehidupannya setelah berhaji.

Sebagaimana yang tergambar jelas dari keterangan di atas, bahwa Rasulullah menyebutkan tiga kebiasaan yang mengindikasikan seseorang telah berhasil melalui tarbiyah haji dan benar-benar membentuk dia menjadi hamba yang telah berhaji kepada Allah.
Pertama adalah baiknya lisan. Ketika berhaji, Allah dengan tegas melarang seseorang untuk berkata jorok dan berbantah-bantahan. Seseorang yang melakukannya ketika berhaji akan mengurangi kesempurnaan hajinya, bahkan bisa membatalkan haji.
Ternyata larangan ini, jika dikaitkan dengan hadis Rasulullah di atas memiliki hubungan yang signifikan. Bahwa larangan Allah tidak berkata jorok dan berbantah-bantahan merupakan pelatihan yang Allah berikan kepada seseorang dalam proses hajinya dengan harapan setelah melaksanankan haji, ia akan menjadi manusia yang baik perkataannya kepada sesama manusia lain,dan tidak senang membuat onar atau memicu konflik.
Kedua, Bertalian dengan indikasi kemambruran pertama, mambrurnya haji seseorang oleh Rasulullah diindikasikan pada senangnya ia menebarkan salam. Dalam al-Qur’an Allah juga melarang orang yang berhaji melakukan maksiat.
Sementara wilayah kemaksiatan itu tidak hanya pada pengingkaraannya pada ketaatan kepada Allah, tetapi juga perbuatan buruknya terhadap makhluk lain. Oleh karenanya larangan ini, kemudian dispesifikasikan oleh Rasulullah dengan tidak bolehnya seorang haji membunuh hewan dan mencabut rumput selama ritual haji.
Menghindari kemaksiatan dan menghindari perkataan yang tidak baik adalah dua pangkal yang membuat seorang yang telah berhaji akan senantiasa menebarkan salam sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah. Kata ifsya as-Salam, oleh K. H. Mustafa Bisyri dikatakan tidak hanya sebatas mengucapkan “assalamu ‘alaikum” saja. Tetapi lebih dalam dari itu.
Perintah menebarkan salam oleh Rasulullah mengharuskan orang muslim menjadi manusia yang gemar menebarkan kebaikan, mencegah teror dan menjamin perlindungan orang-orang disekitarnya dari ancaman tangan dan lisannya. Seseorang yang betul-betul memaknai haji harusnya senantiasa menjaga perkataanya, menghindari konflik dan gemar menebarkan kedamaian.

Indikasi ketiga mambrurnya haji seseorang yang disabdakan oleh Rasulullah diwakili dengan ungkapan “ith’am at-Tha’am”, (memberikan makanan). Ungkapan ini dikatakan sebagai simbol karena memaknainya tidak hanya sebatas tekstualnya belaka, tidak hanya memberikan makanan saja. Akan tetapi dengan ungkapan ini, Rasulullah ingin membetitahukan bahwa mambrurnya haji adalah haji yang bisa membentuk pelakunya menjadi manusia yang peduli terhadap lingkungan sosial dan mau bergerak untuk perubahan yang lebih baik.
Dalam sejarah kemerdekaan indonesia, kita akan menemukan sosok-sosok haji seperti ini pada diri tokoh-tokoh kita seperti K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asy’ari. Kedua tokoh ini memulai titik perjuangannya setelah pulangnya mereka dari perjalanan haji.

Ketika sampai di tanah tercinta Indonesia, mereka langsung memperhatikan lingkungan sekitar, masyarakat pribumi yang terjerat kemiskinan, pemiskinan, kebodohan dan pembodohan.
Nilai-nilai haji yang telah melebur dengan kepribadian mereka kemudian menjadi amal nyata yang hingga kini masih kita rasakan pada dua organisasi Islam terbesar di Indonesia yaitu Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama.

Semoga kelak nantinya kita semua mampu menjalankan Haji sebagai perjalana Ibadah. Perjalanan yang Allah terima dengan kemambruran. Perjalanan yang membentuk pribadi kita menjadi insan yang taat kepada Allah, berlisan baik, penebar kedamaian, dan agen perubahan ke arah yang lebih baik. Wallahu musta’an wallahu ala kulli syain qadir.
Demikian ceramah tentang haji ini kami sampaikan semoga dengan adanya ceramah ini kita dapat mengambil hikmahnya dan semoga kita bisa segera melaksanakan haji bagi yang belum melaksanakan haji, trimakasih kami sampaikan 

Wassalamu alaikum Wr. Wb.