Showing posts with label Doa 4 Bulanan Penting. Show all posts
Showing posts with label Doa 4 Bulanan Penting. Show all posts

Saturday, July 7, 2018

Syiah: Melukai Diri di Hari Asyura Termasuk Ibadah

Syiah menganggap bahwa melukai diri, melakukan niyahah, berpakaian hitam, adalah suatu ibadah mulia. Itulah yang didapati pada mereka di hari Asyura (10 Muharram).

Syiah Menganggap itu Sebagai Ibadah

Dalam kitab Syiah sendiri disebutkan,

إن اللطم والتطبير ولبس السواد في عاشوراء والنياحة من أعظم القربات للحسين بل هذه الأفعال من الأعمال الممدوحة

“Sesungguhnya menampar, memainkan pisau ke badan, dan mengenakan pakaian hitam di hari Asyura, juga bentuk niyahah bersedih hati saat itu merupakan di antara bentuk ibadah –pendekatan diri- dalam rangka mengenang Husain. Bahkan amalan seperti ini termasuk amalan terpuji.” (Lihat: Fatawa Muhammad Kasyif Al Ghitho war Ruhaani wat Tibriziy wa Ghoirihim min Maroji’il Imamiyah)

Syiah Kecewa atas Pembunuhan di Hari Asyura

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

“Setiap muslim seharusnya bersedih atas terbunuhnya Husain radhiyallahu ‘anhu karena ia adalah sayyid-nya (penghulunya) kaum muslimin, ulamanya para sahabat dan anak dari putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Fathimah yang merupakan puteri terbaik beliau. Husain adalah seorang ahli ibadah, pemberani dan orang yang murah hati. Akan tetapi kesedihan yang ada janganlah dipertontokan seperti yang dilakukan oleh Syi’ah dengan tidak sabar dan bersedih yang semata-mata dibuat-buat dan dengan tujuan riya’ (cari pujian, tidak ikhlas). Padahal ‘Ali bin Abi Tholib lebih utama dari Husain. ‘Ali pun mati terbunuh, namun ia tidak diperlakukan dengan dibuatkan ma’tam (hari duka) sebagaimana hari kematian Husain. ‘Ali terbenuh pada hari Jum’at ketika akan pergi shalat Shubuh pada hari ke-17 Ramadhan tahun 40 H.

Begitu pula ‘Utsman, ia lebih utama daripada ‘Ali bin Abi Tholib menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah. ‘Utsman terbunuh ketika ia dikepung di rumahnya pada hari tasyriq dari bulan Dzulhijjah pada tahun 36 H. Walaupun demikian, kematian ‘Utsman tidak dijadikan ma’tam (hari duka). Begitu pula ‘Umar bin Al Khottob, ia lebih utama daripada ‘Utsman dan ‘Ali. Ia mati terbunuh ketika ia sedang shalat Shubuh di mihrab ketika sedang membaca Al Qur’an. Namun, tidak ada yang mengenang hari kematian beliau dengan ma’tam (hari duka). Begitu pula Abu Bakar Ash Shiddiq, ia lebih utama daripada ‘Umar. Kematiannya tidaklah dijadikan ma’tam (hari duka).

Lebih daripada itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau adalah sayyid (penghulu) cucu Adam di dunia dan akhirat. Allah telah mencabut nyawa beliau sebagaimana para nabi sebelumnya juga mati. Namun tidak ada pun yang menjadikan hari kematian beliau sebagai ma’tam (hari kesedihan). Kematian beliau tidaklah pernah dirayakan sebagaimana yang dirayakan pada kematin Husain seperti yang dilakukan oleh Rafidhah (baca: Syi’ah) yang jahil. Yang terbaik diucapkan ketika terjadi musibah semacam ini adalah sebagaimana diriwayatkan dari ‘Ali bin Al Husain, dari kakeknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda,

ما من مسلم يصاب بمصيبة فيتذكرها وإن تقادم عهدها فيحدث لها استرجاعا إلا أعطاه الله من الأجر مثل يوم أصيب بها

“Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah, lalu ia mengenangnya dan mengucapkan kalimat istirja’ (innalillahi wa inna ilaihi rooji’un) melainkan Allah akan memberinya pahala semisal hari ia tertimpa musibah” Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah. Demikian nukilan dari Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wan Nihayah, 8: 221.

Hadits berikut pun menjelaskan bahwa yang dilakukan orang Syiah di hari Asyura termasuk kesesatan. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّة

“Tidak termasuk golongan kami siapa saja yang menampar pipi (wajah), merobek saku, dan melakukan amalan Jahiliyah.” (HR. Bukhari no. 1294 dan Muslim no. 103).

Niyahah yang Dilakukan Syiah

Niyahah adalah jika seseorang bersedih dan menangisi mayit serta menghitung-hitung berbagai kebaikannya. Ada yang mengartikan pula bahwa niyahah adalah menangis dengan suara keras dalam rangka meratapi kepergian mayit atau meratap karena di antara kemewahan dunia yang ia miliki lenyap. Niyahah adalah perbuatan terlarang. Demikian penjelasan penulis ‘Aunul Ma’bud ketika menjelaskan maksud niyahah. Lihat ‘Aunul Ma’bud, 8: 277.

Niyahah termasuk larangan bahkan dosa besar karena diancam dengan hukuman (siksaan) di akhirat kelak. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Malik Al Asy’ari radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

« أَرْبَعٌ فِى أُمَّتِى مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِى الأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِى الأَنْسَابِ وَالاِسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ ». وَقَالَ النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ

“Empat hal yang terdapat pada umatku yang termasuk perbuatan jahiliyah yang susah untuk ditinggalkan: (1) membangga-banggakan kebesaran leluhur, (2) mencela keturunan, (3) mengaitkan turunnya hujan kepada bintang tertentu, dan (4) meratapi mayit (niyahah)”. Lalu beliau bersabda, “Orang yang melakukan niyahah bila mati sebelum ia bertaubat, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dan ia dikenakan pakaian yang berlumuran dengan cairan tembaga, serta mantel yang bercampur dengan penyakit gatal” (HR. Muslim no. 934).

Ulama besar Syafi’i, Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Mengenai orang yang melakukan niyahah lantas tidak bertaubat sampai mati dan disebutkan sampai akhir hadits, menunjukkan bahwa haramnya perbuatan niyahah dan hal ini telah disepakati. Hadits ini menunjukkan diterimanya taubat jika taubat tersebut dilakukan sebelum mati (nyawa di kerongkongan).” (Syarh Muslim, 6: 235)

Silakan ditimbang-timbang dari penjelasan di atas, apakah kelakukan Syiah di hari Asyura dengan menampar pipi, melukai diri, teriak-teriak sedih suatu kebaikan?

Hanya Allah yang menganugerahkan hidayah.(al-Inaya/Msl)

Thursday, July 5, 2018

Doa Merupakan Ibadah yang Agung dalam Islam

Berdoa merupakan perkara yang agung dalam Islam. Kedudukannya sangatlah tinggi. Hal itu dikarenakan doa termasuk ibadah yang paling agung, ketaatan yang paling mulia, dan bentuk taqarrub yang paling bermanfaat. Oleh karena itu dalam Alquran dan As-Sunnah terdapat banyak penjelasan mengenai keutamaan, kedudukan, keagungan, dan kebaikan yang terkandung dalam doa guna mendorong seorang hamba untuk melakukan ibadah tersebut dan mencintainya.


Macam-Macam Indikasi (dalalah) yang Menunjukkan Keutamaan Doa

Dalam dalil-dalil, terdapat berbagai macam indikasi (dalalah) yang menunjukkan keutamaan doa. Dalam sebagian dalil terdapat dorongan dan perintah Allah terhadap hamba-Nya untuk berdoa.

Pada sebagian lainnya terdapat ancaman bagi orang yang meninggalkan berdoa kepada Allah dan sombong dari melakukannya. Dalam sebagian dalil lainnya terdapat penyebutan pahala yang besar di sisi Allah bagi orang yang berdoa. Pada dalil lainnya terdapat pujian bagi kaum mukminin karena mereka berdoa kepada Allah semata. Selain itu, terdapat banyak indikasi (dalalah) lain dalam dalil-dalil yang menunjukkan besarnya keutamaan doa.

Allah Ta’ala Membuka Kitab-Nya yang Agung dengan Doa dan Menutupnya dengan Doa

Bahkan Allah Ta’ala telah membuka Kitab-Nya yang agung dengan doa dan menutupnya dengan doa pula. Dalam surat pertama: Al-Fatihah, mengandung doa kepada Allah dengan isi doa yang paling agung dan tujuan yang paling sempurna, yaitu permohonan kepada Allah Ta’ala agar ditunjuki hidayah kepada jalan yang lurus dan pertolongan dalam beribadah kepada-Nya semata. Sedangkan dalam surat terakhir, An-Nas, mengandung juga doa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu dengan memohon perlindungan kepada-Nya semata dari keburukan al-waswas al-khannas yang menggoda manusia. Tentu tiada keraguan sama sekali bahwa dibukanya Kitabullah dengan doa dan ditutupnya dengan doa menunjukkan agungnya ibadah doa dan ketinggian kedudukannya.

Nama Lain dari Doa dalam Alquran Al-Karim dan Rahasia yang Terkandung dalam Penamaannya

Ketahuilah bahwa doa adalah ruh dari ibadah dan intisarinya, bahkan Allah Ta’ala menyebut doa dengan nama “ibadah” dalam banyak ayat-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’” (QS. Ghafir: 60).

وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَىٰ أَلَّا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا

“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.”

فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ ۖ وَكُلًّا جَعَلْنَا نَبِيًّا

“Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya’qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi” (QS. Maryam: 48- 49).

Dan Allah-pun menyebut doa dengan nama ad-diin, sebagaimana firman Allah berikut ini,

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Maka berdoalah (dan beribadahlah) kepada Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya)” (QS. Ghafir: 14).

Hal ini menunjukkan bahwa doa adalah ibadah yang agung dan doa merupakan asas dan ruh dari peribadahan. Doa juga merupakan gambaran perendahan diri, ketundukan, rasa tidak berdaya, dan sangat butuhnya seorang hamba di hadapan Rabb-nya, Allah ‘Azza wa Jalla.(al-Inaya/Msl)

Friday, June 1, 2018

DOA TAHLIL LENGKAP


أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ حَمْدَ النَّاعِمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِك

A'uudzu billaahi minasy-syaithaanir rajiim. Bismillaahir Rahmaanir Rahiim. Alham-dulillaahi Rabbil'aalamiin, 
DOA TAHLIL LENGKAP
hamdasy-syaakiriin, hamdan naa'imiin, hamday yuwaafii ni'amahuu wa yukaafii maziidah, yaa rabbanaa lakal hamdu kamaa yambaghii Iijalaali wajhika waazhiimi sulthaanik.
Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah penguasa alam semesta, sebagaimana orang-orang yang bersyukur dan orang-orang yang mendapat banyak kenikmatan memuji-Nya. dengan pujian yang sepadan dan nikmat-Nya dan memungkinkan pertambahannya. Wahai Tuhan kami, pujian hanyalah untuk-Mu, sebagaimana yang layak akan kemuliaan Dzat-Mu dan keagungan kekuasaan-Mu.

اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى اْلاَوَّلِيْنَ. وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى اْلآخِرِيْنَ. وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِيْ كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنٍ. وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى الْملاَءِ اْلاَعْلَى اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

Allaahumma shalli wa sallimalaa sayyidinaa Muhammadin Fil Awwalin, Washalli wa sallimalaa sayyidinaa Muhammadin Fil Akhirin, Washalli wa sallimalaa sayyidinaa Muhammadin Fil Kulli Waqtin Wahin, Washalli wa sallimalaa sayyidinaa Muhammadin Fil Malail a’la Ila Yaumiddin,
Ya Allah Tambahan rahmat dan keselamatan atas Nabi Muhammad SAW di dalam awal,akhirnya dan setiap waktu dan masa dan di tempat yang tinggi yang paling tinggi sampai pada hari qiyamah(pembalasan)

اَللهُمَّ تَقَبَّلْ وَاَوْصِلْ ثَوَابَ مَاقَرَأْنَاهُ مِنَ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَمَا هَلَّلْنَا وَمَا سَبَّحْنَا وَمَااسْتَغْفَرْنَا وَمَا صَلَّيْنَا عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَدِيَّةً وَاصِلَةً وَرَحْمَةً نَازِلَةً وَبَرَكَةً شَامِلَةً اِلَى حَضْرَةِ حَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَقُرَّةِ اَعْيُنِنَا سَيِّدِنَا وَمَوْلنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Allaahumma taqobbal wa aushil tsawaba maa qoro'naahu minal qur'aanil 'azhiimi wamaa hallalnaa wa maa sabbahnaa wa mastaghfarnaa wa maa shollainaa 'alaa sayyidinaa muhammadin shollalloohu 'alaihi wa sallama hadiyyatan waashilatan wa rohmatan naazilatan wa barokatan syaamilatan ilaa hadhrotin habiibinaa wa syafii'inaa wa qurroti a'yuninaa sayyidinaa wa maulaanaa muhammadin shollallaahu 'alaihi wa sallam, 
Ya Allah, terimalah dan sampaikanlah pahala Al-Qur'an yang kami baca, tahlil kami, tasbih kami, istighfar kami dan shalawat kami kepada Nabi Muhammad SAW sebagai hadiah yang menjadi penyambung, sebagai rahmat yang turun dan sebagai berkah yang menyebar kepada kekasih kami, penolong kami dan buah hati kami, pemuka dan pemimpin kami, yaitu Nabi Muhammad SAW, 

وَاِلَى جَمِيْعِ اِخْوَانِه مِنَ الْاَنْبِيَآءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالْاَوْلِيَآءِ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَالْعُلَمَآءِ الْعَالِمِيْنَ 
وَالْمُصَنِّفِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَجَمِيْعِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِى سَبِيْلِ اللهِ فِيْ كُلِّ زَمَانٍ وَمَكاَنٍ وَخُصُوْصًا اِلَى سَيِّدِنَا الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ الْجَيْلاَنِيِّ والاولياء التسعة الذين بلغوا الدين الاسلام في إندنيسيا وفي العالم من مشارق الارض الى مغاربها ثُمَّ اِلى جَمِيْعِ اَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ مِنْ مَشَارِقِ اْلاَرْضِ اِلَى مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا خُصُوْصًا اِلَى آبَآءِنَا وَاُمَّهَاتِنَا وَاَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا وَنَخُصُّ خُصُوْصًا مَنِ اجْتَمَعْنَاههُنَا بِسَبَبِه وَلِاَجْلِه
Wa Ilaa Jamii'i Ikhwaanihii Minal Anbiyaa'i Walmursaliina Wal Auliyaa'i Wasy-Syuhadaa'i Wash-Shoolihiina Wash Shohaabati Wattaabi'iina Wal 'Ulamaa'il 'Aamiliina Wal Mushonnifiinal Mukhlishiina Wa Jamii'il Mujaahidiina Fii Sabiilillaahi Fi Kulli Makanin Wazamanin,Wa Khushuushon Ilaa Sayyidinasy Syaikh 'Abdil Qoodir Aljailaani Wal Auliyaa Attis’ah Allazdina Ballaghuddinal Islam Fi Indonesia Wafil Alam Min Masyariqil Ardhi Ila Magharibaha, Tshumma Ilaa Jamii'i Ahlil Qubuuri Minal Muslimiina Walmuslimaati Walmu'miniina Walmu'minaati Mim Masyaariqil Ardhi Ilaa Maghooribihaa Barrihaa Wabahrihaa Khushushon Ilaa Aabaainaa Wa-Ummahaatinaa Wa-Ajdaadinaa Wajaddaatinaa Wanakhush-Shu Khushuuson Manijtama'naa Haahunaa Bisababihii Wali-Ajlihii.
juga kepada seluruh kawan-kawan beliau dari kalangan para Nabi dan Rasul, para wali, para syuhada', orang-orang shalih, para sahabat, para tabi'in, para ulama yang mengamalkan ilmunya, para pengarang yang ikhlas dan orang-orang yang berjihad di jalan Allah disetiap saat dan tempat, khususnya ditujukan kepada Syekh Abdul Qadir Jailani. Dan para wali yang Sembilan yang telah menyebarluaskan islam di Negara Indonesi dan seluruh dunia dari ujung timur sampai ujung barat, Kemudian kepada seluruh penghuni kubur dari kalangan orang-orang islam laki-laki dan perempuan, orang mukmin laki-laki dan perempuan, dari belahan bumi timur dan barat, di laut dan di darat, terutama keapda bapak-bapak dan ibu-ibu kami, kakek dan nenek kami, lebih utamakan lagi kepada orang yang menyebabkan kami berkumpul di sini.

اَللهُمَّ اغْفِرْلَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُم اَللهُمَّ اَنْزِلِ الرَّحْمَةَ وَالْمَغْفِرَةَ عَلى اَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنْ اَهْلِ لَآاِلهَ اِلاَّ الُله مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ وَخُصُوْصًا اِلَى حَضْرَةِ رُوْحِ …..
اَللهُمَّ اَرِنَاالْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَااتِّبَاعَهُ وَاَرِنَاالْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَااجْتِنَابَهُ  إِلَهِ عَافِنَا وَاعْفُ عَنَّا وَعَلَى طَاعَتِكَ وَشُكْرِكَ أَعِنَّا وَعَلَى ْالِاسْلَامِ وَالْاِيْمَانِ جَمْعًا تَوَفَّناَ وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا, رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ 
Allaahummaghfir Lahum Warhamhum Wa 'Aafihim Wa'fu 'Anhum Allaahumma Anzilir Rohmata Walmaghfirota 'Alaa Ahlilqubuuri Min Ahli Laa Ilaaha Illallaahu Muhammadur Rasuulullaah  Allaahumma Arinal Haqqo Hqaaon Warzuqnat Tibaa'ahu, Wa Arinal Baathila Baathilan Warzuqnaj Tinaabahu Robbanaa Aatinaa Fiddunyaa Hasanah, Wafil Aakhiroti Hasanah Waqinaa 'Adzaaban Naar. Subhaana Robbika Robbil 'Izzati 'Ammaa Yashifuun, Wasalaamun 'Alal Mursaliina Walhamdu Lillaahi Robbil 'Aalamiin. Al-Faatihah :
Ya Allah, turunkanlah rahmat dan ampunan kepada ahli kubur yang selalu mengucapkan "Laailaaha illallaah muhammadur rasuulullaah" (Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah)  Wabil khusu kepada …….(yang meninggal sebut)
Ya Allah, tunjukanlah kepada kami kebenaran adalah suatu kebenaran dan anugerahilah kami untuk mengikkutinya dan tunjukkanlah kepada kami kebatilan adalah suatu kebatilan dan anugerahilah kami untuk menjauhinya. Wahai Tuhan kami, Sembuhkanlah kami dan Ampunilah kami, dan atas patuh kepadamu dan bersyukur kepadamu adalah sebuah pertolongan,dan atas islam dan iman matikanlah kami dan engkau meridhoinya, berikanlah kami kebaikan didunia dan kebaikan di akhirat, serta jauhkanlah kami dari siksa api neraka, Masa suci Tuhanmu, Tuham pemilik kemuliaan, dari sifat-sifat yang mereka (musuh-musuhNya) berikan. Keselamatan selalu tertuju kepada Rasul, dan segala puji bagi Allah penguasa alam semesta. ALFATIHAH,

Demikian doa tahlil ini kami tulis semoga bermanfaat bagi kawan-kawan semua dan apabila anda suka atas artikel ini ikuti dan komin di bawah.(al-Inaya)

Thursday, May 31, 2018

2 macam Doa selamat dunia akhirat lengkap

Dalam setiap hal yang akan kita perbuat tentunya harus diiringi dengan doa kepada zdat yang maha pemberi yaitu allah SWT,doa sebagai senjata yang ampuh bagi umat islam sehingga umat islam tidak boleh lepas dari berdoa untuk keselamatan dirinya dari segala keburukan yang akan terjadi.
2 macam Doa selamat dunia akhirat lengkap 

Doa selamat ini kami tulis untuk berbagi kepada semua pembaca agar tuntunan doa dari Rasulullah ini di amalkan dalam kehidupan sehari hari dan menjadi senjata ampuh untuk kesuksesan kita dunia akhirat.Aminnnn.

اَللهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ سَلاَمَةً فِى الدِّيْنِ وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً عْدَ الْمَوْتِ اَللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِى سَكَرَاتِ الْمَوْتِ وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ
رَبَّنَا لاَتُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْهَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ 

Ya Allah kami memohon kepadaMu keselamatan dalam agama, dan ke sejahteraan/kesegaran pada tubuh dan penambahan ilmu, dan keberkahan rizqi, serta taubat sebelum mati dan rahmat di waktu mati, dan keampunan sesudah mati. Ya Allah, mudahkanlah kami saat pencabutan nyawa, selamat dari api neraka dan mendapat kemaafan ketika amal diperhitungkan, Ya Allah, janganlah Kau goyahkan hati kami setelah Kau beri petunjuk dan berilah kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi



Dan disambung dengan doa selamat ke 2 berikut untuk melengkapi doa yang pertama:

أَلِّلهمَّ أْكتُبِ السَّلَامَةَ وَالصِّحَّةَ وَاْلعَافِيَةَ لَنَا وَلْلمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنَ الْحَاضِرِيْنَ وَاْلغَائِبِيْنَ يَاأَرْحَمَ أْلرَّاحِمِيْنَ,أَلَّلهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ سَلَامَةً فِيْ دِيْنِنَا وَأَهْلِيْنَا وَأَوْلَادِنَا وَأَمْوَاِلنَا وَعَافِيَةً فِيْ أَجْسَادِنَا وَزِيَادَةً فِيْ عِلْمِنَا وَبَرَكَةً فِيْ رِزْقِنَا وَتَوْبَةً قَبْلَ اْلمَوْت وَرَاحَةً عِنْدَاْلمَوتْ وَمَغْفِرَةً بَعْدَاْلمَوتْ أَلَّلُهمَّ إِفْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ اْلخَيْر وَأَبْوَابَ الرَّحْمَةِ وَأَبْوَابَ اْلبَرَكَةِ وَأَبْوَابَ النِّعْمَةِ وَأَبْوَابَ اْلقُوَّةِ وَأَبْوَابَ الصِّحَّةِ وَأَبْوَابَ السَّلَامَةِ وَأَبْوَاَب اْلعَافِيَةِ أَلَّلهُمَّ عَافِنَا مِنْ كُلِّ بَلَاءٍ الدُّنْيَا وَبَلًاءِ اْلاَخِرَةِ وَشَرِّالدُّنْيَا وَشَرِّاْلاَخِرَةِ رَبَّناَ تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمِ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ رَبَّنَا أَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Yang Artinya : Ya Allah Gariskanlah keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan bagi kami dan bagi kaum muslim dan muslimat yang hadir ataupun yang tidak hadir wahai zdat yang maha welas kasih. Ya Allah sesungguhnya kami memohon keselamatan di dalam agama kami, keluarga kami, anak-anak kami harta-harta kami tubuh kami atau fisik kami, dan tambahkanlah ilmu dan keberkahan dalam rizqi kami dan terimalah taubat kami sebelum kami mati lapangkanlah kami dikala kami mati, ampunilah kami setelah kami mati, Ya Allah bukalah bagi kami pintu-pintu kebaikan pintu-pintu rahmat pintu-pintu barakah pintu-pintu nikmat pintu-pintu kekuatan pintu-pintu kesehatan pintu-pintu keselamatan pintu-pintu kesehatan, Ya Allah lindungilah kami dari seluruh penyakit dunia dan akhirat, kejelekan dunia dan kejelekan akhirat, Ya Allah Terimalah doa kami sesungguhnya engkau maha mendengar lagi maha mengetahui terimalah taubat kami sesungguhnya engkau maha menerima taubat lagi welas kasih ,Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan hidup di dunia dan kebaikan hidup di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api neraka.


Itulah Kumpulan Doa-doa Selamat Lengkap 2 persi dalam bahasa arab,dan terjemahannya yang dapat Anda panjatkan disetiap waktu dan/atau minimal setelah sholat. Semoga kita semua diberi kesalaman baik di dunia maupun di akhirat. Amin.(al-Inaya)

Sunday, May 27, 2018

Hukum Berhubungan Suami Istri Pada Saat Haid

Banyak masyarakat-masyarakat kita yang masih bimbang tentang hukum berhubungan suami istri pada saat haid atau menstruasi. Mereka masih bertanya-tanya, sebenarnya bagaimanakah hukum berhubungan suami istri pada saat haid? Bila pada saat istri sedang haid lalu suami memakai pengaman apakah boleh? Bagaimanakah hukum berhubungan suami istri pada saat haid?

Hukum berhubungan suami istri walaupun dengan haail (penghalang) adalah haram. menyentuh sesuatu antara pusar dan lutut istri pada waktu sedang haid walaupun tanpa syahwat adalah haram, karena adanya firman Allah SWT yang berbunyi: 

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ (٢٢٢)
222. mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri[137] dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci[138]. apabila mereka telah Suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. [QS. Al-Baqarah, ayat 222].
[137] Maksudnya menyetubuhi wanita di waktu haidh.
[138] Ialah sesudah mandi. Adapula yang menafsirkan sesudah berhenti darah keluar.

Namun, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa tidak apa-apa asalkan tidak sampai berhubungan suami istri berdasar hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang berbunyi: “Berbuatlah semaumu, selain nikah (berhubungan suami istri).” [HR. Muslim].


Pendapat yang mengatakan bahwa haram berhubungan suami istri pada saat istri sedang haid, menyentuh sesuatu antara pusar dan lutut, itu mengecualikan bagian badan dari istri yang lain , dalam artian Bagi suami, boleh bersenang-senang dengan anggota tubuh istri selain anggota tubuh istri antara pusar kebawah dan lutut ke atas.

Lalu, bagaimanakah jika istri yang menyentuh sang suami (perkara antara pusar dan lutut)?

Imam Al-Asnawiy berkata: “Para Ulama diam (tidak berkomentar) dari masalah istri menyentuh suami antara pusar dan lutut. Namun, bila menurut qiyas, istri menyentuh kemaluan suami atau sesuatu antara pusar dan lutut hukum nya sama seperti suami menyentuh istri pada saat haid.”

Berhubungan suami istri saat istri sedang haid adalah dosa besar bagi orang yang sengaja dan tahu keharamannya dan dilakukan secara sadar (tidak ada unsur paksaan). Bahkan bagi yang menghalalkan berhubungan suami istri saat haid, orang itu dihikumi kafir, seperti yang diterangkan di kitab Majmu’. Berbeda dengan orang yang tidak tahu atau lupa atau dipaksa.


Ketika darah haid atau mens telah berhenti (haid telah selesai) atau haid belum bersih, maka tidak boleh melakukan hubungan suami istri atau bersenang-senang antara pusar dan lutut sampai sang istri mandi atau tayamum (apabila tidak ada air). Artinya, setelah haid berhenti dan istri belum mandi, maka haram bagi suami untuk menggauli istrinya. Adapun berhubungan suami istri saat nifas diqiyaskan dengan haid, dalam artian haram berhubungan suami istri.

Demikianlah ulasan seputar hukum berhubungan suami istri pada saat haid, semoga bermanfaat. Mohon share dengan memberikan Like, atau komentar anda di bawah ini, agar menjadi referensi bagi teman sosial anda. Terima kasih. (Referensi: Semua diambil dari kitab Mughni Al-Muhtaaj, cetakan daarulkutuub, Baerut, Lebanon, Juz 1, halaman 166-167.) (al-Inaya)

Friday, May 25, 2018

Kajian adzan dalam agama Islam lengkap

Alhamdulillah di negeri kita tercinta Indonesia, syiar Islam sangat tampak secara umum. Perlu kita perhatikan bahwa syiar Islam bukan hanya potong tangan dan hukum cambuk saja, akan tetapi syiar Islam juga berupa ibadah-ibadah yang kita lakukan sehari-hari seperti adzan dan laki-laki datang ke masjid memenuhi panggilan Allah. Jilbab juga termasuk syariat Islam yang perlu kita perjuangankan dan tegakkan. Mari kita tegakkan syariat dan syiar Islam dimulai dari yang sederhana dahulu, dimulai dari diri kita, keluarga dan lingkungan di sekitar kita dan semoga semua masyarakat muslim bisa melaksanakan syariat Islam dengan sempurna.
Kajian adzan dalam agama Islam lengkap
Adzan adalah syiar agama Islam. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,
وإن شعار الدين الحنيف هو: الأذان المتضمن للإعلان بذكر الله، الذي به تفتح أبواب السماء، فتهرب الشياطين، وتنزل الرحمة
“Di antara syi’ar-syi’ar agama yang hanif ini adalah adzan yang mengandung pengumuman untuk berdzikir (mengingat) Allah ta’ala. Dengan adzan ini, terbuka pintu-pintu langit, para setan lari terbirit-birit dan turun rahmat (ketenangan)” (Al-Iqtidha Shiratil Mustaqim hal. 218).

Hal ini sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, beliau bersabda,
إذا نُودِيَ بالصلاةِ فُتحتْ أبوابُ السماءِ ، واسْتُجيبَ الدعاءُ
“Jika adzan untuk shalat dikumandangkan, maka pintu-pintu langit dibuka, dan doa-doa dikabulkan” (HR. Ath-Thayalisi, Silsilah Ash Shahihah no. 1413).

Bahkan ketika kita sendiri saja, tetap disyariatkan adzan karena memang adzan merupakan syariat dan syiar Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا كَانَ الرَّجُلُ بِأَرْضٍ قِيٍّ، فَحَانَتِ الصَّلاَةُ فَلْيَتَوَضَّأْ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ مَاءً فَلْيَتَيَمَّمْ، فَإِنْ أَقَامَ صَلَّى مَعَهُ مَلَكَاهُ، وَإِنْ أَذَّنَ وَأَقَامَ صَلَّى خَلْفَهُ مِنْ جُنُوْدِ اللهِ مَا لاَ يُرَى طَرْفاَهُ
“Bila seseorang berada di tanah yang tandus tidak berpenghuni lalu datang waktu shalat, ia pun berwudhu dan bila tidak beroleh air ia bertayammum. Jika ia menyerukan iqamah untuk shalat akan shalat bersamanya dua malaikat yang menyertainya. Jika ia adzan dan iqamah maka akan shalat di belakangnya tentara-tentara Allah yang tidak dapat terlihat dua ujungnya” (HR. Abdurrazzaq dengan sanad shahih).


Dalam riwayat yang lainnya, tetap melakukan adzan ketika sedang mengembala.

Dari Abdurrahman Abdullah bin Abdurrahkan bin Abi Sha’sha’ah Al-Anshari dari ayahnya, beliau mengabarkan bahwa Abu Said Al-Khudri mengatakan kepadanya,
إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ أَوْ بَادِيَتِكَ فَأَذَّنْتَ بِالصَّلاةِ فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ فَإِنَّهُ لَا يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلَا إِنْسٌ وَلا شَيْءٌ إِلا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ : سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Sungguh aku melihat engkau senang menggembala kambing dan hidup di pedesaan. Kalau engkau di tempat (gembala) kambing atau desa, lalu engkau azan untuk shalat, maka tinggikan suaramu ketika azan. Karena jin dan manusia atau sesuatu apapun yang mendengar suara muazin, akan menjadi saksi di hari kiamat.’ Abu Said mengatakan, ‘Saya mendengarkannya dari Rasulullah sallahu’alaihi wa sallam” (HR. Bukhari).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Ustaimin menjelaskan bahwa hukum adzan dan iqamah ketika sendiri adalah sunnah sedangkan ketika banyak orang hukumnya fardhu. Beliau berkata,
الأذان والإقامة للمنفرد سنة ، وليسا بواجب
“Adzan dan iqamah bagi orang yang hanya sendiri hukumnya adalah sunnah bukan wajib” (Fatawa Syaikh Al-‘Utsaimin 12/161).

Bahkan yang benar-benar menunjukkan adzan merupakan syiar kaum muslimin adalah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyerang suatu daerah jika terdengar adzan.

Dari Anas bin Malik beliau berkata,
كان رسول الله صلي الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُغِيرُ إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ وَكَانَ يَسْتَمِعُ اْلأَذَانَ فَإِنْ سَمِعَ أَذَانًا أَمْسَكَ وَإِلاَّ أَغَارَ
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerang (suatu kaum) ketika terbit fajar. Dan Beliau memperhatikan adzan. Apabila Beliau mendengar, maka Beliau menahan. Dan bila tidak (mendengar), maka Beliau menyerang” (HR Muslim).

Dalam keadaaan perang saja, adzan tetap harus ditegakkan dan dilaksanakan shalat berjamaah.
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاَةَ فَلْتَقُمْ طَآئِفَةُُ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلِيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِن وَرَآئِكُمْ وَلْتَأْتِ طَآئِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُم مَّيْلَةً وَاحِدَةً وَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن كَانَ بِكُمْ أَذًى مِّن مَّطَرٍ أَوْ كُنتُم مَّرْضَى أَن تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ إِنَّ اللهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا
“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat bersamamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu” (An-Nisa’ 102).


Ibnu Mundzir rahimahullah berkata,
ففي أمر الله بإقامة الجماعة في حال الخوف : دليل على أن ذلك في حال الأمن أوجب
“Perintah Allah untuk tetap menegakkan shalat jamaah ketika takut (perang) adalah dalil bahwa shalat berjamaah ketika kondisi aman lebih wajib lagi” (Al- Ausath 4/135).

Demikian semoga bermanfaat dan menjadikan semangat bagi para muadzdzin untuk terus mengumandangkan adzan di setiap tempat dan waktu.(al-inaya)

Monday, October 3, 2016

Lafad Khususon arab dan arti lengkap

Untuk para ikhwan dimana saja dan pembaca blog yang budiman, Khususon dengan menggunakan bahasa Arab lebih utama dari pada Bahasa lainnya nah merupakan mata rantai khasanah dalam hikmah yang tidak boleh putus karena disitulah tali rohani/ spiritual bagi seorang penghayat hikmah yang sejati.
kesambungan dari ikhwan kepada para perawat/guru ke gurunya guru yang terus sambung menyambung kepada Rasulullah SAW.

[baca Khususon Arab dan Tahlil lengkap

Untuk itu bagi para ikhwan kami sajikan dan kami apload bacaan khususan dengan bahasa arab ini dan semoga bermanfaat bagi kita semua, khususan ini bisa kita gunakan disemua khususan disetiap kita akan mengirimkan fatihah kepada guru guru kita orang terdekat bagi kita.
di dalam khususan ini mengarah kepada
para wali (SYAKH ABDUL QODIR JAILANI , WALI SONGO,PARA ORANG YANG MATI SYAHID, PARA ALIM ULAMAK, DAN ORANG SHALEH LAINNYA )dan para guru dan para orang tua kita sanak kerabat kita dan sanak family kita semua baik yang meninggal ataupun yang masih hidup dan semoga Cahaya Hikmah terus terpancar kuat dari hati saudara-saudara,

inilah khususannya

اَلْفَاتِحَةُ لِرِضَاءِ اللهِ تَعَالىَ اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ اِلَى اَرْوَاحِ أَبَائِه ِوَإِخْوَانِهِ مِنَ الْاَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَاِلَى جَمِيْعِ سَادَاتِنَا وَمَوَالِيْنَا اَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَجَمِيْعِ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ اَجْمَعِيْنَ… الفاتحة ...
Artinya:
Hadharoh kepada Rosulullah yang terpilih yaitu Nabi Muhammad SAW kemudian kepada semua ruh ruh keluarga Nabi, saudara Nabi dari para Ambiyak/ para Nabi dan Para Utusan. dan juga kepada semua para Shabat Abukar Umar dan Utsman dan Ali dan para shabat rosul lainnya Alfatihah

ثُمَّ اَلْفَاتِحَةُ إِلَى حَضْرَةِ جَمِيْعِ الْأَوْلِيَاءِ مِنْ مَشَارِقِ الْأَرْضِ إِلَى مَغَارِبِهَا وَإِلَى حَضْرَةِ الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ الْجَيْلَانِيْ وَالْأَوْلِيَاءِ التِّسْعَةِ الَّذِيْنَ بَلَّغُوْا الدِّيْنَ الْإِسْلَامِ فِى إِنْدُوْنِيْسِيَّا وَغَوْثِ هَذَا الزَّمَانِ وَجَمِيْعِ الشُّهَدَاءِ وَالْعُلَمَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالْمُفَسِّرِيْنَ وَالْمُحَدِّثِيْنَ وَالْمُجَاهِدِيْنَ فِى سَبِيْلِ اللهِ فِى كُلِّ زَمَانٍ وَمَكَانٍ وَإِلَى حَضْرَةِ أَرْوَاحِ الْمَشَايِخِ كِيَاهِىْ مُحَمَّدْ خَلِيْل بِنْ عَبْدِ اللَّطِيْف بَغْكَالَانْ وَإِلَى حَضْرَةِ جَمِيْعِ مَشَايِخِنَا سِيْدُوْكِيْرِيْ أَوَّلًا وَأَخِرًا وَجَمِيْعِ مَشَايِخِنَا أَوَّلًا وَأَخِرًا وَأُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِمْ وَيُعِيْدُ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِهِمْ وَأَنْوَارِهِمْ … الفاتحة ...
Kemudian fatihah dihadharohkan kepada semua para wali mulai dari ujung timur sampai ujung barat, dan kepada Syahk Abdul Qodir jailani dan para wali yang sembilan yang sudah menyebarluaskan Islam di Indonesi dan semua para syuhadak, ulamak, sholihin, mufassirin, muhadditsin, mujahidin dalam jalan Allah disepanjang waktu dan tempat dan arwah guru kita kiai Kholil bin Abdullathif Bangkalan, keepada semua guru kita sidogiri awal dan akhir dan semua guru kita awal dan semua cucunya semoga rohmat Allah menyertainya dan barokahnya akan kembali kepada kita, Alfatihah.
ثُمَّ اْلفَاتِحَةُ إِلَى أَرْوَاحِ جَمِيْعِ مَشَايِخِنَا وَأَسَاتِذَتِنَا وَمُعَلِّمِنَا وَمُرَبِّنَا وَمَنْ أَحَبَّنَا فِى اللهِ وَمَنْ أَوْصَانَا بِالْفَاتِحَةِ وَالدَّعَوَاتِ الْخَيْرَاتِ وَمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا وَإِلَى أَرْوَاحِ مَنْ أَجَازَنَا بِالدَّعَوَاتِ وَالْأَحْزَابِ وَالْأَوْرَادِ وَالْعُلُوْمِ النَّافِعَاتِ نَفَعَنَا اللهُ بِهِمْ وَبِعُلُوْمِهِمْ … الفاتحة ...
kemudian kepada ruh ruh guru-guru kita para pendidik kita dan orang yang cinta kita di dalam jalan Allah dan orang yang berwasiat dengan dakwah kebaikan dan orang yang punya hak kepada kita dan arwah orang yang memberi ijazah kepada kita dengan doa, hizib,wirid dan ilmu yang bermanfaat. semoga Allah memberikan kemanfaatan kepada kita dengan adanya mereka dan ilmu mereka. al-fatihah.

3. ثُمَّ اْلفَاتِحَةُ إِلَى حَضْرَةِ وَالِدِيْنَا وَاَمْوَاتِنَا وَاَمْوَاتِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ إِنَّ اللهَ تعالى يَغْفِرُ لَهُمْ وَيَرْحَمُهُمْ وَيُسْكِنُ لَهُمُ الْجَنَّةَ ثُمَّ يَشْفَعُ بِهَا حَضْرَةُ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئٌ للهِ لَنَا وَلَهُمْ الفاتحة … الفاتحة ...

kemudian fatihah disampaikan kepada orang tua kita dan orang yang meninggal di antara kita yaitu orang -orang islam laki dan perempuan orang mukmin laki-laki dan orang mukmin perempuan semoga Allah mengampuni mereka dan welaskasih kepada mereka dan diletakkan di surga dan diberi syafaat oleh baginda Nabi Muhammad SAW Al-Fatihah.

[baca lafad khususon arab dan arti lengkap 2

Demikian khususan ini kami bagikan semoga bermanfaat. amin.