Showing posts with label Doa Kelahiran Penting. Show all posts
Showing posts with label Doa Kelahiran Penting. Show all posts

Thursday, July 12, 2018

Memahami Konsep Rezeki dalam Islam.

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kita akan lanjutkan kajian kita mengenai konsep rezeki dalam islam…


Artikel Sebelumnya: Memahami Konsep Rezeki dalam Islam1

Keempat, kita akan dihisab oleh Allah untuk semua yang kita usahakan. Tak terkecuali semua pemasukan yang kita dapatkan. Meskipun belum tentu kita akan memanfaatkannya.

Allah berfirman,

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Kemudian, pada hari kiamat itu, sungguh kalian akan ditanya tentang kenikmatan.” (QS. at-Takatsur: 8).

Kita tidak hanya ditanya tentang bagaimana cara mendapatkan harta, termasuk bagaimana mengunakan harta. Dalam hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya. (HR. Turmudzi 2417, ad-Darimi 537, dan dishahihkan al-Albani)

Yang akan dihisab oleh Allah tidak hanya harta yang menjadi kebutuhan sekunder atau tersier, termasuk yang menjadi harta kebutuhan primer, dan bahkan makanan yang dikonsumsi seseorang ketika sedang kelaparan.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,

“Pada suatu siang hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar. Kemudian beliau berpapasan dengan Abu Bakar dan Umar. Beliau bertanya, “Apa yang menyebabkan kalian keluar dari rumah kalian pada saat-saat seperti ini?”

Abu Bakar dan Umar menjawab, “Lapar wahai Rasulullah.”

Beliau bersabda, “Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, yang membuat aku keluar sama seperti yang menyebabkan kalian keluar. Mari berangkat”.

Maka Abu Bakar dan Umar beranjak bersama beliau. Beliau menemui seseorang dari kalangan Anshar –dalam suatu riwayat disebutkan rumah Abu Ayyub al-Anshari-, yang ternyata ia tidak berada di rumahnya. Ketika istrinya melihat kedatangan beliau, maka dia berkata, “Marhaban wa ahlan”.

Beliau bertanya, “Dimana suamimu?”

Wanita itu menjawab, “Dia pergi untuk mencari air tawar bagi kami.”

Hingga sahabat pemilik datang. Dia memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dua orang rekannya (Abu Bakr & Umar). Dia berkata, “Alhamdulillah…, pada hari ini tidak ada yang mendapatkan tamu-tamu yang lebih mulia selain diri tamuku.”

Lalu sahabat itu beranjak lalu datang lagi sambil membawa tandan yang di dalamnya ada korma basah dan korma yang sudah dikeringkan. Dia berkata, “Makanlah hidangan ini”. Lalu dia akan mengambilkan tempat minum.

Beliau bersabda, “Tak perlu engkau memerah air susu.”

Kemudian sahabat itu menyembelih domba, dan mereka semua makan dan minum. Setelah mereka kenyang, beliau bersabda kepada Abu Bakar dan Umar,

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الْجُوعُ ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هَذَا النَّعِيمُ

“Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, kalian benar-benar akan ditanya tentang kenikmatan ini pada hari kiamat. Rasa lapar telah membuat kalian keluar dari rumah, kemudian kalian tidak kembali melainkan setelah mendapat kenikmatan ini.” (HR. Muslim 5434).

Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِى الْعَبْدَ مِنَ النَّعِيمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ وَنُرْوِيكَ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ

“Sungguh nikmat yang akan ditanyakan pada hamba pertama kali pada hari kiamat kelak adalah dengan pertanyaan: “Bukankah Kami telah memberikan kesehatan pada badanmu dan telah memberikan padamu air yang menyegarkan?” (HR. Tirmidzi no. 3358 dan dishahihkan al-Albani).

Karena itu, semakin banyak pemasukan seseorang, dia akan menjalani hisab yang lebih lama. sehingga menyebabkan dia tertunda masuk surga. Dalam hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ يَسْبِقُونَ الأَغْنِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى الْجَنَّةِ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا

“Sesungguhnya kaum muhajirin yang miskin, mereka mendahului masuk surga pada hari kiamat, 40 tahun sebelum orang kaya.” (HR. Ahmad 6735, Muslim 7654, dan Ibnu Hibban 678).

Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُسْلِمِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِنِصْفِ يَوْمٍ، وَهُوَ خَمْسُ مِائَةِ عَامٍ

“Orang muslim yang miskin akan masuk surga sebelum orang muslim yang kaya dengan selisih setengah hari, yang itu setara dengan 500 tahun.” (HR. Ahmad 8521, Turmudzi 2528, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Dua hadis ini tidaklah bertentangan. Al-Qurthubi memahaminya bahwa perbedaan ini kembali kepada perbedaan keadaan orang miskin dan orang kaya yang bersangkutan. Jika persaingan itu terjadi antar-sesama Muhajirin, selisihnya masuk surga antara miskin dan kaya terpaut 40 tahun. Sementara selain Muhajirin, setengah hari di waktu kiamat, sepadan dengan 500 tahun. (at-Tadzkirah, al-Qurthubi, hlm. 548).

Kita tidak perlu kepada orang yang lebih kaya… karena berarti kita iri kepada orang yang hisabnya lebih lama…

وَلَوْ أَنَّا إِذَا مِتْنَا تُرِكْنَا ***** لَكَانَ المَوْتُ رَاحَةً كُلِّ حَيٍّ

وَلَكِنَّا إِذَا مِتْنَا بُعِثْنَا ***** وَنَسْأَلُ بَعْدَهَا عَنْ كُلِّ شَيْءٍ

Sekiranya ketika mati, kita dibiarkan begitu saja. Tentu kematian adalah kesempatan beristirahat bagi setiap orang yang pernah hidup.

Namun, setelah mati kita akan dibangkitkan kembali, dan akan ditanya tentang segala sesuatu…

Kelima, prestasi manusia tidak diukur dari seberapa banyak harta yang dia miliki, tapi dari seberapa banyak dia bisa memberikan manfaat bagi umat.

Ada sebuah hadis yang menyatakan,

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ

“Manusia yang paling dicintai Allah, adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (at-Thabrani dalam as-Shaghir, 862 – majma’ zawaid 13708)

Dulu, waktu kita diaqiqahi, orang tua kita tidak lupa menuliskan harapan untuk anaknya di secarik kertas, ‘Semoga menjadi anak yang soleh – solehah, berguna bagi orang tua, agama dan masyarakat.’

Semenjak bayi, ortu menitipkan sebuah amanah yang luar biasa. Ortu berharap kita menjadi manusia yang serba guna. Bahkan terkadang ditambah, berguna bagi nusa dan bangsa.

Rasa-rasanya, hanya akan menjadi angan-angan kosong belaka. Yang jelas, orang tua kita menghendaki agar kita menjadi pribadi yang bermanfaat.

Melimpahnya harta yang ada di tangan anda, memang sebuah kelebihan. Tapi anda bisa pastikan, seberapa besar manfaat kelebihn itu, ketika tidak dikendalikan.

Coba anda bayangkan, ketika anda bergelimang harta, sementara hanya anda yang bisa memanfaatkannya, dan orang lain hanya bisa melihat. Bisakah dikatakan bermanfaat?

Bagaimana cara mengendalikannya?

Jawabannya, tentu saja dengan menggunakan ‘pengendali’ dunia akhirat. Itulah syariat.

Islam menghargai semua kelebihan manusia, namun kelebihan itu baru ternilai, ketika pemiliknya paham syariat dan ilmu agama. Karena hanya dengan modal paham aturan agama, manusia bisa mengendalikan segala kelebihannya dengan benar, sehingga manfaatnya lebih luas. Standar inilah yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadis hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

النَّاسُ مَعَادِنُ، خِيَارُهُمْ فِي الجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الإِسْلاَمِ، إِذَا فَقُهُوا

“Manusia adalah barang tambang. Manusia terbaik di zaman jahiliyah dia juga yang terbaik setelah masuk islam, apabila dia paham agama.” (HR. Bukhari 3383 dan Muslim 2526)

Barang tambang beraneka ragam tingkatannya. Di sana ada emas, ada perak, nikel, besi, bahkan kerikil dan pasir. Masing-masing memiliki nilai yang jauh berbeda sesuai kelebihannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan manusia sebagaimana layaknya barang tambang. Masing-masing memiliki nilai yang berbeda sesuai tingkat kelebihannya. Namun semua itu baru memiliki arti, ketika dia paham agama.

Orang yang paham agama, dan berusaha mengamalkannya, akan menggunakan potensi hartanya untuk sesuatu yang bermanfaat bagi umat.

Dari Abu Kabsyah Al-Anmari radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ أُقْسِمُ عَلَيْهِنَّ ، وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ ، قَالَ : مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ ، وَلاَ ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلِمَةً ، فَصَبَرَ عَلَيْهَا ، إِلاَّ زَادَهُ اللهُ عِزًّا ، وَلاَ فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ ، إِلاَّ فَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ ، أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا ،  وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ ، قَالَ : إِنَّمَا الدُّنْيَا لأَرْبَعَةِ نَفَرٍ : عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَعِلْمًا ، فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَيَعْلَمُِ للهِ فِيهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالاً ، فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ ، يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ ، فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا ، فَه ُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ ، لاَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ ، وَلاَ يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَلاَ يَعْلَمُ ِللهِ فِيهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالاً وَلاَ عِلْمًا ، فَهُوَ يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلاَنٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ ، فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ.

“Ada tiga perkara yang aku bersumpah atasnya, dan aku akan menceritakan kepada kalian suatu perkataan, maka hafalkanlah. Beliau bersabda: “Harta seorang hamba tidaklah berkurang disebabkan shodaqoh, dan tidaklah seorang hamba terzholimi dengan suatu kezholiman lalu ia bersabar dalam menghadapinya melainkan Allah menambahkan kemuliaan kepadanya, dan tidaklah seorang hamba membuka pintu utk meminta-minta (kepada orang lain, pent) melainkan Allah akan bukakan baginya pintu kefakiran, -atau suatu kalimat semisalnya-. Dan aku akan sampaikan kepada kalian satu perkataan kemudian hafalkanlah.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya dunia ini hanya milik empat golongan saja,

(1) Seorang hamba yang dikaruniai harta dan ilmu kemudian ia bertakwa kepada Rabb-nya, menyambung silaturrahim dan mengetahui hak-hak Allah, inilah kedudukan yang paling mulia.

(2) Seorang hamba yang dikaruniai ilmu tapi  tidak dikaruniai harta, kemudian dengan niat yang tulus ia berkata: ‘Jika seandainya aku mempunyai harta, maka aku akan beramal seperti amalannya si fulan itu.’  Dengan niat seperti ini, maka pahala keduanya sama.

(3) Seorang hamba yang dikaruniai harta namun tidak diberi ilmu, lalu ia membelanjakan hartanya secara serampangan tanpa dasar ilmu, , ia tidak bertakwa kepada Rabbnya, tidak menyambung silaturrahim, dan tidak

mengetahui hak-hak Allah, maka ia berada pada kedudukan paling rendah.

(4) Dan seorang hamba yang tidak dikaruniai harta dan juga ilmu oleh Allah ta’ala, lantas ia berkata: ‘Kalau seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan berbuat seperti yang dilakukan si Fulan.’ Maka ia dengan niatnya itu, menjadikan dosa keduanya sama.”(HR. Turmudzi  2325, Ahmad 18194 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).(Al-inaya/Ks)

Demikian, Allahu a’lam.

Wednesday, June 6, 2018

Khususon arab dan Tahlil Lengkap

Sudah menjadi hal yang lumrah dan menjadi rutinitas doa di seluruh Indonesia bagi orang-orang yang meninggal dunia karena tidak ada lagi sumbangan yang pantas untuk dipersembahkan kepada yang mati melainkan doa, sumbangan yang pantas bukan mobil, bukan harta dan bukan jabatan yang dibutuhkan oleh para syuhadak atau orang-orang yang meninggal hanyalah doa dari orang yang hidup dalam suatu hadist disebutkan “ semua amal didunia akan putus kecuali tiga hal. 1 Sedekah jariyah 2 ilmu yang bermanfaat 3 anak yang mendoakannya” ditinjau dari hadist tadi bahwa penting sekali sebuah keluarga atau anak untuk mendoakan bapak atau ibunya yang meninggal, salah satu cara dengan mengadakan Tahlil dan yasin bersama untuk dihadiahkan kepadanya, inilah khususon arab dan arti lengkap yang akan kami persembahkan buat para pembaca yang budiman yang akan dilengkapi dengan tahlil,

Khususan Fatihah Tahlil

اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاَلِهِ وَاَزْوَاجِهِ وَاَوْلاَدِه وَذُرِّيَّاتِهِ وَاِلَى اَرْوَاحِ سَيِّدِنَا اَبِيْ بَكْرٍوَّعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَاَلَى بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ اَجْمَعِيْنَ وَخُصُوْصًا لَهُمُ الْفَاتِحَةُ

Fatihah ini dihadarohkan kepada Nabi yang terpilih Nabi Muhammad SAW, keluarga, istri beliau, anak beliau, keturunan beliau dan dihadarohkan kepada shahabat Abubakar, Umar, Ustman dan Ali dan semua sahabat-sahabat kesemuanya, Al-Fatihah.

ثُمَّ اِلَى حَضَرَاتِ اِخْوَانِهِ مِنِ اْلاَنْبِيَآءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَاْلاَوْلِيَآءِ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وُالْعُلَمَآءِ الْعَامِلِيْنَ وَالْمُصَنِّفِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَجَمِيْعِ الْمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ خُصُوْصًا اِلَى سَيِّدِنَا الشَّيْخِ عَبْدِالْقَادِرِالْجَيْلاَنِى، اَلْفَاتِحِةْ 

Kemudian Fatihah dihadharohkan kepada saudara beliau dari para Nabi dan Utusan dan para Wali, Orang yang mati Syahid orang-orang yang baik saleh dan para sahabat dan orang –orang yang ikut Nabi,Ulamak yang mengamalkan ilmunya, pengarang kitab yang Ikhlas dan semua para malaikat al-Muqorrobin Khususon kepada Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani Lahumul Fatihah.

ثُمَّ اِلَى جَمِيْعِ اَهْلِ الْقُبُوْرِ مَنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ مِنْ مَشَارِقِ اْلاَرْضِ اِلَى مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا خُصُوْصَا اِلَى آبَائِنَا وَاُمَّهَاتِنَا وَاَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا وَمَشَايِخِنَا وَمَشَايِخِ مَشَايِخِنَا وَاَسَاتِذَتِنَا وَاَسَاتِذَةِ اَسَاتِذَتِنَا وَخَصُوصًا اَلْمَرْحًومْ والمرحومة ............ غَفَرَ اللهُ ذُنُوْبَهَ (هَا) وَخَطَايَاهُ (هَا) وَلِمَنِ اجْتَمَعْنَا هَهُنَا بِسَبَبِهِ، اَلْفَاتِحِةْ

Kemudian kepada semua penduduk Kuburan dari orang-orang Muslim dan Muslimat orang-orang Mukmin dan Mukminat dari ujung timur dan ujung barat, darat dan laut, wabil khusus kepada bapak-bapak kita dan ibu-ibu kita, kakek-kakek kita, guru-guru kita, ustad ustadah kita khususon Al-Marhum(laki-laki) bapak…………al-Marhumah (perempuan) Ibu……..Semuga Allah mengampuni dosa-dosanya dan orang yang berkumpul disini Al-Fatihah.


Bacaan Tahlil Lengkap

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ. اللَّهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ. وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ. 3 
لَآاِلهَ اِلاَّاللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (١) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (٢) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (٣) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (٤) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (٥)
لَآاِلهَ اِلاَّاللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ 
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (١) مَلِكِ النَّاسِ (٢) إِلَهِ النَّاسِ (٣) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (٤) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (٥) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ 
لَآاِلهَ اِلاَّاللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ 
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (١) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٢) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (٥) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (٦) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّآلِّينَ (٧(
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
الم (١) ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (٢) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (٣) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (٤) أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (٥
وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ.
اللَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ 
للهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ # آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ #لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ # بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِينْ إِرْحَمْناَ # يَآاَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اِرْحَمْنَا 7 
رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا. إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
أَللّهُمَّ صَلِّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ عَلَى أَسْعَدِ مَخْلُوْقَاتِكَ نُوْرِ اْلهُدَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَله وَصَحْبِهِ وَسَلِّمِ. عَدَدَ مَعْلُوْمَاتِكَ وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَّاكِرُوْنَ. وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ الْغَافِلُوْنَ أَللّهُمَّ صَلِّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ عَلَى أَسْعَدِ مَخْلُوْقَاتِكَ شَمْسِ الضُّحَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَله وَصَحْبِهِ وَسَلِّمِ. عَدَدَ
مَعْلُوْمَاتِكَ وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَّاكِرُوْنَ. وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ الْغَافِلُوْنَ
أَللّهُمَّ صَلِّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ عَلَى أَسْعَدِ مَخْلُوْقَاتِكَ بَدْرِ الدُّجَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ. عَدَدَ مَعْلُوْمَاتِكَ وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَّاكِرُوْنَ. وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ الْغَافِلُوْنَ.
وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ سَادَتِنَا أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ. وَحَسْبُنَا الله وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ. وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ3 
أَفْضَلُ الذِّكْرِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ حَيٌّ مَوْجُوْدٌ 
لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ حَيٌّ مَعْبُوْدٌ 
لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ حَيٌّ بَاقٍ
(Dibaca 100 kali) لاَاِلهَ اِلَّااللهُ 
لاَاِلهَ اِلَّااللهُ مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ اَللهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ
(Dibaca 33 kali)سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِه سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ 
(Dibaca 2 kali)اَللهُمَّ صَلِّ عَلى حَبِيْبِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ 
اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى حَبِيْبِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى الهِ وَصَحْبِهِ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ اَجْمَعِيْنَ.
اَلْفَاتِحَةْ :
Demikian Doa Khususon dan tahlil lengkap semuga bermanfaat bagi teman-teman semuanya, dan apabila anda suka dengan artikel kami silahkan Share dan bagikan ke teman-teman yang lain.(al-Inaya)

Friday, May 25, 2018

Kajian adzan dalam agama Islam lengkap

Alhamdulillah di negeri kita tercinta Indonesia, syiar Islam sangat tampak secara umum. Perlu kita perhatikan bahwa syiar Islam bukan hanya potong tangan dan hukum cambuk saja, akan tetapi syiar Islam juga berupa ibadah-ibadah yang kita lakukan sehari-hari seperti adzan dan laki-laki datang ke masjid memenuhi panggilan Allah. Jilbab juga termasuk syariat Islam yang perlu kita perjuangankan dan tegakkan. Mari kita tegakkan syariat dan syiar Islam dimulai dari yang sederhana dahulu, dimulai dari diri kita, keluarga dan lingkungan di sekitar kita dan semoga semua masyarakat muslim bisa melaksanakan syariat Islam dengan sempurna.
Kajian adzan dalam agama Islam lengkap
Adzan adalah syiar agama Islam. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,
وإن شعار الدين الحنيف هو: الأذان المتضمن للإعلان بذكر الله، الذي به تفتح أبواب السماء، فتهرب الشياطين، وتنزل الرحمة
“Di antara syi’ar-syi’ar agama yang hanif ini adalah adzan yang mengandung pengumuman untuk berdzikir (mengingat) Allah ta’ala. Dengan adzan ini, terbuka pintu-pintu langit, para setan lari terbirit-birit dan turun rahmat (ketenangan)” (Al-Iqtidha Shiratil Mustaqim hal. 218).

Hal ini sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, beliau bersabda,
إذا نُودِيَ بالصلاةِ فُتحتْ أبوابُ السماءِ ، واسْتُجيبَ الدعاءُ
“Jika adzan untuk shalat dikumandangkan, maka pintu-pintu langit dibuka, dan doa-doa dikabulkan” (HR. Ath-Thayalisi, Silsilah Ash Shahihah no. 1413).

Bahkan ketika kita sendiri saja, tetap disyariatkan adzan karena memang adzan merupakan syariat dan syiar Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا كَانَ الرَّجُلُ بِأَرْضٍ قِيٍّ، فَحَانَتِ الصَّلاَةُ فَلْيَتَوَضَّأْ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ مَاءً فَلْيَتَيَمَّمْ، فَإِنْ أَقَامَ صَلَّى مَعَهُ مَلَكَاهُ، وَإِنْ أَذَّنَ وَأَقَامَ صَلَّى خَلْفَهُ مِنْ جُنُوْدِ اللهِ مَا لاَ يُرَى طَرْفاَهُ
“Bila seseorang berada di tanah yang tandus tidak berpenghuni lalu datang waktu shalat, ia pun berwudhu dan bila tidak beroleh air ia bertayammum. Jika ia menyerukan iqamah untuk shalat akan shalat bersamanya dua malaikat yang menyertainya. Jika ia adzan dan iqamah maka akan shalat di belakangnya tentara-tentara Allah yang tidak dapat terlihat dua ujungnya” (HR. Abdurrazzaq dengan sanad shahih).


Dalam riwayat yang lainnya, tetap melakukan adzan ketika sedang mengembala.

Dari Abdurrahman Abdullah bin Abdurrahkan bin Abi Sha’sha’ah Al-Anshari dari ayahnya, beliau mengabarkan bahwa Abu Said Al-Khudri mengatakan kepadanya,
إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ أَوْ بَادِيَتِكَ فَأَذَّنْتَ بِالصَّلاةِ فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ فَإِنَّهُ لَا يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلَا إِنْسٌ وَلا شَيْءٌ إِلا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ : سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Sungguh aku melihat engkau senang menggembala kambing dan hidup di pedesaan. Kalau engkau di tempat (gembala) kambing atau desa, lalu engkau azan untuk shalat, maka tinggikan suaramu ketika azan. Karena jin dan manusia atau sesuatu apapun yang mendengar suara muazin, akan menjadi saksi di hari kiamat.’ Abu Said mengatakan, ‘Saya mendengarkannya dari Rasulullah sallahu’alaihi wa sallam” (HR. Bukhari).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Ustaimin menjelaskan bahwa hukum adzan dan iqamah ketika sendiri adalah sunnah sedangkan ketika banyak orang hukumnya fardhu. Beliau berkata,
الأذان والإقامة للمنفرد سنة ، وليسا بواجب
“Adzan dan iqamah bagi orang yang hanya sendiri hukumnya adalah sunnah bukan wajib” (Fatawa Syaikh Al-‘Utsaimin 12/161).

Bahkan yang benar-benar menunjukkan adzan merupakan syiar kaum muslimin adalah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyerang suatu daerah jika terdengar adzan.

Dari Anas bin Malik beliau berkata,
كان رسول الله صلي الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُغِيرُ إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ وَكَانَ يَسْتَمِعُ اْلأَذَانَ فَإِنْ سَمِعَ أَذَانًا أَمْسَكَ وَإِلاَّ أَغَارَ
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerang (suatu kaum) ketika terbit fajar. Dan Beliau memperhatikan adzan. Apabila Beliau mendengar, maka Beliau menahan. Dan bila tidak (mendengar), maka Beliau menyerang” (HR Muslim).

Dalam keadaaan perang saja, adzan tetap harus ditegakkan dan dilaksanakan shalat berjamaah.
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاَةَ فَلْتَقُمْ طَآئِفَةُُ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلِيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِن وَرَآئِكُمْ وَلْتَأْتِ طَآئِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُم مَّيْلَةً وَاحِدَةً وَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن كَانَ بِكُمْ أَذًى مِّن مَّطَرٍ أَوْ كُنتُم مَّرْضَى أَن تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ إِنَّ اللهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا
“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat bersamamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu” (An-Nisa’ 102).


Ibnu Mundzir rahimahullah berkata,
ففي أمر الله بإقامة الجماعة في حال الخوف : دليل على أن ذلك في حال الأمن أوجب
“Perintah Allah untuk tetap menegakkan shalat jamaah ketika takut (perang) adalah dalil bahwa shalat berjamaah ketika kondisi aman lebih wajib lagi” (Al- Ausath 4/135).

Demikian semoga bermanfaat dan menjadikan semangat bagi para muadzdzin untuk terus mengumandangkan adzan di setiap tempat dan waktu.(al-inaya)

Tuesday, December 13, 2016

Perumus Gagasan Ahlus Sunnah Waljama’ah

Assalamu alaikum Wr. Wb.
 Melalui konsultasi aqidah yang di asuh oleh Ustadz H. Muhammad Baharun ini,saya ingin bertanya tentang Ahli Sunnah Waljama’ah.Mengapa setiap kelompok saat ini enggan bila tidak dikatakan Ahli Sunnah Waljama’ah mereka mengatakan bahwa Islam itu ya Ahlu Sunnah Waljama’ah menurut pemahaman saya, sejak zaman Rosulullah dan para sahabat, Ahlus Sunnah itu memang sudah ada.
Karena mereka pasti berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah. Sementara pendapat ((ijtihad)para sahabat yang ‘alim pada saat itu juga mendapat apreasiasi dari syari’at. Sehingga hal ini diteruskan oleh generasi tabi’in, tabi’ut tabi’in sampai ke ulamak yang datang berikutnya.
Yang ingin saya tanyakan siapakah yang merumuskan kembali pradigma Ahlus Sunnah waljama’ah ini kemudian. Sehingga formulasinya semakin jelas dapat membedakan dengan berbagai ragam kelompok – yang datang berikutnya dengan mengklaim “ paling” Ahlus sunnah wal jama’ah. Siapakah ang merumuskan mula pertama Ahlus sunnah Waljama’ah seperti yang sudah populer difahami sampai kini.?
Wassalamu alaikum Wr. Wb..
Yang merumuskan gerakan kembali kepada Ahlus sunnah Waljama’ah adalah ulama yang cukup terkenal dan tersohor di masanya. Yakni Imam al-Asy’ari dan Imam al-Maturidi. Karena itu mereka yang mengikuti Ahlus sunnah Waljama’ah sebagai istilah, maka kemudian dinisbatkan kepada doktrin yang digariskan oleh kedua imam ahli teologi(aqidah) tersebut, yakni disebut Asy’ari (pengikut atau penggagas pemikiran teologi asy’ari) atau Al-Maturidi (pengikut atau penggagas pemikiran teologi Al-Maturidi)Imam Ibnu Hajar Alhaythami mengatakan bahwa jika ahls sunnah wal-jama’ah disebutkan, maka yang dimaksud adalah mereka yang mengikuti formulasi yang  digagas oleh Imam al-Asy’aridan Imam al-Maturidi (Tathir al-Janan Wa al-Lisan,hlm.7).
Dua tokoh inilah yang menjadi pelopor gerakan kembali kepada ajaran yang menjadikan assunnah sebagai pijakan aqidah, Syari’ah dan Akhlak sesudah al-Qur’an. Adapun Ijma’ para sahabat dan ulama beserta qiyas juga diperhitungkan sbagai acuan penting di dalam menyelesaikan ketiga persoalan pokok(akidah, syari’ah, dan akhlak) tersebut di atas.
Nama lengkap Imam asy’ari adalah Abu al-Hasan ali Asy’ari(w 324H/936M), beliau keturunan sahabar dekat Nabi Muhammad SAW, yaitu Abu Musya Al-Asy’ari, pernah masuk paham Mu’tazilah , yang diplopori oleh al-Juba’I, namun tidak lama kemudian ia keluar dari Mu’tazilah dan kembali kepada pangkuan ajaran yang murni, yakni as-Sunnah, dan saat itulah dia mendeklarasikan paham Ahlus sunnah wal Jama’ah secara formal. Karena as-Sunnah(yang sahih)dinilai satu-satunya ajaran Nabi Muhammad SAW yang paling amat penting, hingga ajaran ini kenal paling Mutawatir mata ranai (sanad)nya, karena itu paling patut untuk diikuti secara konsekwendan konsisten.setelah itu banyak para ulama memuji sikapnya ini , semua itu karena keteguhannya di dalam menyelamatkan aqidah umat Islam dari kerusakan pemikiran – baik secara external  yang terpengaruh yunani maupun secara internal dengan ditandai munculnya sekte-sekte yang menjauhi kedua sumberutama Islam:al-Qur’an dan Al-Hadits.
Kisah Nabi Adam A.S
Menurut Prof. Dr. Muhammad bin Alwy al-Maliky almagfurah, sebagaimana yang  ditulis di dalam bukunya yang berjudul “Al-Mafahim Yajib an Tushashhah,h. 111), bahwa susungguhnya pengikut awal teologi al-Asy’ari ini ternyata adalah para pembesar ulama, mereka itu adalah para tokoh dan pakar hadits, fuqaha, dan mufassirin – yang semuanya mendukung gerakan akidah yang telah dicanangkan oleh Imam Asy’ari ini.  Di antaranya dapat disebut di sini ialah : Imam Nawawi, Ibn Hajar al-Asyqolani, Iama al-Qurtubi, Imam Zakariya al-Anshari dan lain sebagainya.

Monday, October 3, 2016

Lafad Khususon arab dan arti lengkap

Untuk para ikhwan dimana saja dan pembaca blog yang budiman, Khususon dengan menggunakan bahasa Arab lebih utama dari pada Bahasa lainnya nah merupakan mata rantai khasanah dalam hikmah yang tidak boleh putus karena disitulah tali rohani/ spiritual bagi seorang penghayat hikmah yang sejati.
kesambungan dari ikhwan kepada para perawat/guru ke gurunya guru yang terus sambung menyambung kepada Rasulullah SAW.

[baca Khususon Arab dan Tahlil lengkap

Untuk itu bagi para ikhwan kami sajikan dan kami apload bacaan khususan dengan bahasa arab ini dan semoga bermanfaat bagi kita semua, khususan ini bisa kita gunakan disemua khususan disetiap kita akan mengirimkan fatihah kepada guru guru kita orang terdekat bagi kita.
di dalam khususan ini mengarah kepada
para wali (SYAKH ABDUL QODIR JAILANI , WALI SONGO,PARA ORANG YANG MATI SYAHID, PARA ALIM ULAMAK, DAN ORANG SHALEH LAINNYA )dan para guru dan para orang tua kita sanak kerabat kita dan sanak family kita semua baik yang meninggal ataupun yang masih hidup dan semoga Cahaya Hikmah terus terpancar kuat dari hati saudara-saudara,

inilah khususannya

اَلْفَاتِحَةُ لِرِضَاءِ اللهِ تَعَالىَ اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ اِلَى اَرْوَاحِ أَبَائِه ِوَإِخْوَانِهِ مِنَ الْاَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَاِلَى جَمِيْعِ سَادَاتِنَا وَمَوَالِيْنَا اَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَجَمِيْعِ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ اَجْمَعِيْنَ… الفاتحة ...
Artinya:
Hadharoh kepada Rosulullah yang terpilih yaitu Nabi Muhammad SAW kemudian kepada semua ruh ruh keluarga Nabi, saudara Nabi dari para Ambiyak/ para Nabi dan Para Utusan. dan juga kepada semua para Shabat Abukar Umar dan Utsman dan Ali dan para shabat rosul lainnya Alfatihah

ثُمَّ اَلْفَاتِحَةُ إِلَى حَضْرَةِ جَمِيْعِ الْأَوْلِيَاءِ مِنْ مَشَارِقِ الْأَرْضِ إِلَى مَغَارِبِهَا وَإِلَى حَضْرَةِ الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ الْجَيْلَانِيْ وَالْأَوْلِيَاءِ التِّسْعَةِ الَّذِيْنَ بَلَّغُوْا الدِّيْنَ الْإِسْلَامِ فِى إِنْدُوْنِيْسِيَّا وَغَوْثِ هَذَا الزَّمَانِ وَجَمِيْعِ الشُّهَدَاءِ وَالْعُلَمَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالْمُفَسِّرِيْنَ وَالْمُحَدِّثِيْنَ وَالْمُجَاهِدِيْنَ فِى سَبِيْلِ اللهِ فِى كُلِّ زَمَانٍ وَمَكَانٍ وَإِلَى حَضْرَةِ أَرْوَاحِ الْمَشَايِخِ كِيَاهِىْ مُحَمَّدْ خَلِيْل بِنْ عَبْدِ اللَّطِيْف بَغْكَالَانْ وَإِلَى حَضْرَةِ جَمِيْعِ مَشَايِخِنَا سِيْدُوْكِيْرِيْ أَوَّلًا وَأَخِرًا وَجَمِيْعِ مَشَايِخِنَا أَوَّلًا وَأَخِرًا وَأُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِمْ وَيُعِيْدُ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِهِمْ وَأَنْوَارِهِمْ … الفاتحة ...
Kemudian fatihah dihadharohkan kepada semua para wali mulai dari ujung timur sampai ujung barat, dan kepada Syahk Abdul Qodir jailani dan para wali yang sembilan yang sudah menyebarluaskan Islam di Indonesi dan semua para syuhadak, ulamak, sholihin, mufassirin, muhadditsin, mujahidin dalam jalan Allah disepanjang waktu dan tempat dan arwah guru kita kiai Kholil bin Abdullathif Bangkalan, keepada semua guru kita sidogiri awal dan akhir dan semua guru kita awal dan semua cucunya semoga rohmat Allah menyertainya dan barokahnya akan kembali kepada kita, Alfatihah.
ثُمَّ اْلفَاتِحَةُ إِلَى أَرْوَاحِ جَمِيْعِ مَشَايِخِنَا وَأَسَاتِذَتِنَا وَمُعَلِّمِنَا وَمُرَبِّنَا وَمَنْ أَحَبَّنَا فِى اللهِ وَمَنْ أَوْصَانَا بِالْفَاتِحَةِ وَالدَّعَوَاتِ الْخَيْرَاتِ وَمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا وَإِلَى أَرْوَاحِ مَنْ أَجَازَنَا بِالدَّعَوَاتِ وَالْأَحْزَابِ وَالْأَوْرَادِ وَالْعُلُوْمِ النَّافِعَاتِ نَفَعَنَا اللهُ بِهِمْ وَبِعُلُوْمِهِمْ … الفاتحة ...
kemudian kepada ruh ruh guru-guru kita para pendidik kita dan orang yang cinta kita di dalam jalan Allah dan orang yang berwasiat dengan dakwah kebaikan dan orang yang punya hak kepada kita dan arwah orang yang memberi ijazah kepada kita dengan doa, hizib,wirid dan ilmu yang bermanfaat. semoga Allah memberikan kemanfaatan kepada kita dengan adanya mereka dan ilmu mereka. al-fatihah.

3. ثُمَّ اْلفَاتِحَةُ إِلَى حَضْرَةِ وَالِدِيْنَا وَاَمْوَاتِنَا وَاَمْوَاتِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ إِنَّ اللهَ تعالى يَغْفِرُ لَهُمْ وَيَرْحَمُهُمْ وَيُسْكِنُ لَهُمُ الْجَنَّةَ ثُمَّ يَشْفَعُ بِهَا حَضْرَةُ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئٌ للهِ لَنَا وَلَهُمْ الفاتحة … الفاتحة ...

kemudian fatihah disampaikan kepada orang tua kita dan orang yang meninggal di antara kita yaitu orang -orang islam laki dan perempuan orang mukmin laki-laki dan orang mukmin perempuan semoga Allah mengampuni mereka dan welaskasih kepada mereka dan diletakkan di surga dan diberi syafaat oleh baginda Nabi Muhammad SAW Al-Fatihah.

[baca lafad khususon arab dan arti lengkap 2

Demikian khususan ini kami bagikan semoga bermanfaat. amin.

Thursday, September 29, 2016

Doa merayakan hari kelahiran

Doa ketika merayakan hari kelahiran janin ini saya posting di sini semoga ada manfaatnya bagi kita karena hal yang di awali dengan hal yang baik insya Allah akan menjadi baik Amin
Adapun tatacara dari doa ini kita harus memberikan khususan terlebih dahulu kepada Nabi kita yaitu Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para Sahabat beliau seperti contoh khususan di bawah ini.

اَلْفَاتِحَةُ اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاَبَائِهِ وَاِخْوَانِهِ مِنَ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ.

واِلَى حَضْرَةِ سُلْطَانِ الْاَوْلِيَاءِ الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ الْجَيْلَانِى

وَاِلَى أَرْوَاحِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْأَوْلِيَاءِ وَالْعُلَمَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنِ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ خُصُوْصًا ...... (سبوة جنين / بايى) .

Baca juga Doa shalat dhuha lengkap
Disini kita sebut nama bayi kita minta kepada Allah agar bayi kita dijadikan bayi yang:

1. Bertaqwa kepada Allah

2. Tidak lalai dengan perintah Allah

3. Taat kepada Orang tua

4. Menjadi orang yang bermanfaat bagi Nusa dan Bangsa

5. Terakhir meminta kepada Allah sesuai dengan hati kita apa yang kita inginkan sebut semuanya.

Lanjutkan dengan menbaca Doa bi bawah ini

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً تُنَجِّيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الأَهْوَالِ وَالأَفَاتِ وَتَقْضِي لَنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْحَاجَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِيْ الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ وَصَلىَّ اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

ِArtinya : Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang. Ya Allah salawat kepada Nabi Muhammad salawat yang menyelamatkan kita dari semua kengerian, hama dan mengabulkan kita dari semua kebutuhan dan mensucikan kita dari segala perbuatan jahat dan mengangkat kita memiliki nilai yang lebih tinggi dan menyampaikan kita kepada paling tingginya sasaran/tujuan/ target akhir dari semua hal baik dalam hidup dan setelah mati, dan semoga Allah menambahkan rahmat kepada paling baiknya makhluk yaitu Nabi Muhammad SAW dan keluargnya dan para sahabatnya.

Baca jugak doa shalat hajat
dan ditambah dengan doa berikut
َرَبِّ يَسَّرْ وَلاَ تُعَسِّرْ فَإِنَّ تَيْسِيْرَ كُلِّ عَسِيرْ عَلَيْكَ يَسِيْر اَلَلُهَّم تَمِّمْ بِالْخَيْرِ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَم 
الرَاحِمِين

Artinya : Wahai tuhanku mudahkanlah jangan sulitkan  karena engkaulah yang maha memudahkan hal hal yang sulit. ya Allah sempurnakanlah dengan kebaikan dengan rahmatmu Amin.

Semoga bermanfaat Amin
Artikel by https://al-inaya.blogspot.co.id/