Showing posts with label DOA AWAL TAHUN DAN AKHIR TAHUN. Show all posts
Showing posts with label DOA AWAL TAHUN DAN AKHIR TAHUN. Show all posts

Thursday, July 5, 2018

Doa Merupakan Ibadah yang Agung dalam Islam

Berdoa merupakan perkara yang agung dalam Islam. Kedudukannya sangatlah tinggi. Hal itu dikarenakan doa termasuk ibadah yang paling agung, ketaatan yang paling mulia, dan bentuk taqarrub yang paling bermanfaat. Oleh karena itu dalam Alquran dan As-Sunnah terdapat banyak penjelasan mengenai keutamaan, kedudukan, keagungan, dan kebaikan yang terkandung dalam doa guna mendorong seorang hamba untuk melakukan ibadah tersebut dan mencintainya.


Macam-Macam Indikasi (dalalah) yang Menunjukkan Keutamaan Doa

Dalam dalil-dalil, terdapat berbagai macam indikasi (dalalah) yang menunjukkan keutamaan doa. Dalam sebagian dalil terdapat dorongan dan perintah Allah terhadap hamba-Nya untuk berdoa.

Pada sebagian lainnya terdapat ancaman bagi orang yang meninggalkan berdoa kepada Allah dan sombong dari melakukannya. Dalam sebagian dalil lainnya terdapat penyebutan pahala yang besar di sisi Allah bagi orang yang berdoa. Pada dalil lainnya terdapat pujian bagi kaum mukminin karena mereka berdoa kepada Allah semata. Selain itu, terdapat banyak indikasi (dalalah) lain dalam dalil-dalil yang menunjukkan besarnya keutamaan doa.

Allah Ta’ala Membuka Kitab-Nya yang Agung dengan Doa dan Menutupnya dengan Doa

Bahkan Allah Ta’ala telah membuka Kitab-Nya yang agung dengan doa dan menutupnya dengan doa pula. Dalam surat pertama: Al-Fatihah, mengandung doa kepada Allah dengan isi doa yang paling agung dan tujuan yang paling sempurna, yaitu permohonan kepada Allah Ta’ala agar ditunjuki hidayah kepada jalan yang lurus dan pertolongan dalam beribadah kepada-Nya semata. Sedangkan dalam surat terakhir, An-Nas, mengandung juga doa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu dengan memohon perlindungan kepada-Nya semata dari keburukan al-waswas al-khannas yang menggoda manusia. Tentu tiada keraguan sama sekali bahwa dibukanya Kitabullah dengan doa dan ditutupnya dengan doa menunjukkan agungnya ibadah doa dan ketinggian kedudukannya.

Nama Lain dari Doa dalam Alquran Al-Karim dan Rahasia yang Terkandung dalam Penamaannya

Ketahuilah bahwa doa adalah ruh dari ibadah dan intisarinya, bahkan Allah Ta’ala menyebut doa dengan nama “ibadah” dalam banyak ayat-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’” (QS. Ghafir: 60).

وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَىٰ أَلَّا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا

“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.”

فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ ۖ وَكُلًّا جَعَلْنَا نَبِيًّا

“Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya’qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi” (QS. Maryam: 48- 49).

Dan Allah-pun menyebut doa dengan nama ad-diin, sebagaimana firman Allah berikut ini,

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Maka berdoalah (dan beribadahlah) kepada Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya)” (QS. Ghafir: 14).

Hal ini menunjukkan bahwa doa adalah ibadah yang agung dan doa merupakan asas dan ruh dari peribadahan. Doa juga merupakan gambaran perendahan diri, ketundukan, rasa tidak berdaya, dan sangat butuhnya seorang hamba di hadapan Rabb-nya, Allah ‘Azza wa Jalla.(al-Inaya/Msl)

Wednesday, June 6, 2018

Khususon arab dan Tahlil Lengkap

Sudah menjadi hal yang lumrah dan menjadi rutinitas doa di seluruh Indonesia bagi orang-orang yang meninggal dunia karena tidak ada lagi sumbangan yang pantas untuk dipersembahkan kepada yang mati melainkan doa, sumbangan yang pantas bukan mobil, bukan harta dan bukan jabatan yang dibutuhkan oleh para syuhadak atau orang-orang yang meninggal hanyalah doa dari orang yang hidup dalam suatu hadist disebutkan “ semua amal didunia akan putus kecuali tiga hal. 1 Sedekah jariyah 2 ilmu yang bermanfaat 3 anak yang mendoakannya” ditinjau dari hadist tadi bahwa penting sekali sebuah keluarga atau anak untuk mendoakan bapak atau ibunya yang meninggal, salah satu cara dengan mengadakan Tahlil dan yasin bersama untuk dihadiahkan kepadanya, inilah khususon arab dan arti lengkap yang akan kami persembahkan buat para pembaca yang budiman yang akan dilengkapi dengan tahlil,

Khususan Fatihah Tahlil

اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاَلِهِ وَاَزْوَاجِهِ وَاَوْلاَدِه وَذُرِّيَّاتِهِ وَاِلَى اَرْوَاحِ سَيِّدِنَا اَبِيْ بَكْرٍوَّعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَاَلَى بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ اَجْمَعِيْنَ وَخُصُوْصًا لَهُمُ الْفَاتِحَةُ

Fatihah ini dihadarohkan kepada Nabi yang terpilih Nabi Muhammad SAW, keluarga, istri beliau, anak beliau, keturunan beliau dan dihadarohkan kepada shahabat Abubakar, Umar, Ustman dan Ali dan semua sahabat-sahabat kesemuanya, Al-Fatihah.

ثُمَّ اِلَى حَضَرَاتِ اِخْوَانِهِ مِنِ اْلاَنْبِيَآءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَاْلاَوْلِيَآءِ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وُالْعُلَمَآءِ الْعَامِلِيْنَ وَالْمُصَنِّفِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَجَمِيْعِ الْمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ خُصُوْصًا اِلَى سَيِّدِنَا الشَّيْخِ عَبْدِالْقَادِرِالْجَيْلاَنِى، اَلْفَاتِحِةْ 

Kemudian Fatihah dihadharohkan kepada saudara beliau dari para Nabi dan Utusan dan para Wali, Orang yang mati Syahid orang-orang yang baik saleh dan para sahabat dan orang –orang yang ikut Nabi,Ulamak yang mengamalkan ilmunya, pengarang kitab yang Ikhlas dan semua para malaikat al-Muqorrobin Khususon kepada Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani Lahumul Fatihah.

ثُمَّ اِلَى جَمِيْعِ اَهْلِ الْقُبُوْرِ مَنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ مِنْ مَشَارِقِ اْلاَرْضِ اِلَى مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا خُصُوْصَا اِلَى آبَائِنَا وَاُمَّهَاتِنَا وَاَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا وَمَشَايِخِنَا وَمَشَايِخِ مَشَايِخِنَا وَاَسَاتِذَتِنَا وَاَسَاتِذَةِ اَسَاتِذَتِنَا وَخَصُوصًا اَلْمَرْحًومْ والمرحومة ............ غَفَرَ اللهُ ذُنُوْبَهَ (هَا) وَخَطَايَاهُ (هَا) وَلِمَنِ اجْتَمَعْنَا هَهُنَا بِسَبَبِهِ، اَلْفَاتِحِةْ

Kemudian kepada semua penduduk Kuburan dari orang-orang Muslim dan Muslimat orang-orang Mukmin dan Mukminat dari ujung timur dan ujung barat, darat dan laut, wabil khusus kepada bapak-bapak kita dan ibu-ibu kita, kakek-kakek kita, guru-guru kita, ustad ustadah kita khususon Al-Marhum(laki-laki) bapak…………al-Marhumah (perempuan) Ibu……..Semuga Allah mengampuni dosa-dosanya dan orang yang berkumpul disini Al-Fatihah.


Bacaan Tahlil Lengkap

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ. اللَّهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ. وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ. 3 
لَآاِلهَ اِلاَّاللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (١) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (٢) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (٣) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (٤) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (٥)
لَآاِلهَ اِلاَّاللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ 
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (١) مَلِكِ النَّاسِ (٢) إِلَهِ النَّاسِ (٣) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (٤) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (٥) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ 
لَآاِلهَ اِلاَّاللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ 
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (١) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٢) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (٥) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (٦) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّآلِّينَ (٧(
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
الم (١) ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (٢) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (٣) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (٤) أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (٥
وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ.
اللَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ 
للهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ # آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ #لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ # بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِينْ إِرْحَمْناَ # يَآاَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اِرْحَمْنَا 7 
رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا. إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
أَللّهُمَّ صَلِّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ عَلَى أَسْعَدِ مَخْلُوْقَاتِكَ نُوْرِ اْلهُدَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَله وَصَحْبِهِ وَسَلِّمِ. عَدَدَ مَعْلُوْمَاتِكَ وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَّاكِرُوْنَ. وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ الْغَافِلُوْنَ أَللّهُمَّ صَلِّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ عَلَى أَسْعَدِ مَخْلُوْقَاتِكَ شَمْسِ الضُّحَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَله وَصَحْبِهِ وَسَلِّمِ. عَدَدَ
مَعْلُوْمَاتِكَ وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَّاكِرُوْنَ. وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ الْغَافِلُوْنَ
أَللّهُمَّ صَلِّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ عَلَى أَسْعَدِ مَخْلُوْقَاتِكَ بَدْرِ الدُّجَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ. عَدَدَ مَعْلُوْمَاتِكَ وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَّاكِرُوْنَ. وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ الْغَافِلُوْنَ.
وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ سَادَتِنَا أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ. وَحَسْبُنَا الله وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ. وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ3 
أَفْضَلُ الذِّكْرِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ حَيٌّ مَوْجُوْدٌ 
لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ حَيٌّ مَعْبُوْدٌ 
لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ حَيٌّ بَاقٍ
(Dibaca 100 kali) لاَاِلهَ اِلَّااللهُ 
لاَاِلهَ اِلَّااللهُ مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ اَللهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ
(Dibaca 33 kali)سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِه سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ 
(Dibaca 2 kali)اَللهُمَّ صَلِّ عَلى حَبِيْبِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ 
اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى حَبِيْبِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى الهِ وَصَحْبِهِ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ اَجْمَعِيْنَ.
اَلْفَاتِحَةْ :
Demikian Doa Khususon dan tahlil lengkap semuga bermanfaat bagi teman-teman semuanya, dan apabila anda suka dengan artikel kami silahkan Share dan bagikan ke teman-teman yang lain.(al-Inaya)

Friday, June 1, 2018

DOA TAHLIL LENGKAP


أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ حَمْدَ النَّاعِمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِك

A'uudzu billaahi minasy-syaithaanir rajiim. Bismillaahir Rahmaanir Rahiim. Alham-dulillaahi Rabbil'aalamiin, 
DOA TAHLIL LENGKAP
hamdasy-syaakiriin, hamdan naa'imiin, hamday yuwaafii ni'amahuu wa yukaafii maziidah, yaa rabbanaa lakal hamdu kamaa yambaghii Iijalaali wajhika waazhiimi sulthaanik.
Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah penguasa alam semesta, sebagaimana orang-orang yang bersyukur dan orang-orang yang mendapat banyak kenikmatan memuji-Nya. dengan pujian yang sepadan dan nikmat-Nya dan memungkinkan pertambahannya. Wahai Tuhan kami, pujian hanyalah untuk-Mu, sebagaimana yang layak akan kemuliaan Dzat-Mu dan keagungan kekuasaan-Mu.

اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى اْلاَوَّلِيْنَ. وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى اْلآخِرِيْنَ. وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِيْ كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنٍ. وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى الْملاَءِ اْلاَعْلَى اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

Allaahumma shalli wa sallimalaa sayyidinaa Muhammadin Fil Awwalin, Washalli wa sallimalaa sayyidinaa Muhammadin Fil Akhirin, Washalli wa sallimalaa sayyidinaa Muhammadin Fil Kulli Waqtin Wahin, Washalli wa sallimalaa sayyidinaa Muhammadin Fil Malail a’la Ila Yaumiddin,
Ya Allah Tambahan rahmat dan keselamatan atas Nabi Muhammad SAW di dalam awal,akhirnya dan setiap waktu dan masa dan di tempat yang tinggi yang paling tinggi sampai pada hari qiyamah(pembalasan)

اَللهُمَّ تَقَبَّلْ وَاَوْصِلْ ثَوَابَ مَاقَرَأْنَاهُ مِنَ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَمَا هَلَّلْنَا وَمَا سَبَّحْنَا وَمَااسْتَغْفَرْنَا وَمَا صَلَّيْنَا عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَدِيَّةً وَاصِلَةً وَرَحْمَةً نَازِلَةً وَبَرَكَةً شَامِلَةً اِلَى حَضْرَةِ حَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَقُرَّةِ اَعْيُنِنَا سَيِّدِنَا وَمَوْلنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Allaahumma taqobbal wa aushil tsawaba maa qoro'naahu minal qur'aanil 'azhiimi wamaa hallalnaa wa maa sabbahnaa wa mastaghfarnaa wa maa shollainaa 'alaa sayyidinaa muhammadin shollalloohu 'alaihi wa sallama hadiyyatan waashilatan wa rohmatan naazilatan wa barokatan syaamilatan ilaa hadhrotin habiibinaa wa syafii'inaa wa qurroti a'yuninaa sayyidinaa wa maulaanaa muhammadin shollallaahu 'alaihi wa sallam, 
Ya Allah, terimalah dan sampaikanlah pahala Al-Qur'an yang kami baca, tahlil kami, tasbih kami, istighfar kami dan shalawat kami kepada Nabi Muhammad SAW sebagai hadiah yang menjadi penyambung, sebagai rahmat yang turun dan sebagai berkah yang menyebar kepada kekasih kami, penolong kami dan buah hati kami, pemuka dan pemimpin kami, yaitu Nabi Muhammad SAW, 

وَاِلَى جَمِيْعِ اِخْوَانِه مِنَ الْاَنْبِيَآءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالْاَوْلِيَآءِ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَالْعُلَمَآءِ الْعَالِمِيْنَ 
وَالْمُصَنِّفِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَجَمِيْعِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِى سَبِيْلِ اللهِ فِيْ كُلِّ زَمَانٍ وَمَكاَنٍ وَخُصُوْصًا اِلَى سَيِّدِنَا الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ الْجَيْلاَنِيِّ والاولياء التسعة الذين بلغوا الدين الاسلام في إندنيسيا وفي العالم من مشارق الارض الى مغاربها ثُمَّ اِلى جَمِيْعِ اَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ مِنْ مَشَارِقِ اْلاَرْضِ اِلَى مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا خُصُوْصًا اِلَى آبَآءِنَا وَاُمَّهَاتِنَا وَاَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا وَنَخُصُّ خُصُوْصًا مَنِ اجْتَمَعْنَاههُنَا بِسَبَبِه وَلِاَجْلِه
Wa Ilaa Jamii'i Ikhwaanihii Minal Anbiyaa'i Walmursaliina Wal Auliyaa'i Wasy-Syuhadaa'i Wash-Shoolihiina Wash Shohaabati Wattaabi'iina Wal 'Ulamaa'il 'Aamiliina Wal Mushonnifiinal Mukhlishiina Wa Jamii'il Mujaahidiina Fii Sabiilillaahi Fi Kulli Makanin Wazamanin,Wa Khushuushon Ilaa Sayyidinasy Syaikh 'Abdil Qoodir Aljailaani Wal Auliyaa Attis’ah Allazdina Ballaghuddinal Islam Fi Indonesia Wafil Alam Min Masyariqil Ardhi Ila Magharibaha, Tshumma Ilaa Jamii'i Ahlil Qubuuri Minal Muslimiina Walmuslimaati Walmu'miniina Walmu'minaati Mim Masyaariqil Ardhi Ilaa Maghooribihaa Barrihaa Wabahrihaa Khushushon Ilaa Aabaainaa Wa-Ummahaatinaa Wa-Ajdaadinaa Wajaddaatinaa Wanakhush-Shu Khushuuson Manijtama'naa Haahunaa Bisababihii Wali-Ajlihii.
juga kepada seluruh kawan-kawan beliau dari kalangan para Nabi dan Rasul, para wali, para syuhada', orang-orang shalih, para sahabat, para tabi'in, para ulama yang mengamalkan ilmunya, para pengarang yang ikhlas dan orang-orang yang berjihad di jalan Allah disetiap saat dan tempat, khususnya ditujukan kepada Syekh Abdul Qadir Jailani. Dan para wali yang Sembilan yang telah menyebarluaskan islam di Negara Indonesi dan seluruh dunia dari ujung timur sampai ujung barat, Kemudian kepada seluruh penghuni kubur dari kalangan orang-orang islam laki-laki dan perempuan, orang mukmin laki-laki dan perempuan, dari belahan bumi timur dan barat, di laut dan di darat, terutama keapda bapak-bapak dan ibu-ibu kami, kakek dan nenek kami, lebih utamakan lagi kepada orang yang menyebabkan kami berkumpul di sini.

اَللهُمَّ اغْفِرْلَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُم اَللهُمَّ اَنْزِلِ الرَّحْمَةَ وَالْمَغْفِرَةَ عَلى اَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنْ اَهْلِ لَآاِلهَ اِلاَّ الُله مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ وَخُصُوْصًا اِلَى حَضْرَةِ رُوْحِ …..
اَللهُمَّ اَرِنَاالْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَااتِّبَاعَهُ وَاَرِنَاالْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَااجْتِنَابَهُ  إِلَهِ عَافِنَا وَاعْفُ عَنَّا وَعَلَى طَاعَتِكَ وَشُكْرِكَ أَعِنَّا وَعَلَى ْالِاسْلَامِ وَالْاِيْمَانِ جَمْعًا تَوَفَّناَ وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا, رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ 
Allaahummaghfir Lahum Warhamhum Wa 'Aafihim Wa'fu 'Anhum Allaahumma Anzilir Rohmata Walmaghfirota 'Alaa Ahlilqubuuri Min Ahli Laa Ilaaha Illallaahu Muhammadur Rasuulullaah  Allaahumma Arinal Haqqo Hqaaon Warzuqnat Tibaa'ahu, Wa Arinal Baathila Baathilan Warzuqnaj Tinaabahu Robbanaa Aatinaa Fiddunyaa Hasanah, Wafil Aakhiroti Hasanah Waqinaa 'Adzaaban Naar. Subhaana Robbika Robbil 'Izzati 'Ammaa Yashifuun, Wasalaamun 'Alal Mursaliina Walhamdu Lillaahi Robbil 'Aalamiin. Al-Faatihah :
Ya Allah, turunkanlah rahmat dan ampunan kepada ahli kubur yang selalu mengucapkan "Laailaaha illallaah muhammadur rasuulullaah" (Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah)  Wabil khusu kepada …….(yang meninggal sebut)
Ya Allah, tunjukanlah kepada kami kebenaran adalah suatu kebenaran dan anugerahilah kami untuk mengikkutinya dan tunjukkanlah kepada kami kebatilan adalah suatu kebatilan dan anugerahilah kami untuk menjauhinya. Wahai Tuhan kami, Sembuhkanlah kami dan Ampunilah kami, dan atas patuh kepadamu dan bersyukur kepadamu adalah sebuah pertolongan,dan atas islam dan iman matikanlah kami dan engkau meridhoinya, berikanlah kami kebaikan didunia dan kebaikan di akhirat, serta jauhkanlah kami dari siksa api neraka, Masa suci Tuhanmu, Tuham pemilik kemuliaan, dari sifat-sifat yang mereka (musuh-musuhNya) berikan. Keselamatan selalu tertuju kepada Rasul, dan segala puji bagi Allah penguasa alam semesta. ALFATIHAH,

Demikian doa tahlil ini kami tulis semoga bermanfaat bagi kawan-kawan semua dan apabila anda suka atas artikel ini ikuti dan komin di bawah.(al-Inaya)

Thursday, May 31, 2018

2 macam Doa selamat dunia akhirat lengkap

Dalam setiap hal yang akan kita perbuat tentunya harus diiringi dengan doa kepada zdat yang maha pemberi yaitu allah SWT,doa sebagai senjata yang ampuh bagi umat islam sehingga umat islam tidak boleh lepas dari berdoa untuk keselamatan dirinya dari segala keburukan yang akan terjadi.
2 macam Doa selamat dunia akhirat lengkap 

Doa selamat ini kami tulis untuk berbagi kepada semua pembaca agar tuntunan doa dari Rasulullah ini di amalkan dalam kehidupan sehari hari dan menjadi senjata ampuh untuk kesuksesan kita dunia akhirat.Aminnnn.

اَللهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ سَلاَمَةً فِى الدِّيْنِ وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً عْدَ الْمَوْتِ اَللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِى سَكَرَاتِ الْمَوْتِ وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ
رَبَّنَا لاَتُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْهَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ 

Ya Allah kami memohon kepadaMu keselamatan dalam agama, dan ke sejahteraan/kesegaran pada tubuh dan penambahan ilmu, dan keberkahan rizqi, serta taubat sebelum mati dan rahmat di waktu mati, dan keampunan sesudah mati. Ya Allah, mudahkanlah kami saat pencabutan nyawa, selamat dari api neraka dan mendapat kemaafan ketika amal diperhitungkan, Ya Allah, janganlah Kau goyahkan hati kami setelah Kau beri petunjuk dan berilah kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi



Dan disambung dengan doa selamat ke 2 berikut untuk melengkapi doa yang pertama:

أَلِّلهمَّ أْكتُبِ السَّلَامَةَ وَالصِّحَّةَ وَاْلعَافِيَةَ لَنَا وَلْلمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنَ الْحَاضِرِيْنَ وَاْلغَائِبِيْنَ يَاأَرْحَمَ أْلرَّاحِمِيْنَ,أَلَّلهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ سَلَامَةً فِيْ دِيْنِنَا وَأَهْلِيْنَا وَأَوْلَادِنَا وَأَمْوَاِلنَا وَعَافِيَةً فِيْ أَجْسَادِنَا وَزِيَادَةً فِيْ عِلْمِنَا وَبَرَكَةً فِيْ رِزْقِنَا وَتَوْبَةً قَبْلَ اْلمَوْت وَرَاحَةً عِنْدَاْلمَوتْ وَمَغْفِرَةً بَعْدَاْلمَوتْ أَلَّلُهمَّ إِفْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ اْلخَيْر وَأَبْوَابَ الرَّحْمَةِ وَأَبْوَابَ اْلبَرَكَةِ وَأَبْوَابَ النِّعْمَةِ وَأَبْوَابَ اْلقُوَّةِ وَأَبْوَابَ الصِّحَّةِ وَأَبْوَابَ السَّلَامَةِ وَأَبْوَاَب اْلعَافِيَةِ أَلَّلهُمَّ عَافِنَا مِنْ كُلِّ بَلَاءٍ الدُّنْيَا وَبَلًاءِ اْلاَخِرَةِ وَشَرِّالدُّنْيَا وَشَرِّاْلاَخِرَةِ رَبَّناَ تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمِ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ رَبَّنَا أَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Yang Artinya : Ya Allah Gariskanlah keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan bagi kami dan bagi kaum muslim dan muslimat yang hadir ataupun yang tidak hadir wahai zdat yang maha welas kasih. Ya Allah sesungguhnya kami memohon keselamatan di dalam agama kami, keluarga kami, anak-anak kami harta-harta kami tubuh kami atau fisik kami, dan tambahkanlah ilmu dan keberkahan dalam rizqi kami dan terimalah taubat kami sebelum kami mati lapangkanlah kami dikala kami mati, ampunilah kami setelah kami mati, Ya Allah bukalah bagi kami pintu-pintu kebaikan pintu-pintu rahmat pintu-pintu barakah pintu-pintu nikmat pintu-pintu kekuatan pintu-pintu kesehatan pintu-pintu keselamatan pintu-pintu kesehatan, Ya Allah lindungilah kami dari seluruh penyakit dunia dan akhirat, kejelekan dunia dan kejelekan akhirat, Ya Allah Terimalah doa kami sesungguhnya engkau maha mendengar lagi maha mengetahui terimalah taubat kami sesungguhnya engkau maha menerima taubat lagi welas kasih ,Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan hidup di dunia dan kebaikan hidup di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api neraka.


Itulah Kumpulan Doa-doa Selamat Lengkap 2 persi dalam bahasa arab,dan terjemahannya yang dapat Anda panjatkan disetiap waktu dan/atau minimal setelah sholat. Semoga kita semua diberi kesalaman baik di dunia maupun di akhirat. Amin.(al-Inaya)

Sunday, May 27, 2018

Hukum Berhubungan Suami Istri Pada Saat Haid

Banyak masyarakat-masyarakat kita yang masih bimbang tentang hukum berhubungan suami istri pada saat haid atau menstruasi. Mereka masih bertanya-tanya, sebenarnya bagaimanakah hukum berhubungan suami istri pada saat haid? Bila pada saat istri sedang haid lalu suami memakai pengaman apakah boleh? Bagaimanakah hukum berhubungan suami istri pada saat haid?

Hukum berhubungan suami istri walaupun dengan haail (penghalang) adalah haram. menyentuh sesuatu antara pusar dan lutut istri pada waktu sedang haid walaupun tanpa syahwat adalah haram, karena adanya firman Allah SWT yang berbunyi: 

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ (٢٢٢)
222. mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri[137] dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci[138]. apabila mereka telah Suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. [QS. Al-Baqarah, ayat 222].
[137] Maksudnya menyetubuhi wanita di waktu haidh.
[138] Ialah sesudah mandi. Adapula yang menafsirkan sesudah berhenti darah keluar.

Namun, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa tidak apa-apa asalkan tidak sampai berhubungan suami istri berdasar hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang berbunyi: “Berbuatlah semaumu, selain nikah (berhubungan suami istri).” [HR. Muslim].


Pendapat yang mengatakan bahwa haram berhubungan suami istri pada saat istri sedang haid, menyentuh sesuatu antara pusar dan lutut, itu mengecualikan bagian badan dari istri yang lain , dalam artian Bagi suami, boleh bersenang-senang dengan anggota tubuh istri selain anggota tubuh istri antara pusar kebawah dan lutut ke atas.

Lalu, bagaimanakah jika istri yang menyentuh sang suami (perkara antara pusar dan lutut)?

Imam Al-Asnawiy berkata: “Para Ulama diam (tidak berkomentar) dari masalah istri menyentuh suami antara pusar dan lutut. Namun, bila menurut qiyas, istri menyentuh kemaluan suami atau sesuatu antara pusar dan lutut hukum nya sama seperti suami menyentuh istri pada saat haid.”

Berhubungan suami istri saat istri sedang haid adalah dosa besar bagi orang yang sengaja dan tahu keharamannya dan dilakukan secara sadar (tidak ada unsur paksaan). Bahkan bagi yang menghalalkan berhubungan suami istri saat haid, orang itu dihikumi kafir, seperti yang diterangkan di kitab Majmu’. Berbeda dengan orang yang tidak tahu atau lupa atau dipaksa.


Ketika darah haid atau mens telah berhenti (haid telah selesai) atau haid belum bersih, maka tidak boleh melakukan hubungan suami istri atau bersenang-senang antara pusar dan lutut sampai sang istri mandi atau tayamum (apabila tidak ada air). Artinya, setelah haid berhenti dan istri belum mandi, maka haram bagi suami untuk menggauli istrinya. Adapun berhubungan suami istri saat nifas diqiyaskan dengan haid, dalam artian haram berhubungan suami istri.

Demikianlah ulasan seputar hukum berhubungan suami istri pada saat haid, semoga bermanfaat. Mohon share dengan memberikan Like, atau komentar anda di bawah ini, agar menjadi referensi bagi teman sosial anda. Terima kasih. (Referensi: Semua diambil dari kitab Mughni Al-Muhtaaj, cetakan daarulkutuub, Baerut, Lebanon, Juz 1, halaman 166-167.) (al-Inaya)

Saturday, May 26, 2018

Hukum Jual Beli ketika Shalat Jumat

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ashalatu was salaamu ‘ala rasulillah sayyidil mursalin, Pembaca yang budiman, kita ketahui bersama bahwa shalat Jum’at adalah ibadah yang agung, yang diwajibkan bagi sebagian kaum Muslimin. Oleh karena itu dalam artikel ini akan kita bahas bagaimana hukum berjual-beli ketika shalat Jum’at sedang dilangsungkan.
Hukum Jual Beli ketika Shalat Jumat

Orang-orang yang diwajibkan shalat Jum’at
Shalat Jum’at hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap Muslim yang berakal, kecuali :
1. wanita
2. budak
3. anak kecil
4. orang yang sakit. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

الجمعةُ حقٌّ واجبٌ على كلِّ مسلمٍ فبجماعةٍ إلاَّ أربعةً عبدٌ مملوكٌ أوِ امرأةٌ أو صبيٌّ أو مريضٌ
“Shalat Jum’at adalah wajib bagi setiap Muslim dengan berjama’ah kecuali empat orang: hamba sahaya, wanita, anak kecil, orang sakit” (HR. Abu Daud no. 1067, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

5. Musafir
Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu mengatakan:
ليس على مسافِرٍ جمعَةٌ
“Tidak ada kewajiban shalat Jum’at bagi musafir” (HR. Ad Daruquthni 2/111, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’, no. 5404).

6. Semua orang yang memiliki kesulitan menghadiri shalat jama’ah di masjid baik karena hujan, badai, kondisi mencekam, atau semacamnya. Berdasarkan keumuman hadits:
Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma:
كَانَ يَأْمُرُ مُؤَذِّنًا يُؤَذِّنُ ، ثُمَّ يَقُولُ عَلَى إِثْرِهِ ‏‏: ” أَلَا صَلُّوا فِي ‏‏الرِّحَالِ ‏” فِي اللَّيْلَةِ الْبَارِدَةِ أَوْ الْمَطِيرَةِ فِي السَّفَرِ
“Dahulu Nabi memerintahkan muadzin adzan lalu di akhirnya ditambahkan lafadz /shalluu fii rihaalikum/ (shalatlah di rumah-rumah kalian) ketika malam sangat dingin atau hujan saat safar” (HR. Bukhari no. 616, Muslim no. 699).

Hukum jual-beli ketika shalat Jum’at
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum’at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. Al-Jumu’ah: 9).


Ayat ini dengan jelas melarang jual-beli ketika shalat Jum’at bagi orang yang diwajibkan shalat Jum’at. As Sa’di dalam Tafsir-nya mengatakan:
أي: اتركوا البيع، إذا نودي للصلاة، وامضوا إليها
“maksudnya tinggalkan jual-beli ketika adzan dikumandangkan, dan hendaknya pergi menuju shalat” (Taisir Karimirrahman, 825).
Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya mengatakan:
اتفق العلماء رضي الله عنهم على تحريم البيع بعد النداء الثاني
“Para ulama radhiallahu’anhum bersepakat haramnya jual-beli setelah adzan yang kedua”

Yaitu jika berpegang pada pendapat bahwa adzan Jum’at boleh dua kali. Adapun jika adzan Jum’at hanya sekali maka ketika adzan itu sudah tidak boleh berjual-beli. Ibnu Qudamah mengatakan:
والنداء الذي كان على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم هو النداء عَقِيْب جلوس الإمام على المنبر ، فتعلق الحكم به دون غيره . ولا فرق بين أن يكون ذلك قبل الزوال أو بعده
“Adzan (shalat Jum’at) yang ada di zaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam hanyalah adzan setelah imam duduk di mimbar. Maka larangan jual-beli ini dikaitkan pada adzan tersebut bukan adzan yang lainnya. Dan tidak ada bedanya apakah itu sebelum zawal ataukah sesudah zawal” (Al-Mughni, 2/145).


Ringkasnya, ketika imam sudah naik mimbar lalu setelah itu dikumandangakan adzan maka berlakulah larangan jual-beli ketika itu.

Sahkah akad jual-belinya?
Ketika orang yang diwajibkan shalat Jum’at melakukan akad jual-beli, setelah khatib naik mimbar dan adzan, sahkah akadnya?

Ulama berbda pendapat dalam masalah ini dalam dua pendapat:
Pendapat pertama, akadnya sah. Ini pendapat Hanafiyah dan Syafi’iyyah. Karena larangan jual-beli di sini bukan pada dzat akadnya namun karena sebab lain yaitu bisa memalingkan orang dari shalat Jum’at.
Pendapat kedua, tidak sah akadnya, dengan dalil surat Al Jumu’ah ayat 9. Secara eksplisit, ayat tersebut menunjukkan tidak sahnya akad menurut mereka. Ini merupakan pendapat Malikiyyah dan Hanabilah.


Wallahu a’lam, yang kami pandang lebih kuat dalam hal ini adalah pendapat kedua. Karena larangan berjual-beli dalam hal ini adalah maani’ (penghalang) untuk sempurnanya akad. Sehingga akad tidak sah dengan adanya penghalang. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan:
الصحيح من العقود ما ترتبت اثاره على وجوده كترتب الملك على عقد البيع مثلا . ولا يكون الشيء صحيحا إلا بتمام شروطه و انتفاء موانعه
“Akad yang sah adalah yang bisa membuat berlakunya konsekuensi dari akad tersebut. Seperti konsekuensi kepemilikan dalam akad jual-beli misalnya. Dan akad tidak disebut sah kecuali dengan terpenuhinya syarat-syarat dan hilangnya mawani’ (penghalang)” (Al Ushul min ‘Ilmil Ushul, 13).

Bolehkah orang-orang yang tidak wajib shalat Jum’at berjual beli

Dari penjelasan di atas kita ketahui bahwasanya yang terkena larangan jual-beli adalah orang-orang yang diwajibkan shalat Jum’at. Maka mafhumnya, orang-orang yang tidak wajib shalat Jum’at tidak terlarang melakukan jual-beli. Dengan syarat, kedua pihak yang melakukan jual-beli adalah orang-orang yang tidak diwajibkan shalat Jum’at. Seperti jual beli antara sesama wanita, antara wanita dengan musafir, antara anak kecil dengan wanita, dan semisalnya. Ibnu Qudamah mengatakan:
وتحريم البيع , ووجوب السعي , يختص بالمخاطبين بالجمعة , فأما غيرهم من النساء والصبيان والمسافرين , فلا يثبت في حقه ذلك ; فإن الله تعالى إنما نهى عن البيع من أمره بالسعي , فغير المخاطب بالسعي لا يتناوله النهي , ولأن تحريم البيع معلل بما يحصل به من الاشتغال عن الجمعة , وهذا معدوم في حقهم . وإن كان أحد المتبايعين مخاطبا والآخر غير مخاطب , حرم في حق المخاطب , وكره في حق غيره ; لما فيه من الإعانة على الإثم
“Pengharaman jual-beli dan wajibnya sa’yu (pergi menuju shalat), ini khusus bagi orang-orang yang diwajibkan shalat Jum’at. Adapun yang selain mereka, baik wanita, anak kecil, musafir, maka larangan tidak berlaku. Karena yang Allah larang untuk berjual-beli adalah orang-orang yang Allah perintahkan untuk pergi menuju shalat. Adapun yang tidak diperintahkan shalat maka tidak tercakup dalam larangan. Kemudian, larangan berjual-beli juga alasannya adalah karena ia dapat menyibukkan dari shalat Jum’at. Dan alasan ini tidak ada pada orang-orang yang tidak wajib shalat Jum’at. Adapun jika salah satu pihak yang bertransaksi adalah orang yang wajib shalat Jum’at sedangkan pihak yang lain tidak wajib. Maka hukumnya haram bagi orang yang diwajibkan tersebut. Dan makruh bagi yang tidak waijb karena terdapat unsur tolong-menolong dalam dosa” (Al Mughni, 2/73).


Maka hendaknya orang-orang yang tidak diwajibkan shalat Jum’at mereka memberi nasihat kepada orang-orang yang lalai dari shalat Jum’at padahal wajib atas mereka. Dan jangan membantu mereka dalam kelalaian dengan bertransaksi jual-beli dengan mereka.
Demikian paparan singkat mengenai jual-beli ketika shalat Jum’at, semoga bermanfaat.Wallahu a'lamu (al-Inaya/islma.or.id)

Friday, May 25, 2018

Indahnya Taubat dalam Islam

Orang berbuat maksiat lalu taubat, kemudian bermaksiat lagi, kemudian taubat lagi. Apakah taubatnya diterima?

Pintu Taubat Dibuka Lebar
Sungguh Allah Ta’ala telah melapangkan dan melonggarkan serta memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada kita untuk bertaubat kepada-Nya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ النَّهَارِ ، وَبِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ اللَّيْلِ
“Sungguh, Allah meluaskan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat dari hamba yang bermaksiat di siang hari. Dan Allah meluaskan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat dari hamba yang bermaksiat di malam hari” (HR. Muslim no.7165)

[baca mengalah dalam debat

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:
إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لمَ ْيُغَرْغِرْ
“Sungguh Allah menerima taubat hamba-Nya selama nyawa belum sampai di kerongkongan” (HR. At Tirmidzi, 3880. Ia berkata: “Hadits ini hasan gharib”. Di-hasan-kan oleh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi).

Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga telah mengabarkan kepada kita kisah seorang lelaki yang telah membunuh 99 orang:

فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنَ تَوْبَةٍ فَقَالَ لاَ. فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ
“Lelaki tersebut ditunjukkan kepada seorang ahli ibadah, ia mendatanginya dan bertanya: ‘Aku telah membunuh 99 orang. Apakah aku masih bisa bertaubat?’. Ahli ibadah tadi berkata: ‘Tidak’. Lelaki tersebut pun membunuhnya hingga genaplah 100 orang. Kemudian ia bertanya kepada penduduk yang paling alim, dan ia pun ditunjukkan kepada seorang ulama. Ia kemudian bertanya: ‘Aku telah membunuh 100 orang. Apakah aku masih bisa bertaubat?’. Ulama tadi berkata: ‘Ya. Memangnya siapa yang bisa menghalangimu untuk mendapatkan taubat?’” (HR. Muslim, no.7184)


Maka siapakah yang bisa menghalangi anda dari taubat, saudaraku? Kesempatan selalu terbuka lebar!

Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Allah kehendaki” (QS. An Nisa: 4)

Bahkan dosa syirik! Ketika seorang musyrik bertaubat kepada Allah dan ia kembali ke jalan Allah Ta’ala, maka tidak ada yang dapat menghalangi ia dari Allah. Bahkan, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengabarkan bahwa orang musyrik dari kalangan ahlul kitab yang bertaubat, ia mendapat dua pahala dari taubatnya.

Mengulang Dosa Setelah Taubat
Memang demikianlah sifat dasar manusia, berbuat kesalahan tidak hanya sekali namun berkali-kali. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap manusia pasti banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang sering bertaubat” (HR. Tirmidzi no.2687. At Tirmidzi berkata: “Hadits ini gharib”. Di-hasan-kan Al Albani dalam Al Jami Ash Shaghir, 291/18).

Perhatikan dalam hadits ini digunakan kata خطاء yang artinya: banyak berbuat salah. Namun kata Nabi setelah itu, “sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang sering bertaubat”. Ini isyarat bahwa orang yang dosanya banyak, termasuk orang yang mengulang dosa yang sama setelah taubat, tetap akan diterima taubatnya.

Juga dalam sebuah hadits shahih disebutkan:

أإِنَّ عَبْدًا أَصَابَ ذَنْبًا فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا فَاغْفِرْ لِى فَقَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ فَغَفَرَ لَهُ ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا آخَرَ وَرُبَّمَا قَالَ أَذْنَبَ ذَنْبًا آخَرَ فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا آخَرَ فَاغْفِرْ لِى قَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ فَغَفَرَ لَهُ ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا آخَرَ وَرُبَّمَا قَالَ أَذْنَبَ ذَنْبًا آخَرَ فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا آخَرَ فَاغْفِرْ لِى فَقَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ فَقَالَ رَبُّهُ غَفَرْتُ لِعَبْدِى فَلْيَعْمَلْ مَا شَاءَ
“Ada seorang hamba yang berbuat dosa lalu ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa, ampunilah aku’. Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa’. Lalu dosanya diampuni. Dan berjalanlah waktu, lalu ia berbuat dosa lagi. Ketika berbuat dosa lagi ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa lagi, ampunilah aku’. Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa’. Lalu dosanya diampuni. Dan berjalanlah waktu, lalu ia berbuat dosa lagi. Ketika berbuat dosa lagi ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa lagi, ampunilah aku’. Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa’. Lalu dosanya diampuni. Lalu Allah berfirman: ‘Aku telah ampuni dosa hamba-Ku, maka hendaklah ia berbuat sesukanya’” (HR. Bukhari no. 7068).


Dalam Fathul Baari dijelaskan Ibnu Hajar Al Asqalani berkata: “Makna dari firman Allah ‘Aku telah ampuni dosa hamba-Ku, maka hendaklah ia berbuat sesukanya‘ adalah: ‘Selama engkau selalu bertaubat setiap kali bermaksiat, Aku telah ampuni dosamu’”. Beliau juga membawakan perkataan Imam An Nawawi: “Jika seseorang berbuat dosa seratus kali, seribu kali, atau bahkan lebih banyak, dan setiap berbuat dosa ia bertaubat, maka taubatnya diterima. Bahkan jika dari ribuan perbuatan dosa tadi setelahnya ia hanya sekali bertaubat, taubatnya pun diterima” (Fathul Baari, 89/21).

Apakah Ini Kabar Gembira Untuk Ahli Maksiat?
Tentu ini bukan angin segar untuk terus berbuat maksiat. Karena seseorang bermaksiat hendaknya ia sadari bahwa belum tentu ia mendapatkan taufiq untuk bertaubat nasuha setelah maksiat dan belum tentu ia mati dalam keadaan sudah bertaubat. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا
“Sungguh setiap amal tergantung pada bagian akhirnya” (HR. Bukhari no. 6493).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:
الرجلَ ليعمل الزمنَ الطويلَ بعمل أهلِ الجنَّةِ ، ثم يُختَمُ له عملُه بعمل أهلِ النَّارِ ، و إنَّ الرجلَ لَيعمل الزمنَ الطويلَ بعملِ أهلِ النَّارِ ثم يُختَمُ [ له ] عملُه بعمل أهلِ الجنَّةِ
“Ada seseorang yang ia sungguh telah beramal dengan amalan penghuni surga dalam waktu yang lama, kemudian ia menutup hidupnya dengan amalan penghuni neraka. Dan ada seseorang yang ia sungguh telah beramal dengan amalan penghuni neraka dalam waktu yang lama, lalu ia menutup hidupnya dengan amalan penghuni surga” (HR. Al Bukhari no. 2898, 4282, Muslim no. 112, 2651).

Maka teruslah istiqamah menjauhi maksiat dan terus bertaubat kepada Allah, semoga kita dimatikan di atas kebaikan.(al-inaya)