Showing posts with label Tatacara melafadzkan khususon. Show all posts
Showing posts with label Tatacara melafadzkan khususon. Show all posts

Monday, July 15, 2019

Cara memandikan dan merawat mayat atau mayyit

Merawat mayyit merupakan tugas wajib seorang muslim terhadap muslim lainnya yang sudah meninggal karena hukum merawat mayyit adalah fardu kifayah apabila seseorang mengerjakannya maka gugurlah kewajiban orang yang ada disekitarnya.

adapun tatacara merawat mayyit (jenazah)sudah banyak ditemukan dalam kitab kitab fiqih pada umumnya, namun terdapat kesulitan dalam memperaktekan.ketika seorang sudah meninggal maka ada empat hal yang harus di lakukan oleh muslim lain yang masih hidup, yaitu;
1.memandikan
2.mengkafani
3.mensholati
4.menguburkan
adapun yang berkewajiban merawat mayyit yaitu wali atau ahli waris dari mayyit.yang di maksud wali ialah orang yang mempunyai tsnggung jawab terhadap mayyit.
memandikan mayyit sunnah dipercepat. bahkan bila di hawatirkan tubuh mayyit akan segera rusak atau busuk maka wajib mempercepat memandikannya. dalam memandikan mayyit diusahakan mencari tempat yang sepi dan tertutup(aman dari pandangan mata). lebih utama dilakukan dihalaman namun harus dibatasi menggunakan satir atau penghalang. mayyit dimandikan dengan posisi kepala lebih tinggi. dianjurkan membakar kemenyan disekitar pemandiannya guna untuk menulak bau yang dikeluarkan dari tubuh mayyit.
jika mayyit laki laki, maka yang memandikan jugak laki bagitu jugak sebaliknya. orang yang memandikan mayyit tidak lebih dari tujuh orang dengan rincian sebagai berikut;
1. tiga orang memangku mayyit
2. empat orang menggosok mayyit, menyiram tubuh mayyit, membantu menyediakan hal hal yang dibutuhkan saat proses memandikan mayyit berlangsung di antaranya ialah:
1). Bersihkan najis najis yang melekat pada tubuh mayyit.
2). Mayyit ditutupi dengan kain yang tipis.
3). Mayyit diposisikan duduk agak condong kebelakang, punggungnya disandarkan pada lutut kanannya orang yang memandikan, pundaknay dipegang dengan menggunakan tangan kanan serta leher belakang ditahan dengan ibujari tangan kanan, sementara tangan yang kiri oarng yang memandikan memijat perut mayyit beerulang ulang sambil menekan untuk mengeluarkan kotorang yang ada dalam perut, kemudian disiram dengan bersih.
4). Mayyit ditidurkan dalam keadaan terlentang untuk di bersihkan dubur dan kubul-nya.
5). Bersihkan daerah sekitar dubur dan kubul (kemaluan) dengan tangan kiri yang dibungkus dengan kain atau sarung tangan.
6). Ketika sudah selesai membersihkan dubur atau kubul maka lepaskan sarung tangan kemudian memberaihkan gigi mayyit dengan jari telunjuk. akan tetapi yang harus menjadi perhatian ketika memberaihkan gigi mayyit, mulut mayyit jangan sampai terbuka terlalu lebar karena dihawatirkan bisa kemasukan air yang dapat mempercepat proses pembusuka  kepala mayyit. setelah itu, bersihkan juga lubang hidung mayyit dengan menggunakan jari kelingking.
7). Ketika mayyit sudah diberaihkan dari ujung kepala sampai ujung kaki maka langkah selanjutnya adalah mewudui mayyit sebagaimana wuduknya orang yang hidup adapun niatnya adalah sebagai berikut: "saya niat wuduk untuk mayyit laki laki atau perempuan ini karena Allah  ta'ala"
8). Kemudian seluruh tubuh mayyit disiram dengan air. disunnahkan di mulai dari bagian kanan lalu dilanjutkan pada siraman pada anggota bagian kiri. air yang digunakan untuk siraman mayyit dicampur dengan daun bidara(daun bukkol) atau dicampur menggunakan sabun.
9). Setelah mayyit disiram menggunakan air yang dicampur dengan sabun maka mayyit disiram dengan air bersih dari ujung kepala sampai ujung kaki untuk menghilangkaa sabun yang berada dalam tubuh mayyit. air dalam basuhan ini di campur sedikit dengan kapur barus atau daun bidara yang sekiranya tidak merubah kemutlakan air yang akan diairamkan kepada mayyit
10). Ulangi dalam memandikan mayyit seperti di atas sampai tiga kali siraman.pada siraman yang kwtiga orang yang memandikan mayyit disunnahkan niat memandikan jenazah "saya niat memandikan mayyit laki laki / perempuan karena Allah Ta'ala.
11). Mayyit harus diperiksa, karena di hawatirkan ada najis yang keluar dari mayyit. bila ternyat mayyit memang mengeluarkan benda najis dari tubuhnya maka cukup dibersihkan najisnya, tanpa harus memandikan kembali dan menyucikannya.
12). Kemudian tubuh mayyit dikeringkan dengan kain dan tidurkan di atas dipan.
Catatan:
* pada saat memandikan haram melihat aurat mayyit, sedangkan selain auratnya sunnah tidak melihat kecuali untuk kepentingan tajhizul mayyit
* pada saat itupula di sunnahkan menutupi wajah mayyit dengan menggunakan kayin.
* Niat memandikan mayyit dihukumi sunnah maskipun pekerjaannya wajib. sedangkan niat mewudui hukumnya wajib maskipun pekerjaannya sunnah (Syai'un Wajibun Waniyyatuhu Sunnatun, Wasyai'un Sunnatun Waniyatuhu Wajibun).
alinayah.




Sunday, July 15, 2018

4 Penyebab Orang Menjadi Sombong

Sombong adalah sifat yang dilarang dalam islam, apasih arti sombong yang sebenarnya kalau kita kaji dari beberapa sumber yang ada sombong merupakan sifat yang berada dalam diri manusian yang membuat dirinya merasa lebih di atas orang lain . orang yang sombong merasa dirinya sempurna dan memandang dirinya berada di atas orang lain dalam al-Qur’an allah berfirman:
إنه لايحب المستكبرين
“sesungguhnya Allah tidak senang kepada orang-orang yang sombong”
Manusia kadang tidak tau dan tidak sadar akan kesombongan yang terjadi kepadanya.perbuatan yang dilakukan dianggap semuanya benar dan tepat sesuai dengan syariat padahal apa yang kita perbuat itu merupakan pelanggaran dan kecongkakan yang kita tampakkan kepada Allah SWT dan menimbulkan murkanya Allah SWT,

Sebuah aplikasi yang membuat heboh Indonesia pada saat ini yang sangat viral ditengah kalangan anak muda dan remaja yaitu Tik Tok telah membuat suatu yang sangat mengejutkan dan membuat anak muda sudah keluar dari norma agama dan membuat umat islam marah dengan aksi mereka, kenapa demikian karena kelakuan ombar-ombar aurat dan kata-kata kotor telah keluar dari mulut mereka yang mana hal tersebut menjadikan mereka Murtad atau keluar dari ajaran Islam.

 Penyebab Murtad, Setiap orang islam wajib memelihara dan menjaga keislamannya agar jangan sampai ada sesuatu yg merusak,membatalkan dan memutus islamnya,sebab semua itu adalah murtad, semoga kita dilindungi oleh Alloh dari perbuatan murtad. Pada zaman ini banyak orang yg sembrono dalama berkata2. Sehingga yg diucapkan sungguh sungguh mengeluarkan dirinya dari agama islam,sementara dia sama sekali tidak pernah menganggap bahwa yang diucapkan itu dosa ,perbutan murtad terbagi menjadi tiga hal.


Nah termasuk yang dimanakah kita pada saat ini yang tentunya banyak orang murtad karena perkataannya apalagi pada zaman sekarang anak muda sudah terobsesi dari Aplikasi yang ingin dirinya dipuji orang dan dikagumi orang padahal perbuatan yang ia lakukan adalah Murtad.
Kesombongan jugak yang membuat orang lupa akan hakikat kehidupan yang sebenarnya ada beberapa factor yang menyebabkan manusia sombong

1 Bertambahnya Harta
Kadang Manusia sombong dan angkuh apabila ia sudah sukses dalam dunia, banyak harta sehingga hartanya begitu melimpah gampang didapet, sehingga ia lupa dan terlena akan harta yang ia peroleh siapapun menjadi budaknya dan menjadi pesuruhnya tidak pandang siapa dia bahkan ibu kandungnyapun menjadi budak baginya. Allah Ta’ala berfirman,

كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى (6) أَنْ رَآَهُ اسْتَغْنَى (7) إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى (8)
 “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu).” (QS. Al ‘Alaq: 6-8).

Manusia Telah Melampaui Batas, Al Qurthubi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan thugyan (layathgho) dalam ayat adalah melampaui batas dalam bermaksiat. (Tafsir Al Qurthubi, 10: 75)

Dalam ayat di atas, Allah mengabarkan bahwa manusia begitu bangga dan sombong ketika melihat dirinyalah yang paling banyak harta. Lalu Allah memberikan ancaman dalam ayat selanjutnya yang artinya, “ Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu).” Maksudnya adalah kita semua akan kembali pada Allah lalu kita akan dihisab. Kita akan ditanya dari mana harta kita dikumulkan. Kita pun akan ditanya ke mana harta kita dimanfaatkan. Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Ahzhim, 7: 604.

2. Bertambahnya kedudukan
Kedudukan membuat orang lupa mana yang harus dilakukan dan mana yang harus ditinggalkan, gara-gara jabatan mereka rela berbuat curang, menipu, dan berbuat keji demi kedudukan dan kemenagan padahal pangkat dan jabatan hanyalah titipan dari Allah SWT.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. (رواه مسلم)
Tidak akan masuk surga seorang yang dalam hatinya ada sebiji dzarrah dari kesombongan. (HR. Muslim)

Yang demikian karena surga Allah سبحانه وتعالى persiapkan bagi orang-orang yang tidak sombong, sebagaimana firman-Nya:

تِلْكَ الدَّارُ اْلآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لاَ يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ. (القصص: 83)
Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa. (al-Qashash: 83)

Demikian kerasnya ancaman di atas terhadap seorang yang memiliki sifat sombong, karena kesombongan itu adalah pakaian Allah. Maka terlalu lancang bagi seseorang yang memakai pakaian Allah tsb.

3.Bertambahnya ilmu
Orang yang berilmu juga tidak luput dari gangguan syetan yang menggoda, terbesit dalam hatinya “akulah yang paling cerdas dan paling pinter yang berhak untuk maju tidak ada orang yang cerda kecuali saya” dia tidak merasa darimana ia dilahirkan dan keadaan apa ia dilahirkan.
Wahb bin Munabbih berkata, “Sesungguhnya ilmu dapat membuat sombong sebagaimana harta.”
Masruq berkata, “Cukuplah seseorang dikatakan berilmu jika ilmu tersebut membuahkan rasa takut kepada Allah k. Sebaliknya, cukuplah seseorang dianggap bodoh tatkala membanggakan diri dengan ilmunya.”

4. Bertambah Ketaatan
Orang yang beribadah jugak tidak luput dari syetan yang mengganggu bahkan yang menjadi sasaran syetan adalah orang – orang yang taat dan beribadah sehingga kadang mereka tidak merasa telah berbuat sombong dengan ibadahnya.
Sebuah kisah ahli ibadah yang terjatuh dalam kesombongan tanpa disadari

Ketika itu aku berusaha mendekatkan diri kepada Allah ta’ala hingga aku pun senantiasa beribadah dan berdzikir di masjid, hari demi harinya hidup ku dedikasikan agar senantiasa ibadah dan ibadah tanpa mendalami ilmu, adapun ilmu hanya sebatas pelajaran yang aku dapatkan ketika waktu belajar tiba sedangkan selebihnya aku lebih banyak berdiam diri di masjid dengan melakukan berbagai ibadah baik shalat fardhu maupun sunnah, dzikir, shalawat, baca al-Qur’an dan lain-lain.

Seiring berlangsungnya masa rajinnya ibadahku itu, aku pun mulai melihat orang-orang di sekitarku itu mengecil (tdk lbh baik dariku), setiap kali orang lain menegurku aku pun tersenyum seraya hatiku bergumam, “aku ini orang paling alim di sini dan paling baik ibadahnya.” Pada saat itu Aku merasa dunia dan seisinya ini kecil sekali bagiku dan akulah yang besar karena aku merasa aku telah banyak melakukan berbagai macam ibadah yg disyariatkan Allah ta’ala dan akulah hamba Allah yang paling dekat dengannya. Adapun santri-santri lain aku merasa bahwa mereka beribadah karena adanya tuntutan & aturan pesantren sehingga ibadah mereka tak sebanyak dan serajin diriku maka wajarlah kalau aku lebih besar dan lebih baik daripada mereka.

Hal itu pun berlangsung cukup lama hingga masa futur pun tiba dan terhentilah keistiqamahanku saat itu, dan pada saat itu pula aku sama sekali tidak merasa keadaanku itu sedang terjangkiti penyakit hati karena dalam pikiranku “aku ini orang yg paling rajin ibadah.”

Lalu seiring bertambahnya ilmu, bertambahnya wawasan, dan di saat aku flashback (mengingat akan hal itu) ternyata keadaanku saat di ma’had dulu itu adalah keadaan yang paling berbahaya & paling mengerikan yang mana Iblis saja dikeluarkan dari surga karena kondisi tersebut yaitu: “SOMBONG” (Al-Kibru)

Tahukah kalian di mana letak kesalahanku saat itu ?

Letaknya adalah “aku merasa dirikulah yang paling dekat dengan Allah dan paling baik karena ketaatan dan ibadahku itu” dan inilah hakikat kesombongan yang sebenarnya yaitu meremehkan manusia.

Aku memang tidak menolak kebenaran karenanya Syaithon saat itu menjadikan diriku agar merasa bahwa akulah hamba Allah yang paling baik dan yang lainnya di bawahku dan perbuatan ini secara tidak langsung telah meremehkan banyak manusia.
  
Kisah ini dinukil dari kisah nyata yang dialami sahabat terbaikku dan ia selalu mengingatkan kami akan bahaya semacam ini ketika kami mengobrol, karena ketika kita merasa diri yang paling banyak ibadahnya, atau yang paling berilmu, sedangkan orang lain tidak lebih baik bahkan kecil di mata kita maka secara tidak langsung penyakit sombong sedang menggerayangi hati kita -Allahul Musta’aan- semoga kita senantiasa dijaga Allah ta’ala dari berbagai penyakit hati yang membinasakan kita, aamiin.(Al-Inaya) Wallahu A'lamu


Monday, July 9, 2018

Perlukah Adzan di dalam Shalat sendirian.?

Ketika kita masuk masjid, jamaah sdh selesai.. lalu kita mau shalat, apakah kita harus iqamah? Trim’s…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Adzan dan iqamah dianjurkan untuk semua shalat wajib. Baik yang dilakukan di awal waktu bersama imam, atau yang dilakukan oleh jamaah kedua, bahkan termasuk yang shalat sendirian.

Terdapat beberapa riwayat yang menunjukkan anjuran ini, diantaranya,

[1] Hadis dari Abu Sha’sha’ah al-Anshari, bahwa beliau pernah dinasehati sahabat Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu,

إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ، فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ، أَوْ بَادِيَتِكَ، فَأَذَّنْتَ بِالصَّلاَةِ، فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ، فَإِنَّهُ لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ، وَلاَ شَيْءٌ، إِلاَّ شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، قَالَ أَبُو سَعِيدٍ: سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم

Saya lihat, kamu suka menggembala kambing dan berada di tempat yang jauh dari pemukiman. Ketika kamu jauh dari pemukiman, (ketika masuk waktu shalat), lakukanlah adzan dan keraskan suara adzanmu. Karena semua jin, manusia atau apapun yang mendengar suara muadzin, akan menjadi saksi kelak di hari kiamat. Seperti itu yang aku dengar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari 3296, Ahmad 11393 dan yang lainnya).

baca: Hakekat Makam Ibrahim

Meskipun Abu Sha’sha’ah sendirian, beliau tetap dianjurkan adzan ketika hendak shalat wajib.

[2] Riwayat dari Abu Utsman, beliau bercerita,

مَرَّ بِنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ فِي مَسْجِدِ بَنِي ثَعْلَبَةَ فَقَالَ: «أَصَلَّيْتُمْ؟»، قَالَ: قُلْنَا: نَعَمْ، وَذَاكَ صَلَاةُ الصُّبْحِ، فَأَمَرَ رَجُلًا فَأَذَّنَ وَأَقَامَ ثُمَّ صَلَّى بِأَصْحَابِهِ

Anas bin Malik pernah bertemu kami di masjid Bani Tsa’labah. Beliau bertanya, ‘Apakah kalian sudah shalat?’ kami jawab, ‘Sudah.’ Dan ketika itu shalat subuh. Lalu beliau menyuruh salah seorang untuk adzan dan iqamah, kemudian beliau mengimami shalat subuh bersama rombongannya. (HR. Abu Ya’la al-Mushili dalam Musnadnya 4355 dan sandanya dinyatakan shahih oleh Husain Salim Asad).

Dalam riwayat lain, Abu Utsman mengatakan,

رَأَيْتُ أَنَسًا وَقَدْ دَخَلَ مَسْجِدًا قَدْ صَلَّى فِيهِ فَأَذَّنَ، وَأَقَامَ

Aku pernah melihat Anas bin Malik masuk masjid, dan ketika itu shalat sudah selesai, lalu beliau adzan dan iqamah. (HR. Abdurrazaq dalam al-Mushannaf 1967).

Keterangan Para Ulama

[1] Keterangan Ibnul Mundzir (w. 319 H.)

Beliau menjelaskan anjuran untuk adzan dan iqamah bagi mereka yang masuk masjid sementara shalat sudah selesai,

يؤذن ويقيم أحب إلي، وإن اقتصر على أذان أهل المسجد فصلى، فلا إعادة عليه، ولا أحب أن يفوته فضل الأذان

Dia melakukan adzan dan iqamah lebih aku sukai. Jika tidak adzan karena tadi sudah diadzani takmir, sehingga langsung shalat, maka hukumnya sah dan tidak perlu diulang. Meskipun saya tidak suka jika dia kehilangan keutamaan adzan. (al-Ausath fi as-Sunan wal Ijma’ al-Ikhtilaf, 3/61)

[2] Keterangan Ibnu Qudamah (w. 620 H)

Ibnu Qudamah juga menganjurkan untuk mereka yang telat, sehingga shalat setelah jamaah selesai, agar tetap melakukan adzan dan iqamah. Hanya saja, suaranya dipelankan agar tidak memicu fitnah.

وإن أذن فالمستحب أن يخفي ذلك، ولا يجهر به ليغر الناس بالأذان في غير محله

Jika orang yang telat itu adzan, dianjurkan untuk dipelankan, dan tidak dikeraskan, agar tidak membuat salah sangka di tengah masyarakat disebabkan adzan yang tidak pada waktunya. (al-Mughni, 1/306)

[3] Keterangan Ibnu Abdil Bar

Beliau menyebutkan bagi musafir yang hendak shalat, ulama sepakat dianjurkan untuk adzan dan iqamah.

baca: Apa itu mahram sementara dalam Islam

Beliau mengatakan,

وقد أجمعوا على أنه جائز للمسافر الأذان، وأنه محمود عليه مأجور فيه

Mereka (para ulama) sepakat bahwa bagi musafir boleh melakukan adzan, dan itu terpuji baginya dan dia mendapat pahala. (al-Istidzkar, 1/402).(al-Inaya/Ks) Demikian, Allahu a’lam.

Monday, June 4, 2018

Mengenal Allah Hanya di Bulan Ramadhan Saja

Bulan Ramadhan adalah bulan tarbiyah yang mendidik kita agar terbiasa melakukan berbagai amal shalih, menjadi lebih baik dan meninggalkan segala maksiat yang merugikan diri sendiri. Harusnya setelah Ramadhan, seorang muslim menjadi lebih baik, akan tetapi -wal ‘iyadzu billah-  ada juga orang yang setelah Ramadhan kembali menjadi buruk bahkan lebih buruk daei sebelumnya. Ramadhan hanya ia gunakan momentum sesaat untuk mengenal Allah dan setelah Ramadhan ia berniat untuk kembali bermaksiat kepada Allah dan melupakan Allah sebagai penciptanya.

Terdapat sebuah ungkapan dari salaf kita:
ﺑﺌﺲ ﺍﻟﻘﻮﻡ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻻ ﻳﻌﺮﻓﻮﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻻ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ
“Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan saja.”
Syaikn Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa makna ungkapam ini adalah benar apabila mereka melalaikan kewajiban-kewajiban agama setelah ramadhan. Semisal Ramadhan rajin shalat dan memakai jilbab, namun setelah Ramadhan shalat bolong-bolong dan kembali melepas jilbab. Beliau menjelaskan,
ﻭﻫﺬﺍ ﺻﺤﻴﺢ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻀﻴﻌﻮﻥ ﺍﻟﻔﺮﺍﺋﺾ، ﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻻ، ﺇﻧﻤﺎ ﻳﺘﺮﻛﻮﻥ ﺑﻌﺾ ﺍﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﻓﺎﻟﻘﻮﻝ ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﻫﻮ ﺑﺼﺤﻴﺢ، ﻟﻜﻦ ﻣﺮﺍﺩﻩ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺘﺮﻛﻮﻥ ﺍﻟﻔﺮﺍﺋﺾ، ﻳﻌﻨﻲ : ﻳﺼﻠﻲ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻭﻳﺘﺮﻙ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﻴﻤﺎ ﺳﻮﻯ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻣﺜﻼً، ﻓﻬﺬﺍ ﺑﺌﺲ ﺍﻟﻘﻮﻡ ﻷﻧﻬﻢ ﻛﻔﺮﻭﺍ ﺑﻬﺬﺍ
“Ungkapan ini adalah benar apabila mereka melalaikan kewajiban-kewajiban agama. Apapun jika tidak, ia hanya meninggalkan sebagian perkara ijtihad. Ungkapan ini adalah benar, akan tetapi maksudnya adalah meninggalkan hal-hal wajib, semisal shalat pada bulam Ramadhan kemudian ia tinggalkan shalat selain bulan Ramadhan, maka ini adalah sejelek-jelek kaum karena mereka telah melakukan kekafiran.”[1]
Meninggalkan shalat sangat berbahaya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﻭَﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙِ ﻭَﺍﻟْﻜُﻔْﺮِ ﺗَﺮْﻙُ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ
“(Batas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.”[2]
Yang sebelumnya melakukan shalat kemudian tidak melakukannya lagi diibaratkan pintalan yang rapi kemudian terurai dan tercerai berai.
Allah ta’ala berfirman,
ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻜُﻮﻧُﻮﺍ ﻛَﺎﻟَّﺘِﻲ ﻧَﻘَﻀَﺖْ ﻏَﺰْﻟَﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﻗُﻮَّﺓٍ ﺃَﻧْﻜَﺎﺛًﺎ
Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali. (Qs. an-Nahl: 92)
Hendaknya kita sangat berhati-hati dan semoga Allah menolong kita, agar kita tidak berniat jelek, yaitu hanya ingin meninggalkan maksiat di bulan Ramadhan saja, sedangkam selepas Ramadhan kita berniat melakukannya lagi.
Ibnu Taimiyyah berkata,
من يعزم على ترك المعاصي في شهر رمضان دون غيره فليس هذا بتائب مطلقاً ولكنه تارك للفعل في رمضان
“Barangsiapa bertekad meninggalkan maksiat di bulan Ramadhan saja, tanpa bertekad di bulan lainnya, maka ia bukan seorang yang bertaubat secara mutlak, akan tetapi ia hanyalah sekedar orang yang meninggalkan perbuatan maksiat di bulan Ramadlaan”[3]
Semoga kita bisa menjadi bulan Ramadhan dnn puasa sebagai peningkat ketakwaan kita karena inilah tujuannya sebagaimana dalam Al-Quran:
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁَﻣَﻨُﻮﺍ ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻛَﻤَﺎ ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠِﻜُﻢْ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﺘَّﻘُﻮﻥَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Qs. Al-Baqarah: 183)(al-Inaya/Muslim.or.id)
Sumber :
[2] HR. Muslim
[3] Al-Majmu’ Al-Fatawa 10/743

Wednesday, May 30, 2018

Ancaman Bagi Pembunuh Dalam Al-Quran

Dalam Islam pembunuhan sangat dilarang dan diancam masuk nerakanya Allah SWT dan Allah sangat memurkainya, laknat dari Allah akan menimpa siapa saja yang membunuh orang Islam didunia ataupun diakhirat, kekejaman pada saat sekarang sudah tidak bisa dibendung, pembunuhan dan pelecehan sexsual sungguh melanda kehidupan manusia padahal allah SWT akan memasukkan mereka ke dalam NerakaNya sebagai mana yang Allah jelaskan dalam firmanNya: 

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا (٩٣)

93. dan Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.(QS: An-Nisak : 93)
Sadarlah wahai manusia kehidupan yang hanya sebatas mampir didunia ini jangan menjadikan anda kekal di neraka, kehidupan dunia ternyata melupakan kita untuk menghadapi kehidupan nyata yang sesungguhnya, oleh karenanya marilah kita saling memberikan nasehat satu sama yang lain, agar manusia sadar dan terbangun dari dosa yang sudah diperbuat. 


Sudah banyak dari media social berita yang sangat kejam yang tidak manusiawi yang sudah dilakukan oleh kalangan-kalangan yang mengklaem dirinya benar, apakah pembunuhan itu boleh.? Ataukah mereka tidak paham akan ancaman Allah yang akan menimpanya nanti di akhirat.? Atau karena kehidupan ekonomi yang membuat mereka brutal.? Ini adalah problematika yang perlu dipecahkan, agama sudah memberikan garis lurus kepada manusia akan ancaman bagi siapa saja yang melakukan pembunhan.

Ancaman Allah SWT yang nyata:

1. Akan masuk neraka jahannam

2. Akan mendapatkan murka Allah, 

3. Akan mendapatkan laknat Allah

4. Disiapkan bagi mereka siksa yang sangat kejam / pedih

Ini sesuai denga kandungan ayat di atas ( QS: an-Nisak : 93 ), dalam sebuah riwayat di ceritakan akan asbabunnuzul ayat ini. Ayat ini turun berkenaan dengan seorang Anshar yang membunuh saudara Miqyas bin shahabah. Oleh Nabi Muhammad SAW dibayarkan diyatnya (denda) kepada Miqyas tetapi setelah ia menerima diyatnya, ia menerkam pembunuh adiknya dan membunuhnya. Maka Rasulullah SAW bersabda “aku tidak menjamin keselamatan jiwanya, baik dibulan halal atau di bulan haram “ (baca Asbabun Nuzul Drs Cholil Uman hal : 176)

Dalam ayat lain Allah menjelaskan (QS : An-Nisak : 92).

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلا خَطَأً وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ إِلا أَنْ يَصَّدَّقُوا فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا (٩٢)

92. dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja)[334], dan Barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat[335] yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah[336]. jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada Perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, Maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya[337], Maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari pada Allah. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS : An-Nisak : 92).

[334] Seperti: menembak burung terkena seorang mukmin. [335] Diat ialah pembayaran sejumlah harta karena sesuatu tindak pidana terhadap sesuatu jiwa atau anggota badan. [336] Bersedekah di sini Maksudnya: membebaskan si pembunuh dari pembayaran diat. [337] Maksudnya: tidak mempunyai hamba; tidak memperoleh hamba sahaya yang beriman atau tidak mampu membelinya untuk dimerdekakan. menurut sebagian ahli tafsir, puasa dua bulan berturut-turut itu adalah sebagai ganti dari pembayaran diat dan memerdekakan hamba sahaya.


Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Al-Harts bin Yasid dari suku Bani Amr bin Lu’ay beserta Abu jahl pernah menyiksa “Iyasy bin Abi Rabi’ah, pada suatu harial-Harts hijrah kepada Nabi Muhammad SAW dan bertemu dangan Iyasydikampung al-Harrah. Iyasy seketika mencabut pedangnya dan langsung membunuh al-Harts yang dikira masih musuhnya (belum masuk Islam) kemudian Iyasy menceritakan kepada Nabi Muhammad SAW. maka turunlah ayat di atas (QS: an-Nisak: 92) sebagai ketentuan hukum bagi pembunuh yang keliru terhadap seorang mukmin. Demikian antikel ini kami tulis semoga bermanfaat dan bisa menyadarkan kita dari berbuat kerusakan. aminnn (al-inaya)

Wednesday, May 23, 2018

ayat yang menjelasan Cara menggauli Istri Dalam Al-Quran lengkap dengan Asbabun nuzul

Salam hangat semua para pembaca yang budiman kali ini https://al-inaya.blogspot.co.id akan menulis sebuah ayat yang menjelaskan tatacara menggauli seorang perempuan bagi seorang laki ketika sudah menjadi seorang istri, ada beberapa macam cara yang perlu dilakukan namun cara itu kami tidak akan mengulasnya namun pada kesempatan yang berbahagia ini mari kita tinjau dari pandangan al-Quran tentang menggauli istri, apakah ada batasan atau tidak ada batasan, 
ayat yang menjelasan Cara menggauli Istri Dalam Al-Quran lengkap dengan Asbabun nuzul

dalam al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 223 Allah SWT berfirman:
نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (٢٢٣)
Artinya : isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. (QS: al-Baqarah : 223)


Dalam satu riwayat dikemukakan bahwa orang-orang yahudi beranggapan, apabila menggauli isteri dari belakang ke farjinya, anaknya akan bermata juling. Maka turun ayat di atas (QS: al-Baqarah :223) yang membantah anggapan orang yahudi tersebut.

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Umar datang menghadap kepada Rasulullah SAW dan berkata: “ Ya Rasulullah, celakalah saya !” Nabi bertanya : “ apa yang menyebabkan kamu celaka? Ia menjawab : “Aku dipindahkan sukdufku tadi malam ( berjima’ dengan istriku dari belakang )”. Nabi Muhammad SAW terdiam, dan turunlah ayat tersebut di atas (QS: al-Baqarah : 223) yang kemuudian beliau sambung :” berbuatlah dari muka ataupun dari belakang tetapi hindarilah Dubur( Anus) dan yang sdang haid”.


Dalam riwayat lain juga dikemukakan bahwa orang-orang pada waktu itu menganggap munkar kepada seseorang yang menggauli istrinya dari belakang maka turunlah ayat di atas (QS:al-Baqarah :223). Yang menyalahkan sikap dan anggapan tersebut.

Juga disebutkan dalam riwaya lain bahwa turunnya ayat tersebut (QS:al-Baqarah:223)sebagai kelonggaran menggauli istri dari belakang.

Dalam riwayat lain juga dijelaskan bahwa penghuni kampong Yatsrib (Madinah) tadinya menyembah berhala yang berdampingan dengan kaum yahudi ahli kitab. Mereka menganggap bahwa kaum yahudi terhormat dan berilmu, sehingga mereka banyak meniru dan menganggap baik segala perbuatannya . salah satu perbuatannya yang dianggap baik oleh mereka ialah tidak menggauli istrinya dari belakang.Adapun penduduk kampong sekitar Quraisy (Makkah) menggauli istri dengan segala keleluasaannya ketika kaum Muhajirin (Orang Makkah) tiba di Madinah, salah seorang dari mereka kawin dengan seorang wanita Ansor (orang Madinah) . ia berbuat seperti kebiasaanya tetapi istrinya menolak dengan berkata : “kebiasaan orang sini, hanya menggauli istrinya dari muka”. Kejadina ini akhirnya sampai kepada Rasulullah SAW, sehingga turunlah ayat tersebut di atas (QS: al-Baqarah :223) yang membolehkan meggauli istrinya dari belakang atau dari depan tetapi dalam tempat yang lazim dan baik.

Kesimpulan dari keterangan ini yang dikutip dari kitab Asbabun Nuzul yang di tulis oleh Drs.Cholil Uman, menjelaskan sudah jelas dan pasti ayat di atas memperbolehkan bagi laki-laki menggauli istrinya dari belakang dan dari depan, jadi posisi menggauli istri dalam islam sudah dipermudah dan sudah dinyatakan denga posisi bagaimanapun boleh yang penting berada pada tempat yang layak dan baik.  demikianlah artikel ini semoga bermanfaat (Al-Inaya)

Thursday, April 19, 2018

Tata Cara Makan dan Minum Rasulullah


Makan dan minum memang menjadi kebutuhan setiap makhluk hidup, terutama manusia. Ada yang begitu menyukai makan, namun ada juga yang kurang suka makan. Namun bagaimanapun cara kita menyikapinya, makan adalah sebuah kebutuhan yang tak mungkin bisa kita tinggalkan. Karena dari makan dan minum lah kita bisa memperoleh asupan tenaga dan gizi yang bisa menunjang kehidupan kita.
Rasulullah SAW sebagai suri tauladan kita, selalu memberikan tuntunan yang baik dan sangat bermanfaat bagi kehidupan umat muslim. Pola makan dan hidup Rasulullah yang sehat dan teratur membuat beliau memiliki tubuh yang tak hanya tangguh namun juga kuat. Beliau selalu menjadi orang yang ada di depan pasukannya saat memimpin di medan perang. Beliau bertarung di medan perang dengan begitu gagah dan kuat, beliau jarang sakit, dan menjalani masa tua dengan tubuh yang masih tangguh. Ternyata hal tersebut tak hanya disupport dari konsumsi makanan beliau yang sehat, namun juga dari tata cara makan dan minum yang selalu terjaga.


Nah, berikut adalah tuntunan tata cara makan yang disunnahkan oleh Rasulullah agar kita ikuti:

 Berdo’a Sebelum Makan Atau Minum
اللهم بارك لنا فيما رزقتنا وقنا عذاب النار
Menurut penelitian dari Ilmuwan Jepang, dr. Masaru Emoto, ternyata air itu hidup dan juga dapat merespon positif ataupun negatif dari perlakuan manusia kepadanya. Dr. Masaru Emoto berhasil mendapatkan foto kristal air pertama di dunia bersama sahabatnya yang adalah seorang ilmuwan yang ahli dalam mikroskop, Kazuya Ishibashi. Foto Kristal itu di dapat dengan cara membekukan air pada kondisi -25°C dan difoto dengan alat foto berkecepatan tinggi.
Berdo’a Sebelum Makan
Hasilnya adalah, bahwa air menangkap getaran rasa dalam bahasa apapun, getaran air dapat merambat ke molekul air di tubuh manusia, kemudian mempengaruhi perilaku manusia. Hal tersebut juga didukung oleh hadits,
 
“Apabila seorang kalian ingin makan, hendaknya dia membaca ‘bismillah’. Dan jika ia lupa membaca di awalnya, hendaknya dia membaca ‘bismillah fii awwalihi wa aakhirihi.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 1513).

Makan dan Minum Sambil Duduk
Rasulullah selalu mengajarkan untuk makan dan minum dengan cara duduk, tidak dengan berdiri. Selain secara etika jauh lebih sopan, juga karena ada sebuah pembuktian secara ilmiah bahwa makan dan minum sambil duduk jauh lebih menyehatkan daripada melakukannya sambil berdiri. Dalam tubuh kita ada semacam sfringer atau penyaring yang berupa suatu struktur maskuler (berotot) yang bisa membuka dan menutup. Nah, makanan atau minuman yang mengandung air itu jika kita telan dalam keadaan berdiri, maka akan membuka sfringer, sehingga air bisa masuk begitu saja ke dalam kandung kemih tanpa disaring.
adab makan dan minum rosulullah
Sedangkan sebaliknya jika kita melakukan makan dan minum sambil duduk, maka air dari makanan atau minuman akan melewati dulu sfringer yang tertutup dan disaring dengan bersih saat akan masuk ke kandung kemih. Hal ini juga diperkuat oleh hadits,
 “ Nabi Muhammad SAW bersabda, Janganlah sekali-sekali salah seorang dari kalian minum sambil berdiri, barangsiapa lupa hendaklah dia memuntahkannya.” (HR. Muslim). Dan juga hadits berikut, “Dari Anas dan Qatadah, Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya beliau melarang seseorang minum sambil berdiri, Qatadah berkata, Bagiamana dengan makan? Beliau menjawab, Itu lebih buruk lagi.” (HR. Muslim dan Turmudzi).

Diawali Dengan Makan Buah
Dalam sebuah penelitian, membuktikan bahwa memakan buah di awal sebelum makan bisa memicu getah lambung untuk segera keluar dan akan membantu proses pencernaan makanan yang lain. Enzim dari tubuh dapat membantu tubuh untuk mencerna karbohidrat, protein, dan lemak.
[baca tentang al-qur'an dan hadist 
Makan Buah
Sedangkan menurut penelitian dr. Muhammad Suwardi, bahwa buah yang dikonsumsi sebagai hidangan penutup atau pencuci mulut justru hanya akan menjadi sampah dalam tubuh karena tidak dicerna secara alami di lambung namun ikut berkumpul bersama dengan makanan selama berjam-jam dalam kubangan asam lambung yang pekat. (Disebutkan dalam Buku Al-Qur’an The Amazing Secret). Mengkonsumsi buah juga dikuatkan dalam QS. Al-Waqi’ah ayat 20-21,
 
 “Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan”.

Tidak Meniup Makanan Atau Minuman
Dalam sebuah hadits disebutkan,
“Dari Abu Qatadah ra., Rasulullaah SAW bersabda, Apabila kalian minum janganlah bernafas di dalam gelas, dan ketika buang hajat, janganlah menyentuh kemaluan dengan tangan kanan.” (HR. Bukhari 153). 

Dan ternyata dari hasil penelitian membuktikan bahwa ketika air (H2O) bertemu dengan CO2 yang dihembuskan dari mulut, maka akan menghasilkan persenyawaan H2CO3, asam karbonat.

Adab Makan
Dan jika asam karbonat itu masuk dalam tubuh maka bisa mengakibatkan penyakit jantung. Selain itu, mulut manusia yang penuh kuman atau mikroorganisme juga dapat mencemari makanan atau minuman dan ikut masuk ke dalam tubuh untuk dicerna.

Makan Dengan Tangan, Tiga Jari
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada Oktober 2010, membuktikan bahwa dalam tangan terdapat enzim RNAse yang dapat mengikat bakteri sehingga aktivitasnya menjadi rendah dan melemah ketika masuk bersama makanan atau minuman dalam pencernaan tubuh. Sebaliknya ketika kita makan menggunakan sendok maka tak aka noda yang menahan laju bakteri tersebut sehingga aktivitasnya masih kuat. Dalam tangan juga terdapat energi yang besar, sehingga mampu mendorong zat-zat makanan yang telah tercerna dalam tubuh bisa berfungsi dengan maksimal di dalam tubuh.
Makan dengan Tangan
Hal ini juga diperkuat dalam sebuah hadits,
 “ Dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah bersabda, Jika salah seorang diantaramu makan, maka hendaklah ia menjilati jari-jemarinya, sebab ia tidak tahu dari jemari mana munculnya keberkahan.” (HR. Muslim).

Masya Allah, begitu tertata dengan baiknya pola kehidupan Rasulullaah SAW. Beliau selalu menjaga kesehatan dan memerintahkan kepada ummatnya untuk selalu baik dalam menjaga pola hidup sehat. Semoga kita bisa selalu menjadi ummat yang taat kepada Allah dan mengikuti sunnah-sunnah yang diajarkan oleh Rasulullaah SAW, agar hidup kita menjadi lebih berkah dan bermanfaat. Aamiin.