Showing posts with label PP al-inayah. Show all posts
Showing posts with label PP al-inayah. Show all posts

Monday, April 10, 2017

SANKERTA 2017 PON-PES AL-INAYAH

Pondok Pesantren Al-Inayah dalam rangka menyebarluaskan Islam dan melatih siswa dalam keilmuannya dibidang masing-masing maka Pondok Pesantren Al-Inayah mulai tahun 2015 mengadakan SANKERTA (Santri Kerja Nyata) untuk tahun ini 2017 SANKERTA Pon-Pes Al-Inayah akan diberangkatkan kepada beberapa titik tempat.


Keberangkatan SANKERTA ini sudah dipersiapkan pada minggu-minggu sebelumnya rencananya SANKERTA ini akan digagalkan mengingat pembiyayaan sangat banyak yang harus dikeluarkan oleh yayasan dan menunggaknya pembayaran wali santri pada tahun ini namun pihak yayasan setelah menimbang ternyata pemberangkatan SANKERTA ini hanya tunda pemberangkatannya saja yang asalnya pada tahun yang lalu SANKERTA 15 hari pada tahun ini menjadi 10 hari itu semua hanya demi menyebarluaskan dakwah islamiyah dan demi memberikan kesadaran kepada santri terhadap pentingnya menuntut ilmu sehingga mereka tahu bagaimana pentingnya ilmu dalam kehidupan sehari-hari dan masyarakat
Ada beberapa tempat yang sudah di Survie oleh pengurus Pon-Pes Al-Inayah yang sudah disetujui oleh pihak Kabupaten setempat dan kepala desa setempat dan masyarakat. Adapun tempat yang sudah dipastikan bagi siswa SANKERTA pada tahun ini adalah, SITIUNG,REGUNAS,PAMENANG, HITAMULU (Dua kelompok), JUJUHAN, KUAMANG KUNING (Tiga kelompok)dengan dibimbing oleh pembimbing yang sudah profesional demi menjaga keamanan bagi kelompok SANKERTA.
Biaya akomodasi SANKERTA yang sudah dipersiapkan oleh yayasan berkisar kurang lebih 27 juta, informasi Ini kami dapatkan dari ketua SANKERTA Ust Habibi ketika kami temui di kediamannya kemarin pada tanggal 10 April 2017

SANKERTA pada tahun 2017 ini akan diberangkatkan pada hari ini tgl 11 April 2017 jam 9:00 dan akan dilepas langsung oleh pengasuh Pon-Pes Al-Inayah Yaitu KH. Rifa’I Abdullah, S.Pd.I dan Ibu Nyai Hj Sumiyati Hilyatun Hasanah, S.Pd.I beliau pada saat ini menjabat sebagai anggota DPR di Kabupaten Tebo.

Setelah kami wawancara dengan (EVA DUYANTI) salah satu anggota SANKERTA ternyata SANKERTA ini sangat menantang mereka untuk lebih mandiri dan lebih baik lagi katanya selama ini mereka hanya bergelut di Pondok Pesantren sekarang harus menghadapi masyarakat yang bermacam-macam suku dan ras

Dengan keberangkatan SANKERTA ini semoga bisa memberikan kemanfaatan bagi nusa dan bangsa khususnya bagi Pondok Pesantren Al-Inayah dan Masyarakat setempat yang nantinya semua itu akan kembali kepada mereka siswa dan siswi kami yang berangkat SANKERTA Amin.
Tulisan ini kami buat agar masyarakat tahu dan semua wali santri tahu bagaimana sepak terjang Pon-Pes al-Inayah dalam mendidik santri-santrinya, bahwa Al-Inayah tidak hanya memikirkan santri dalam segi keilmuansaja namun mengajari santrinya agar bisa bermasyarakat dan mandiri.




Thursday, February 19, 2015

Sejarah berdirinya Pondok Pesantren Al-Inayah


Pondok Pesantren Al-inayah terletak dilokasi yang sangat strategis, yaitu ditempat yang tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat dengan keramaian, sehingga proses belajar mengajar bisa nyaman dan tenang lokasi Pondok Pesantren Al-inayah terletak dijalan Lesmana Unit 1 Desa Perintis, Kecamatan Rimbo Bujang Kabupaten Tebo Provinsi Jambi yang dirintis oleh KH. Rifa'i Abdullah, S.Pd.I dan Ibu Nyai Hj Sumiati Hliyatun Hsanah, S.Pd.I,
Yayasan ini berdiri pada  tahun 1997. Pendidikan tersebut dimulai dengan pengajian ba'da Maghrib dan Diniyah sore yang terdiri dari anak-anak sekitarnya.Seiring berjalannya waktu Pondok Pesantren Al-inayah ini semakin berkembang dan dikenal masyarakat luas sehinnga Pondok Pesantren Al-inayah Semakin maju baik didalam Pendiikan formal ataupun non formal.
adpun pendidikan yang berada di bawah naungan al-Inayah sebagai berikut:
1. Pendidikan Anak Usia Dini(PAUD) PLAY GROUP umur 2 tahun - 4 tahun lembaga ini memfokuskan diri pada pendidikan pembentukan mental/kecerdasan anak dalam menyalurkan imajinasinya
2. TK Islam /RA umur 4 tahun -6 tahun Lembaga ini bertujuan untuk membentuk jiwa Islami agar tumbuh dalam diri anak didik sebagai dasar untuk menuju jenjang selanjutnya.
3. SD/ULA pendidikan ini lanjutan dari TK Islam/RA untuk pengenalan pendidikan umum standar DIKNAS
4. MTs/ WUSTHO Sebuah sekolah lanjutan utama yang mengutamakan kurikulum sistem terpadu yakni kurikulum Pondok Pesantren, Kurikulum Diknas dan Kurikulum Depag, mata pelajaran agama menggunakan kitab-kitab salafi dan disesuaikan
5. ULYA dan SMK Pendidikan ini mengacu kepada kurikulum Pondok Pesantren, Diknas, Depag, SMK ini menjadi wadah bagi anak didik untuk mengembangkan kemampuannya dibidang keahlian umum, seperti Pemasaran, Perbengkelan, Konveksi dan Teknologi Informasi dan Kononikasi.
6. Tahfidhul Qur'an Pendidikan ini memfokuskan diri mendidik para santrinya secara spesifik(khusus) ingin memperdalam Ilmu Al-Qur'an dan menghafal Al-Qur'an 30 juz(Bilghoib). Pendidikan ini diharapkan mampu mencetak genersi Qur'ani yang senantiasa menjaga kemurnian Al-Qur'an.

Friday, July 4, 2014

SEJARAH PONDOK PESANTREN DI INDONESIA

A.   Sejarah Perkembangan Pesantren
Ada dua versi pendapat mengenai asal usul dan latar belakang berdirinya pesantren di Indonesia, yaitu:[1]
Pertama, pendapat yang menyebutkan bahwa pesantren berakar pada tradisi Islam sendiri, yaitu tarekat. Pesantren mempunyai kaitan yang erat dengan tempat pendidikan yang khas bagi kaum sufi. Pendapat ini berdasarkan fakta bahwa penyiaran Islam di Inonesia pada awalnya lebih banyak dikenal dalam bentuk kegiatan tarekat. Hal ini ditandai oleh terbentuknya kelompok organisasi tarekat yang melaksanakan amalan-amalan zikir dan wirid tertentu. Pemimpin tarekat yang disebut Kiai itu mewajibkan pengikutnya untuk melaksanakan suluk, selama empat puluh hari dalam satu tahun dengan cara tinggal bersama, sesama angota tarekat dalam sebuah masjid untuk melaksanakan ibadah-ibadah dibawah bimbingan Kiai. Untuk keperluan suluk ini para Kiai menyediakan ruangan khusus untuk penginapan dan tempat-tempat khusus yang terdapat di kiri kanan masjid. Disamping mengajarkan amalan-amalan tarekat, para pengikut itu juga diajarkan agama dalam berbagai cabang ilmu pengetahuaan agama Islam. Aktifitas yang dilakukan oleh pengikut-pengikut tarekat ini kemudian dinamakan pengajian. Dalam perkembangan selanjutnya lembaga pengajian ini tumbuh dan berkembang menjadi lembaga Pesantren .
Pendapat yang kedua adalah, pesantren yang kita kenal sekarang ini pada mulanya merupakan pengambil alihan dari sistem pesantren yang diadakan oleh orang-orang Hindu di Nusantara. Kesimpulan ini berdasarkan fakta bahwa jauh sebelum datangnya Islam ke Indonesia lembaga pesantren sudah ada di negri ini. Pendirian pesantren pada masa itu dimaksudkan sebagai tempat mengajarkan agama Hindu dan tempat membina kader. Anggapan lain mempercayai bahwa pesantren bukan berasal dari tradisi Islam alasannya adalah tidak ditemukannya lembaga pesantren di negara-negara Islam lainnya, sementara lembaga yang serupa dengan pesantern banyak ditemukan dalam masyarakat Hindu dan Budha, seperti di India, Myanmar dan Thailand.

Pesantren di Indonesia baru diketahui keberadaan dan perkembangannya setelah abad ke 16. Pesantren-pesantren besar yang mengajarkan berbagai kitab Islam klasik dalam bidang fikih, teologi dan tasawuf. Pesantren ini kemudan menjadi pusat pusat penyiaran Islam seperti; Syamsu Huda di Jembrana (Bali) Tebu Ireng di Jombang, Al Kariyah di Banten, Tengku Haji Hasan di Aceh, Tanjung Singgayang di Medan, Nahdatul Watan di Lombok, Asadiyah di Wajo (Sulawesi) dan Syekh Muhamad Arsyad Al-Banjar di Matapawa (Kalimantan Selatan) dan banyak lainnya.

Walaupun setiap pesantren mempunyai ciri yang khas, namun ada 5 prinsip dasar pendidikannya, yang tetap sama yaitu;
1.  Adanya hubungan yang akrab antara santri dan Kiai
2. Santri taat dan patuh kepada Kiainya, karena kebijaksanaan yang dimiliki oleh Kiai
3. Santri hidup secara mandiri dan sederhana
4.  Adanya semangat gotong royong dalam suasana penuh persaudaraan
5.  Para santri terlatih hidup berdisiplin dan tirakat.

B.   Pondok Pesantren Dahulu
Dalam catatan sejarah, Pondok Pesantren dikenal di Indonesia sejak zaman Walisongo. Ketika itu Sunan Ampel mendirikan sebuah padepokan di Ampel Surabaya dan menjadikannya pusat pendidikan di Jawa. Para santri yang berasal dari pulau Jawa datang untuk menuntut ilmu agama. Bahkan di antara para santri ada yang berasal dari Gowa dan Talo, Sulawesi.[2]
Pesantren Ampel merupakan cikal bakal berdirinya pesantren-pesantren di Tanah Air. Sebab para santri setelah menyelesaikan studinya merasa berkewajiban mengamalkan ilmunya di daerahnya masing-masing.
Kesederhanaan pesantren dahulu sangat terlihat, baik segi fisik bangunan, metode, bahan kajian dan perangkat belajar lainnya. Hal itu dilatarbelakangi kondisi masyarakat dan ekonomi yang ada pada waktu itu. Yang menjadi ciri khas dari lembaga ini adalah rasa keikhlasan yang dimiliki para santri dan sang Kyai. Hubungan mereka tidak hanya sekedar sebagai murid dan guru, tapi lebih seperti anak dan orang tua. Tidak heran bila santri merasa kerasan tinggal di pesantren walau dengan segala kesederhanaannya.
Bentuk keikhlasan itu terlihat dengan tidak dipungutnya sejumlah bayaran tertentu dari para santri, mereka bersama-sama bertani atau berdagang dan hasilnya dipergunakan untuk kebutuhan hidup mereka dan pembiayaan fisik lembaga, seperti lampu, bangku belajar, tinta, tikar dan lain sebagainya.
Materi yang dikaji adalah ilmu-ilmu agama, seperti fiqih, nahwu, tafsir, tauhid, hadist dan lain-lain. Biasanya mereka mempergunakan rujukan kitab turost atau yang dikenal dengan kitab kuning. Di antara kajian yang ada, materi nahwu dan fiqih mendapat porsi mayoritas. Ha litu karena mereka memandang bahwa ilmu nahwu adalah ilmu kunci.
Seseorang tidak dapat membaca kitab kuning bila belum menguasai nahwu. Sedangkan materi  fiqih karena dipandang sebagai ilmu yang banyak berhubungan dengan kebutuhan masyarakat (sosiologi). Tidak heran bila sebagian pakar meneybut sistem pendidikan Islam pada pesantren dahulu bersifat “fiqih orientied” atau “nahwu orientied”.
Masa pendidikan tidak tertentu, yaitu sesuai dengan keinginan santri atau keputusan sang Kyai bila dipandang santri telah cukup menempuh studi padanya. Biasanya sang Kyai menganjurkan santri tersebut untuk nyantri di tempat lain atau mengamalkan ilmunya di daerah masing-masing. Para santri yang tekun biasanya diberi “ijazah” dari sang Kyai.
Lokasi pesantren model dahulu tidaklah seperti yang ada kini. Ia lebih menyatu dengan masyarakat, tidak dibatasi pagar (komplek) dan para santri berbaur dengan masyarakat sekitar. Bentuk ini masih banyak ditemukan pada pesantren-pesantren kecil di desa-desa Banten, Madura dan sebagian Jawa Tengah dan Timur.
Pesantren dengan metode dan keadaan di atas kini telah mengalami reformasi, meski beberapa materi, metode dan sistem masih dipertahankan. Namun keadaan fisik bangunan dan masa studi telah terjadipembenahan.

C.   Pondok Pesantren Kini
Bentuk, sistem dan metode pesantren di Indonesia dapat dibagi kepada dua periodisasi; Periode Ampel (salaf) yang mencerminkan kesederhanaan secara komprehensif. Kedua, Periode Gontor yang mencerminkan kemodernan dalam sistem, metode dan fisik bangunan. Periodisasi ini tidak menafikan adanya pesantren sebelum munculnya Ampel dan Gontor.
Sebelum Ampel muncul, telah berdiri pesantren yang dibina oleh Syaikh Maulana Malik Ibrahim. Demikian juga halnya dengan Gontor, sebelumnya telah ada yang justru menjadi cikal bakal Gontor- pesantren Tawalib, Sumatera. Pembagian di atas didasarkan pada besarnya pengaruh kedua aliran dalam sejarah kepesantrenan di Indonesia.
Sifat kemodernan Gontor tidak hanya terletak pada bentuk penyampaian materi yang menyerupai sistem sekolah atau perkuliahan di perguruan tinggi, tapi juga pada gaya hidup. Hal ini tercermin dari pakaian santri dan gurunya yang mengenakan celana dan dasi. Berbeda dengan aliran Ampel yang sarungan dan sorogan.
Hal ini bisa dimaklumi, mengingat para Kyai salaf menekankan perasaan anti kolonial pada setiap santri dan masyarakat, hingga timbul fatwa bahwa memakai celana dan dasi hukumnya haram berdasarkan sebuah hadist yang berbunyi: “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum (golongan), maka dia termasuk golongan itu”.
Dalam hal ini, Gontor telah berani melangkah maju menuju perubahan yang saat itu masih dianggap tabu. Namun demikian bukan tidak beralasan. Penggunaan dasi dan celana yang diterapkan Gontor adalah untuk mendobrak mitos bahwa santri selalu terkebelakang dan ketinggalan zaman. Prinsip ini tercermin dengan masuknya materi bahasa inggris menjadi pelajaran utama setelah bahasa Arab dan agama, dengan tujuan agar santri dapat mengikuti perkembangan zaman dan mampu mewarnai masyarakat dengan segala perubahannya.
Beberapa reformasi dalam sistem pendidikan pesantren yang dilakukan Gontor antara lain dapat disimpulkan pada beberapa hal. Di antaranya: tidak bermazdhab, penerapan organisasi, sistem kepimimpinan sang Kyai yang tdak mengenal sistem waris dan keturunan, memasukkan materi umum dan bahasa Inggris, tidak mengenal bahasa daerah, penggunaan bahasa Arab dan Inggris-  sebagai bahasa pengantar dan percakapan, olah raga dengan segala cabangnya dan lain-lain. Oleh karena itu Gontor mempunayi empat prinsip, yaitu: berbudi tinggi, berbadan sehat, berpikiran bebas dan berpengetahuan luas.
Langkah-langkah reformasi yang dilakukan Gontor pada gilirannya melahirkan alumni-alumni yang dapat diandalkan, terbukti dengan duduknya para alumni Gontor di berbagai bidang, baik di instansi pemertintah maupun swasta. Bila mazdhab Ampel telah melahirkan para ulama, pejuang kemerdekaan  dan mereka yang  memenuhi kebutuhan lokal, maka Gontor telah memenuhi kebutuhan di segala sendi kehidupan di negeri ini. Atas dasar itu pula penulis membagi sejarah sistem pendidikan pesantren kepada dua pase; pase Ampel dan pase Gontor.
Satu persamaan yang dimilki dua madzhab ini adalah bahwa kedua-duanya tidak mengeluarkan ijazah negeri kepada alumninya, dengan keyakinan bahwa pengakuan masyarakatlah sebagai ijazahnya.
Langkah reformasi di atas tidak berarti Gontor lebih unggul di segala bidang, terbukti kemampuan membaca kitab kuning (turost) masih dikuasai alumni mazdhab Ampel dibanding alumni mazdhab Gontor.

D.   Pembaharuan di Bidang Furu’
Yang dimaksud perubahan di bidang furu’ di sini adalah beberapa perubahan pada beberapa bidang yang dilakukan sejumlah pondok pesantren yang berkiblat atau mengikuti Gontor. Seperti perubahan kurukulum dan aktifitas pesantren. Hal ini terjadi karena dipandang masih adanya beberapa kelemahan yang ditemukan pada Gontor. Atau karena adanya kebutuhan masyarakat di mana pesantren itu berada.
Untuk mengisi kekurangan di bidang penguasaan kitab kuning umpamanya, beberapa pesantren memasukkan kitab kuning sebagai sylabus, meskipun jam pelajarannya berada di luar waktu sekolah, seperti halnya yang dilakukan Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jakarta. Sistem kombinasi (perpaduan) mazdhab Gontor dan Salaf ini belakangan banyak diterapkan di tengah tumbuhnya pesantren-pesantren.
 Pengajaran kitab kuning pun tidak lagi menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar sebagaimana yang ditemukan pada pesantren Salaf, meskipun demikian metode pembacaannya (secara nahwu) masih mengikuti mazdhab Salaf, yaitu menggantikan “Utawi-Iku” dengan “Bermula-Itu” pada kedudukan mubtada  dan khobar.
Di sisi lain sejumlah pesantren mengikuti silabus Depag atau Depdikbud. Hal itu karena didorong tuntutan masyarakat yang menginginkan anaknya menggondol ijazah negeri setelah menyelesaikan studinya. Sebagai konsekwensinya, mau tidak mau beberapa materi yang terdapat pada Gontor dikurangi mengingat jatah kurikulum pemerintah tadi atau paling tidak beberapa jam pelajaran dibagi-bagi untuk memenuhi kurikulum tadi.
Sehingga bobot Gontornya sedikit berkurang.Namun demikian, langkah ini membantu para alumninya melanjutkan pendidikan di mana saja karena  adanya ijazah negeri. Bentuk terakhir ini kita dapatkan pada Pondok PesantrenDaarun Najah, Daarul Qolam dan pesantren-pesantren sekarang pada umumnya.

E.    Kebijakan Pemerintah dan Pendidikan
Pemerintah melalui Departemen Agama telah mengeluarkan kebijaksanaannya dalam pendidikan, yaitu dengan SK Menag tentang penyelenggaraan pendidikan agama. Maka berdirilah MI, Mts, Madrasah Aliyah dan IAIN dengan tujuan mencetak ulama yang dapat menjawab tantangan zaman dan memberi kesempatan kepada warga Indonesia yang mayoritas muslim mendalami ilmu agama.Ijazahnya pun telah disetarakan dengan pendidikan umum sesuai dengan SK bersama tiga menteri (Menag, Mendikbud, Mendagri). Dengan demikian lulusan madrasah disetarakan dengan lulusan sekolah umum negeri.
 Namun demikian, setelah berjalannya proses kebijakan tersebut, terbukti masih terdapat kelemahan-kelemahan, baik mutu pengajar, alumni (siswa) dan materinya, sehingga cita-cita  mencetak ulama yang handal kandas di tengah jalan. Halini terbukti masih dominannya lulusan pesantren dalam soal keagamaan.
Bahkan lulusan madrasah dapat dikatakan serba tanggung, menjadi seorang profesional pun tidak, ulama pun tidak, Tidak heran bila banyak suara sumbang dan kritikan tajam bahwa SK bersama tiga menteri di atas hanya sebuah upaya pengikisan Islam dan keilmuannya melalui jalur pendidikan. Sehingga pada waktunya nanti Indonesia akan mengalami kelangkaan ulama. Ini terbukti dengan menjauhnya masyarakat dari madrasah. Mereka lebih bangga menyekolahkan anak-anaknya di sekolah-sekolah umum.
Alasannya sederhana, lulusan madrasah sulit mencari pekerjaan dibanding lulusan sekolah umum, walaupun pendapat ini tidak seluruhnya benar, tapi demikianlah yang kini berkembang di masyarakat.Lebih ironi lagi, pemerintah melarang alumni pondok pesantren non kurikulum pemerintah untuk masuk IAIN. Alasannya karena mereka tidak memiliki ijazah negeri atau karena ijazah pesantrennya tidak disetarakan dengan ijazah negeri.
Akibatnya IAIN hanya diisi oleh lulusan-lulusan madrasah dan sekolah umum yang note bone mutu pendidikan agamanya sangat minim. Padahal di tengah-tengah suasana globalisasi dan keterbukaan, kwalitaslah yang menjadi acuan, bukan formalitas.
Fenomena di atas membuat beberapa pesantren mengadakan ujian persamaan negara dan mengadopsi kurikulum pemerintah. Dan tentu saja segala konsekwensi yang telah disebut di atas akan terjadi. Di samping karena hal itu menjadi tuntutan masyarakat.

F.    Pendidikan Islam Alternatif
Beberpa studi empiris tentang pendidikan Islam di Indoensia menyimpulkan masih terdapatnya beberapa kelemahan. Karena itu kini banyak ditemukan beberapa lembaga pendidikan alternatif yang mengakomodir berbagai tuntutan dan kebutuhan masyarakat.
Sekolah-sekolah unggulan, SMP Plus, SMU Terpadu yang kini banyak berdiri merupakan respon dari fenomena di atas. Tidak jarang kini ditemukan SMP atau SMU yang berasrama seperti halnya pondok pesantren. Dipergunakannya nama “SMP” dan “SMU” di atas hanya lebih karena dorongan kebutuhan market (pasar). Sebab, nama pondok pesantren pada sebagian masyarakat masih dianggap kolot dan ketinggalan zaman.

Bentuk pendidikan ini dilengkapi dengan kurikulum yang tidak kalah dengan yang terdapat pada pesantren dan sekolah umum. Terbukti adanya sejumlah sekolah ini yang melahirkan “Huffadz” (penghafal al-Quran) padahal lahir dari sebuah SMP atau SMA.
Di sisi lain, bentuk lembaga ini merindukan pudarnya dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum agar integritas keduanya berjalan bersama-sama sebagaimana yang pernah ditemukan dunia Islam masa silam. Inilah mungkin yang pernah diungkapkan oleh KH. Zainuddin MZ sebagai “Hati Mekkah, Otak Jerman”. Walaupun semboyan ini tidak seluruhnya benar. Soalnya, pendidikan Islam harus bersemboyan “Hati, Otak dan jiwa harus Islami”, dan ini telah terbukti dengan lahirnya ilmuwan-ilmuuwan Islam di zaman keemasan.
Kegiatan belajar-mengajar di lembaga ini sama dengan pesantren, Ia juga mempunyai nilai plus yang tidak didapatkan di sekolah umum biasa. Untuk menghasilkan alumi yang handal, lembaga ini menyaring calon siswanya-  dengan ujian masuk yang ketat. Kemampuan IQ dan intelejensi menjadi prioritas dalam menerima para siswa. Fasilitas yang memadai menjadi daya tarik minat masyarakat walau harus membayar dengan harga tinggi. Hal ini seiring dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Bahkan sebagian lapisan masyarakat merasa bangga dengan bayaran tinggi karena sesuai dengan mutu dan fasilitas.
Apakah bentuk pendidikan ini telah berhasil dan dianggap sukses?.  Belum tentu, selain belum lahirnya para alumni model ini, sistem pendidikan akan terus berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat dan zaman. Bahkan kemungkinan bentuk terakhir ini tidak mampu berjalan selama kurun satu atau dua dasawarsa ke depan.


A.  Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa lembaga-lembaga pendidikan Islam, khususnya pesantren telah banyak memberikan andil bagi bangsa Indoneisa, baik dahulu maupun kini. Kehandalan pondok pesantren selama berabad-abad, walau dengan segala kesederhanaannya masih menjadi harapan umat Islam sebagai benteng satu-satunya bagi umat Islam dan kelimiahannya.
Walau bagaimana tangguhnya sebuah pesantren ia harus tetap belajar dengan lingkungan sekitarnya sambil melestarikan identitas keislamannya. Sistem fiqih orientied yang diterapkan pada masa Ampel misalnya, pada zaman kini dirasa kurang berhasil melahirkan alumni yang iltizam dengan agamanya, terbukti adanya sebagian santri setelah lulus dari pesantrennya kurang mengamalkan ajaran agamanya.
Oleh karena itu perlu adanya upaya memberi materi Islam secara kaffah, kamil dan mutakamil. Sehingga pemahaman dan sikapnya terhadap Islam pun bersifat komprehensif, dan tidak sepenggal-penggal.
Keanekaragaman lembaga pendidikan Islam merupakan khazanah yang perlu dilestarikan. Setiap lembaga mempunyai ciri khas dan orientasi masing-masing, namun demikian harus ada satu komitmen, yaitu memberi pemahaman Islam secara kaffah demi izzul Islam wal muslimin. Wallahu’alam

B.  Keritik serta Saran
Penulis menyadari betapa belum sempurnanya makalah ini. Karena itulah penulis mengharapkan kritik serta saran dari para pembaca yang budiman, sekiranya menemukan kesalahan serta kealpaan, baik dari segi penulisannya maupun dari segi kebahasaannya.
Terlepas dari kekurangan-kekurangan makalah ini, penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan menjadi amal shaleh bagi penulis. Amiin yaa Rabbal’alamin.

DAFTAR PUSTAKA


Jamhuri, Muhammad.1990.Sejarah dan Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia. Tangerang: Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Asy-Syukriyyah.

Siregar, Suryadi. 1996. Pondok Pesantren Sebagai Model Pendidikan Tinggi. Bandung:  Kampus STMIK Bandung.




[1] Dr. Suryadi Siregar DEA, Pondok Pesantren Sebagai Model Pendidikan Tinggi, (Bandung:Kampus STMIK Bandung, 1996), halaman 2-4.


[2]H. Muhammad Jamhuri, Lc. MA,Sejarah dan Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia,(Tangerang: Sekolah Tinggi Agama Islam Asy-Syukriyyah,1990), halaman 1.

Saturday, June 14, 2014

SANTRI

A. PRILAKU TERHADAP ORANG TUA DAN GURU
Guru dan orang tua adalah merupkan sarana dan prasarana/jalan menuju keberhasilan santri, karena guru adalah sebagai pembina, pembimbing serta mengarahkan jiwa kejalan yang benar dan sebagai kunci keberhasilan untuk meraih cita-cita yang mulia disisi tuhannya dan masyarakat setempat dan juga agar santri mendapatkan derajat yang tinggi dan kebahagiaan dunia akhirat.
maka kita sebagai santri harus mematuhi terhadap orang tua selagi tidak memerintah kepada kejelekan dan keburukan yang melanggar Syari'at Islam.
1. Tidak boleh menghardik orang tua apalagi memukul orang tua
2. Berkata jujur dan lemah lembut kepada orang tua dan guru.
3. Mendo'akan orang tua dan guru dunia dan akhirat

B . PRILAKU TERHADAP TEMEN
1. Memberi bantuan materi kepada teman yang memerlukan, memberikan bantuan moral dengan cara menasehati, mengingatkan teman yang salah, membantu menyelesaikan masalah yang dihadapinya serta menjenguk ketika sakit, serta mendoa'akan untuk kesembuhannya,
2. Berperilaku sopan, tersenyum dan berjabat tangan
3. Menjaga kehormatan  dan nama baiknya dengan tidak menggunjingnya atau menyebarluaskan rahasianya
4. Memelihara lisan terhadapnya, memanggil dengan panggilan yang indah (tidak memanggil sebutan atau julukan buruk), tidak menyinggung perasaanya, aplagi menyinggung hatinya.
5.  Memaafkan kekhilafannya, memeklumi kekurangannya, berlapang dengan kesalahan yang dibuatnya.
6. Tidak membebani dengan suatu pekerjaan, tidak menambah kesulitan. Bahkan membantu meringankan beban dan menyelesaikan masalahnya.
7. Mendoakannya disaat bertemu dan berpisah, ucapkan selamat dalam berbagai kesempatan, memberi kesan-kesan baik saat berpisah, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

C. ADAB TERHADAP ORANG YANG LEBIH TUA DAN LEBIH MUDA
1. Menghormati orang yang lebih tua/dewasa, manghargai pendapatnya, memperlihatkan pembicaraanya, tidak melupakan jasa baiknya.
2. Menyayangi yang lebih muda/anak-anak, menghargai perasaanya, menampilkan akhlak yang mulia dihadapannya, memuliakan pendapatnya.

GEDUNG PONDOK PESANTREN AL-INAYAH

Masjid Al-Inayah

Asrama Putri

Ruang Guru

Tampak dari Luar Pesantren Al-inayah

SMK & MTs

RA,

Kantor Sekolah

Kantor Pesantren

Ruang Poskestren

RA

Asrama Putra 1

Asrama Putra 2

Asrama Putra 3

Asrama Putri 1

Asrama Putri 2

Majalah Dinding al-Inayah

Asrama Putri 3











Wednesday, June 11, 2014

GALERI KEGIATAN

GROUP QOSIDAH MODERN AL-INAYAH

DRUMBAND AL-INAYAH

WISUDA SANTRI AL-INAYAH

WISUDA TK AL-INAYAH

BAZAR NASIONAL MEWAKILI JAMBI

PAGAR NUSA AL-INAYAH

KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR AL-INAYAH

AGRIBISNIS AL-INAYAH

PRESTASI AL-INAYAH

KEGIATAN HARIAN SANTRI AL-INAYAH

04.30-04.45 Bangun malam untuk shalat malam

04.45-05.15 Shalat subuh berjama'ah

05.15-06.15 Ngaji pagi ba'dha Subuh

06.15-07.00 Piket lingkungan Pondok

07.00-07.30 Shalat duha berjama'ah

07.30-08.00 Persiapan sekolah Pagi(Umum)

08.00-09.30 Masuk sekolah pagi (TK, SD, MTs,SMK)

09.30-10.00 Istirahat

10.00-12.00 Masuk sekolah

12.00-12.30 Shalat dhuhur

12.30-14.30 Istirahat siang

14.30- 15.30 Ngaji diniyah

15.30-16.00 Shalat ashar berjama'ah

16.00-17.00 Masuk kelas diniyah

17.00-18.15 Istirahat, Olahraga, Mandi, Makan sore

18.15-18.45 Shalat Maghrib berjama'ah dan Istighasah

18.45-19.30 Masuk kelas ngaji malam

19.30-20.00 Shalat Isyak berjama'ah dan Mujahadah

20.00-21.00 Ngaji Tafsir Alqur'an kepada pengasuh

21.00-22.00 Masuk kelas Ngaji Malam dan takror

22.00-22.30 Program Lima Belas Menit( Menghafal Mufrodhat arab, english dan surat2 pendek).

22.30-04.30 Istirahat malam.