Wednesday, August 29, 2018

Hukum melaksanakan shalat jamak dan qosor di rumah sebelum perjalanan (Musafir)

Setelah menikmati lebaran di kampong halaman kang Zainal yang dulunya notabeninya adalah seorang santri ingin ke Jakarta untuk mengais rizqi setelah dhuhur rencananya ia mau berangkat dari rumah kemudian saat adzan dhuhur dikumandangkan ia berfikir, jika ia berangkat setelah dhuhur maka ia akan sampai ke Jakarta setelah masuk waktu shalat maghrib dan jika segera berangkat dan melakukan shalat dhuhur sekaligus ashar maka ia harus memutus rute perjalanan padahal kadang bus tidak berhenti di jalan dan teus melaju tidak mengenal waktu shalat dengan secara terpaksa shalat tidak akan dikerjakan dan shalat menjadi bolong dan sia sia.

Shalat jamak disaat bepergian atau perjalanan
Maka untuk mengatasi hal tersebut Zainal mempunyai solusi dan berfikir mengerjakan shalat jamak di rumah mengingat hal ini juga dilakukan untuk safar atau perjalanan akan tetapi dilakukan sebelum berangkat dan setelah persiapan perjalan.

Baca : Suami meng –qodlo’ puasa sang istri

Maka timbullah pertanyaan adakah pendapat yang memperbolehkan melakukan jamak atau qosor di rumah ketika hendak melakukan perjalanan jauh dan apakah ada pendapat yang memperbolehkkan jamak atau qosor ketika sampai di tempat tujuan.?

Dalamsebuah kitab Al-Majmuk syarhil Muhadzdzab jus 4 shahifah 228 Maktabah Matbail Muniriyah menerangkan sebagai berikut :

فرع : في مذاهب العلماء ذكرنا أن مذهبنا أنه إذا فارق بنيان البلد قصر, ولا يقصر قبل مفارقتها وإن فارق منزله وبهذا قال مالك وأبوحنيفة وأحمد وجماهر العلماء وحكى إبن المنذر عن الحارث بن أبي ربيعة أنه أراد سفرا فصلى بهم ركعتين في منزيله , وفيه الاسود بن يزيد وغير واحد من أصحاب ابن مسعود قال : وروينا معناه عن عطاء وسليمان بن موسى قال: وقال مجاهد : لايقصر المسافر نهارا حتى يدخل لليل , قال إبن منذر : لانعلم أحدا وافقه وحكى القاضي أبو الطيب وغيره عن مجاهد أنه قال إن خرج بالنهار لم يقصر حتى يدخل لليل وغن خرج بالليل لم يقصر حتى يدخل النهار وعن عطاء أنه قال إذا جاوز حيطان داره فله القصر فهذان المذهبان فاسدان فمذهب مجاهد منابد للأحاديث الصحيحة في قصر النبي صلى الله عليه وسلم بذالخليفة حين خرج من المدينة ومذهب عطاء وموافقيه منابذ لاسم السفر. اهـ

  Keterangan : Telah saya sebutkan di atas keterangan dari beberapa madzhab ulamak sesungguhnya menurut madzhab kita (|Asysyafi’iyyah), jika musafir telah melewati (berpisah) dari bangunan-bangunan kotanya, maka ia diperbolehkan melaksanakan qosor shalat,, dan tidak diperbolehkan melaksanakan qosor shalat sebelum ia melewatinya sekalipun ia telah keluar dari rumah tempat tinggalnya. Imam Abu Hanifah , Ahmad serta segolongan besar Ulamak jugak berpendapat dengan pendapat tersebut.

Baca: Hukum memakai minyak wangi yang beralkohol

Dan Imam Al-Mundzir telah meriwayatkan pendapat dari al-Haris bin Ali Rubai’ah bahwasanya apabila seorang menghendaki bepergian maka boleh baginya melaksanakan sahalat qosor dua roka’at dirumahnya dan pendapat ini jugak dikuatkan oleh al-Aswad bin Yazid  dan ulamak lain dari ashab (santrinya) Ibnu Mas’ud dan Ibnu Mundzir berkata kami telah meriwayatkan makna atau maksud dari kandungan di atas dari Atho’ dan Sulaiman bin Musa ia berkata saya tidak mengetahui satu pun ulamak yang sependapat.

Al-Qodli Abu Thoyyib dan ulamak lainnya menceritakan dari Mujahid bahwasanya ia berkata “ apabila seorang pergi pada siang hari maka ia tidak diperbolehkan meng - qosor shalat sehingga ia masuk pada waktu malam hari dan apabila ia pergi pada malam hari maka ia tidak diperbolehkan meng - qosor shalat sehingga ia masuk kepada siang hari. Dan dari Atho’ “sesungguhnya ia berkata, Apabila seseorang telah melewati pagar rumah temboknya maka baginya diperbolehkakn meng-qosor shalat “ kedua madzhab itu hukumnya fasid atau rusak. Adapun madzhab mujahid itu bertentangan dengan hadits shahih yang telah menjelaskan meng-qosornya nabi swa di kota Dzul Hulaifah ketika beliau pergi dari kota madinah. Sedangkan Madzhab Atho’ dan sesamanya itu bertentangan dengan sebuah nama bepergian.

Dalam kitab Majmuk Jus 4 shahifah 384 Maktabah Matba’ah al-Muniriyah menjelaskan:

  فرع : في مذاهبهم في الجمع في الحضر بلا خوف , ولا سفر , ولا مطر , ولامرض : مذهبنا ومذهب ابي حنيفة ومالك وأحمد والجمهور : أنه لايجوز ز وحكى إبن المنذر عن طائفة جوازه بلا سبب قال وجوزه ابن سير ين لحاجة أولم يتخذه عادة. اهـ

Keterangan : cabang menurut madzhab mereka , dalam masalah melaksanakan shalat jamak ditempat tinggalya hukumnya diperbolehkan sekalipun dengan tanpa adanya khouf / rasa takut tidak bepergian atau tidak dalam kondisi hujan.sedangkan menurut madzhab kita (syafi’iyyah), malik, ahmad serta jumhurul ulamak bahwasanya si musafir tidak diperbolehkan menjamak shalatnya Ibnu mundzir telah menceritakan pendapat di atas dari Tho’ifah (golongan kecil dari ulamak) yang memperbolehkan melaksanakan shalat qosor ditempat tinggalnya (di rumah) sekalipun dengan tanpa adanya sebab. Dan Ibnu al-Mundzir berkata, menurut Ibnu sirin memperbolehkan menjamaknya jika ada hajat atau ia tidak mendadikan adzat kebiasaan.

Baca : Hukum ayam yang disembelih DAN dimasukkan ke dalam bejana yang berisi air panas.

Dalam kitab Rahmatul Ummah shahifah 40 menerangkan :

فصل: ولا يجوز الجمع للمرض والخوف على ظاهر مذهب الشافعي وقال أحمد بجوازه وهو وجه إختاره المتاخرون من أصحاب الشافعي قال النواوي في شرح المهذب وهذا الوجه قوي جدا وعن ابن سرين أنه يجوز الجمع من غير خوف ولامرض لحاجة مالم يتخذه عادة واختار إين المنذر جواز الجمع في الحضر من غير خوف ولامرض ولامطر.اهـ

 Keteangan : fasal, hukumnya tidak boleh melaksanakan jamak dikarenakan sakit, rasa takut menurut dzahirnya  madzhab syafi’I sedangkan menurut Ahmad Hukumnya diperbolehkan . ini adalah pendapat yang dipilih oleh ulamak Mutaakhkhirin dari ashab  imam syafi’i.

Imam an-Nawawi berkata dalam kitab Syarah Al-Muhadzdzab, ini adalah pendapat yang sangat kuat dan dari ibnu sirin jugak berkata , boleh hukumnya melaksanakan shalat jamak dengan tanpa adanya sebab rasa takut atau tidak sakit jika ada hajat dan tidak menjadikannya sebagai adat kebiasaan.
Dan Ibn al-Mundzir memilih memperbolehkan melaksanakan shalat jamak ditempat tinggalnya sekalipun tanpa rasa takut tidak sakit serta tidak dalam kondisi hujan.

Baca : Bagaiman hukum minum Obat untuk menunda haid pada bulan ramadhan.

kesimpulan dari ibaroh di atas adalah, ada pendapat yang memperbolehkan melakukan jamak sedangkan untuk qosor shalat ada qoul yang memperbolehkan namun qoul ini dianggap fasid(rusak) sementara untuk jamak jugak ada sebagaimana pendapat yang di riwayatkan oleh Ibnu Mundzir dari sekelompok ulamak.

Demikina semoga bermanfaat dan apabila anda suka dengan artikel ini dukung dengan cara share dan like (al-Inaya)